Bismillah
Assalamualaikum
Bila anda seorang muallaf itu berarti bahwa agama anda dahulu bukan Islam. Dimasa anda masih kafir, pernahkah anda berfikir atau bertanya tentang apa pentingnya kehidupan beragama itu.
Andai seseorang memilih untuk tidak beragama, lalu adakah konsekuensi hukum baginya?, toh hal ini adalah hak asasi yang tidak patut dipersoalkan..
Sesungguhnya tidak pantas bagi seorang manusia mengingkari keberadaan Tuhan, sebab Allah Subhanahu Wata’ala telah sematkan kedalam jiwanya apa yg disebut dg Fitrrah Ilahiyah yaitu kecenderungan kembali kepada Tuhan.
Dengan Fitrrah Ilahiyah inilah maka manusia punya kecenderungan mencari Tuhan, memohon kepadaNya, berharap kepadaNya, bergantung kepadaNya, dst.
Alloh Subhanahu Wata’ala menceritakan keadaan orang yg mengingkari Tuhan disaat terjepit dlm firmanNya, Yūnus : 22-23
هُوَ الَّذِي يُسَيِّرُكُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا كُنْتُمْ فِي الْفُلْكِ وَجَرَيْنَ بِهِمْ بِرِيحٍ طَيِّبَةٍ وَفَرِحُوا بِهَا جَاءَتْهَا رِيحٌ عَاصِفٌ وَجَاءَهُمُ الْمَوْجُ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ أُحِيطَ بِهِمْ ۙ دَعَوُا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ لَئِنْ أَنْجَيْتَنَا مِنْ هَٰذِهِ لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
فَلَمَّا أَنْجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِكُمْ ۖ مَتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ فَنُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dialah (Allah) yang menjadikan kamu dapat berjalan di daratan (dan berlayar) di lautan sehingga ketika kamu berada di dalam kapal, lalu meluncurlah (kapal) itu membawa mereka dengan tiupan angin yang baik dan mereka bergembira karenanya. Kemudian, datanglah badai dan gelombang menimpanya dari segenap penjuru dan mereka pun mengira telah terkepung (bahaya). Maka, mereka berdoa dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya (seraya berkata), “Sekiranya Engkau menyelamatkan kami dari (bahaya) ini, pasti kami termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Namun, ketika Allah menyelamatkan mereka, seketika itu mereka berbuat kezaliman di bumi tanpa (alasan) yang benar. Wahai manusia, sesungguhnya (bahaya) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri. (Itu hanya) kenikmatan hidup duniawi. Kemudian, kepada Kamilah kembalimu, lalu akan Kami kabarkan kepadamu apa yang selama ini kamu kerjakan.
Manusia terlahir dalam keadaan dholuman jahulan, dholim dan jahil, dia tidak dapat mengerti tentang sesuatu melainkan setelah diajarkan kepadanya, maka terkadang mendapatkan pengajaran yang benar dan terkadang keliru, Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam menegaskan bahwa manusia sesungguhnya dilahirkan diatas fitrah, dan orang tuanyalah yg kemudian menjadikannya Yahudi atau Nasrani.
Artinya bahwa manusia terlahir dalam keadaan sudah punya kecenderungan kepada Tuhan, kecenderungan mencari Tuhan, mengenal Tuhan, beribadah kepada Tuhan.
Namun sayang, ketika ia mendapatkan pengajaran yg keliru maka ia akan terjerumus menyembah Tuhan secara tidak benar.
Sungguh ironi bagi mereka yg tidak mengenal Tuhan secara benar, mereka terjerumus dalam kesesatan yang jauh, terlebih lagi jika mereka dihinggapi fanatisme dan sentimen keagamaan yang sempit, memandang rendah orang lain yg berbeda dengan dirinya dg segala keyakinannya.
Mereka inilah yang disebut orang kafir, karena hati dan pikirannya masih tertutup dari kebenaran.
Sebaliknya Sungguh beruntung buat mereka yg telah dipilih oleh Allah Subhanahu Wata’ala, dilapangkan hatinya untuk masuk Islam, Allah Subhanahu Wata’ala menggambarkan hal ini dg FirmanNya Al-An’ām : 125
فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ
Siapa yang Allah kehendaki mendapat hidayah, Dia akan melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Siapa yang Dia kehendaki menjadi sesat, Dia akan menjadikan dadanya sempit dan sesak seakan-akan dia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan penyakit kepada orang-orang yang tidak beriman.
Dan berfirman Al-Mā’idah : 41
يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوبُهُمْ ۛ وَمِنَ الَّذِينَ هَادُوا ۛ سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ يَأْتُوكَ ۖ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِنْ بَعْدِ مَوَاضِعِهِ ۖ يَقُولُونَ إِنْ أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِنْ لَمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا ۚ وَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Wahai Rasul, janganlah engkau disedihkan oleh orang-orang yang bersegera menuju kekafiran, dari mereka yang mengatakan dengan mulut mereka, “Kami telah beriman,” padahal hati mereka belum beriman.
Juga sebagian orang Yahudi. Mereka yang suka mendengar darimu untuk didustakan, mendengar untuk disampaikan kepada orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah firman-firman Allah setelah berada di tempat-tempatnya, Mereka mengatakan, “Jika ini yang diberikan kepada kamu, terimalah. Jika kamu diberi yang bukan ini, hati-hatilah.”
Barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, maka sekali-kali engkau tidak akan mampu menolaknya dari Allah sedikitpun. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang sangat berat.
Wallahul musta’an.