https://rijaluddin.family.blog/2022/01/21/alhidayah-hidayatan/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/21/fitrah-ilahiyah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/21/nabi-dan-rasul/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/22/ketaatan-yg-salah-tempat/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/22/harapan-islam-di-pundakmu/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/22/hakikat-mati/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/22/klaim-ahlussunnah-waljamaah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/23/kehidupan-islami/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/23/makna-islam/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/23/tauhid-rububiyah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/23/tauhid-uluhiyah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/23/24/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/32/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/kerancuan-tauhid-asma-washifat/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/tauhid-mulkiyah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/asmaul-husna/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/syirik-besar-bagian-2/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/syirik-besar-bagian-1/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/syirik-besar-bagian-4/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/syirik-besar-bagian-3/
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/28/ttg-niat/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/01/syirik-besar-bagian-6/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/01/syirik-besar-bagian-5/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/01/hizby-dan-ashoby/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/loyal-kepada-org-kafir/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/01/syirik-besar-bagian-7/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/01/syirik-besar-bagian-10/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/berlebihan-dlm-cinta-rasul/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/fattan-pelaku-fitnah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/menyerupai-org-kafir/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/dalam-sistem-thogut/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/dalam-belenggu-kepalsuan/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/hidup-mewah/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/thogut/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/berbicara-agama-tanpa-ilmu/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/durhaka-kepada-rasul/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/ghuluw-terhadap-sahabat/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/mentaati-thogut/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/abdi-thogut/
https://rijaluddin.family.blog/2022/02/20/tahrifat/
Hakikat Mati
Bismillah..
Hai brother, assalamu alaikum, apa kabar nih, semoga baik-baik aja.
Begini bro, aku hanya ingin mengingatkan satu hal.
Broo…keselamatan diakhirat itu bukanlah untung- untungan bukan pula taruhan, melainkan harga mati, jadi jangan pernah engkau berjudi dengan hidupmu.
Almahdy
Pernahkah kamu merasakan dibakar api ? kalau belum cobalah untuk merasakannya, cobalah dekatkan ujung jarimu ke api dan cobalah bertahan selama beberapa detik, agar engkau tahu betapa sakitnya..
Lalu bayangkan bila dirimu dilemparkan kedalam api neraka, sedang engkau tak dapat menebus diri walau memiliki harta sepenuh bumi dua kali, dua kali bro..!,
Saat itu, engkau tak peduli lagi dengan orang tua, sahabat, istri dan anak-anakmu, bahkan saat itu engkau berangan-angan seandainya bisa menjadikan mereka tebusan, atau menjadikan mereka menggantikan dirimu didalam api, bayangkan bro..
betapa sakitnya, betapa menderitanya.
Kematian, jangan pernah engkau sangka sebagai akhir dari segalanya, bahkan dia adalah awal dari segalanya, awal dari segalanya broo..!
Mungkin engkau pernah berfikir bila kematian akan mengakhiri deritamu, atau akan menyelesaikan masalahmu, tidak, sekali lagi tidak bro, bahkan kematian itu mengerikan, iii..mengerikan..!!.
Bayangkan, ketika tubuhmu diletakkan di liang lahat, lalu orang-orangpun pergi meninggalkanmu seorang diri, mulailah binatang itu mendekati tubuhmu, belum lagi yang berasal dari dalam perutmu, mereka berlomba menggigit tubuhmu, menghisap cairanmu, mengoyak perutmu, mencungkil matamu, mencabit-cabit dagingmu, ooow…, betapa sakit, betapa mengerikan..
Belum lagi dengan adzab kubur yang dijanjikan dan martil malaikat Mungkar dan Nakir jika engkau termasuk orang celaka, sungguh ini bukan main-main.
Tahukah kamu, bila dalam tubuh kita tidak hanya mengandung satu roh melainkan banyak, bila tidak percaya baca aja disini (annur 24, yasin 65) dan disini (al isra 36).
Orang tidur dan orang mati itu sama-sama dikatakan wafat dalam alqur’an, bila tidak percaya baca aja disini (azzumar 42),
sama-sama dicabut rohnya, tapi lain roh yang dicabut saat tidur, dan lain pula saat mati, artinya tidak semua roh itu dicabut ada yang dicabut dan ada yang tetap dibiarkan berada ditubuh kita,
Begitupula saat kita didalam kubur ada sebagian dari roh yang telah dicabut dikembalikan lagi ketubuh kita, diantaranya seperti roh yang mengendalikan pendengaran, penglihatan, akal, indra peraba dan perasa.
Lalu bagaimana dengan roh yang mengendalikan aktifitas tubuh, apakah dikembalikan..? pikirin aja sendiri bro.., karena dengan berfikir engkau akan tahu betapa mengerikannya kehidupan di alam kubur, karena itu jangan sekali-kali engkau berjudi dengan hidupmu..
Percayalah bro, kalau nggak percaya silakan aja berjudi tapi yakin engkau takkan pernah keluar sebagai pemenang, seriuss..?! yaa, tentu saja aku serius mengingatkanmu, tujuanku Cuma satu “AGAR MATI TAK SIA-SIA”
Satukan hati bersama ALMAHDY
Post berikutnya ⏬⏬⏬
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/22/ketaatan-yg-salah-tempat/
HIJRAH, Jangan Berontak
Bismillah
Assalamualaikum
Sahabat pembaca, dalam beberapa artikel sebelum ini kami telah terangkan ttg prinsip kaum muslimin dalam bermuamalah dg penguasa thagut, nah untuk melengkapi khasanah dan wawasan anda maka jangan sampai artikel kali ini terlewatkan.
Ketahuilah sesungguhnya agama Islam adalah agama hikmah, agama yang mengedepankan kelembutan dan kasih sayang, agama yang memperjuangkan kedamaian, persatuan dan persaudaraan sambil memerangi fitnah, perpecahan dan kekacauan, Ini adalah minhaj yang jelas dan prinsip paling dasar dalam agama ini, Karena itu sepatutnya kita nyatakan berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dari minhaj ini, baik dalam lafadh dan ungkapan, apalagi dalam sikap, perbuatan dan prinsip.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Tidak pantas orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, maka tidak ada (hubungan dengan) Allah sedikitpun, kecuali takut dari sesuatu yang pantas kamu takuti dari mereka. Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya kepada Allah tempat kembali.
Kalimat “kecuali takut pada mereka dengan sesuatu yg pantas ditakuti” Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala memberikan rukhshoh kepada kaum mu’minin untuk mentaati pemimpin thogut apabila ada kekhawatiran padanya dari bahayanya, kedholiman, arogansi, atau yg lainnya.
Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak menjalankan petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Dan akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “
Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpin, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim).
Dan bersabda:
“Akan berkuasa atas kalian banyak pemimpin-pemimpin lalu kalian kenal mereka dan kalian ingkari, maka siapa yang benci dia telah berlepas diri, dan siapa yang mengingkari diapun telah selamat, tapi siapa yang Ridho dan ikut (dialah binasa bersama mereka), para sahabat bertanya, “apakah kita tidak memerangi mereka?” dijawab, “tidak, selama mereka sholat” (Muslim 3445).
Andaipun penguasa itu telah jelas kafirnya lalu diiringi dengan perbuatan dholim terhadap kaum muslimin, maka memberontak padanya bukanlah jalan yang dibenarkan bahkan bukan dari agama sedikitpun. Tetapi jalan yang dituntunkan dalam Alqur’an dan sunnah adalah hijrah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Ibrāhim : 45
وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ
(Bukankah) kamu pun dulu tinggal di tempat kediaman orang-orang yang menzalimi diri sendiri dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan (pula) kepadamu beberapa perumpamaan?”
Sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Sekali-kali tipu daya mereka tidak akan mampu melenyapkan gunung-gunung.
Dan berfirman,An-Nisā : 75
وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا
“mengapa kalian tidak berperang dijalan Allah sedang orang-orang lemah dari laki-laki, wanita dan anak-anak sudah pada berdo’a, “wahai Rabb kami keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dholim, dan jadikanlah bagi kami pemimpin dan jadikanlah bagi kami penolong” (annisa 75).
Kedua ayat ini memberi faedah bahwa orang-orang yang punya kemampuan dituntunkan hijrah dari negeri yang dholim atau kafir, sedang orang yang lemah dan tidak punya kemampuan dituntunkan berdoa kepada Allah agar memberi kemampuan untuk keluar dari negeri dholim itu kenegeri yang aman, atau dari negeri kafir kenegeri muslim.
Maka syariat hijrah ini berlaku bagi semua kalangan, orang yang lemah dan yang kuat, lelaki dan wanita, anak-anak dan orang tua, tak satupun dari mereka yang dikecualikan. Hanya saja Allah maha pemaaf bagi orang-orang yang memang tidak punya kemampuan dan penuntun.
Adapun hadist yang sering dilangsir orang-orang dalam melegalkan pemberontakan, yaitu, “kecuali bila kalian melihat kekafiran nyata yang kalian punya bukti disisi Allah” (muttafaq alaih). Kalimat ini adalah penggalan dari hadist Ubadah Bin Asshomit Gafarahullah yang menerangkan isi baiat aqobah pertama.
Sesungguhnya penggalan kalimat ini tidak dapat dikatakan shohih dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam walaupun diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebab penggalan yang tergolong ganjil karena menyelisihi riwayat-riwayat yang masyhur.
Hadist Ubadah bin Asshomit Gafarahullah yang mengisahkan baiat aqobah pertama cukup banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadist sehingga termasuk dalam daftar hadist-hadist masyhur, namun pada umumnya tanpa penggalan ini, contohnya pada Bukhary 6660, Muslim 3426, Annasaai 4080-4084, Ibnu Majah 2857, dan masih banyak lagi ditempat-tempat yang lain.
Karena itu Sofyan bin Uyainah Gafarahullah ketika mendapati hadist-hadist ini sampai padanya tanpa tambahan ini, iapun berkata, “sebagian manusia menambahkan lafadh, “kecuali melihat kekafiran yang nyata” (Ahmad 21623), ini mengisyaratkan bahwa tambahan ini meragukan atau tidak shahih.
wallahul musta’an.
TAQLID BUTA
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 24
Menyandarkan agama pada perkataan orang-orang yang tidak direkomendasikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, atau Taqlid buta inilah sesungguhnya kesalahan terbesar ummat Islam jaman ini, mereka begitu percaya kepada ustadz dan ulama yg mereka idolakan, akibatnya sulit mengajak mereka kepada pandangan yg dianggap baru yg dibawa oleh mujaddid (pembaharu) jaman ini yg diutus oleh Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu Almahdy.
Sementara disisi lain, ustadz dan ulama jaman ini malah menyandarkan agama atau Taqlid kepada para pendahulu mereka yg dianggap sholeh.
Padahal prilaku seperti ini persis sama dengan prilaku para penentang Rasul dimasa yg lalu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Az-Zukhruf : 23
وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ
Demikian pula tiada Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Nabi Muhammad) ke suatu negeri melainkan Orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan kami hanya mencontoh jejak mereka.”
Dia (sang Rasul) berkata, “Masihkah kamu (mengikuti jejak nenek moyangmu), meskipun aku membawa (agama) yang lebih baik panduannya daripada apa yang kamu peroleh dari nenek moyangmu itu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami (tetap) mengingkari kerasulanmu.”
Perlu disadari bahwa sesungguhnya Almahdy adalah rasul Allah Subhanahu Wata’ala yg diutus kepada orang-orang yang beriman sebagai karunia buat mereka, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Āli ‘Imrān : 164
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Setelah sahabat pembaca mendalami pd artikel kami sebelumnya bahwa kebenaran, petunjuk dan agama yg sebenarnya hanya bersama dengan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, yg dizaman ini adalah Almahdy, namun demikian ada banyak penentangan terhadap dakwah yg beliau serukan, salah satunya adalah dari kaum yang berpenyakit Taqlid buta terhadap pendahulu mereka.
Kita dapati mereka (kaum Muslimin jaman ini) banyak bersandar pada perkataan para ulama pendahulu mereka sepanjang masa yg mereka istilahkan dg ulama salaf.
Mereka berkata “berpegang teguhlah karena kita berada diatas minhaj yang telah digariskan oleh para ‘ulama”, mereka menggunakan kalimat ini untuk saling berwasiat agar tetap kokoh diatas minhaj taklid ini.
Mereka berbuat demikian karena husnu dhon bahwa mereka (para ‘ulama terdahulu atau ulama salaf) lebih berilmu, mereka lebih faham, sehingga tidak perlu melakukan kritik terhadap perkataan mereka, lalu menelan mentah-mentah perkataan mereka walau bertentangan dengan dalil-dalil yang shahih. Sungguh yang demikian ini merupakan taklid yang nyata.
Atau mereka berkata, “ikutilah agama pendahulu kalian karena mereka lebih luas ilmunya dan lebih kuat dalam menyingkap hakikat”.
Atau berkata, “mengikutlah dan jangan membuat hal baru karena kalian telah tercukupi”, dan lain-lain dari berbagai doktrin taklid yang dicecarkan kepada mereka yang seakan-akan menafikan adanya orang-orang belakangan yang lebih faham dan lebih berilmu dari orang-orang terdahulu.
Padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir sebab bisa jadi orang yang mendengar darinya lebih faham dari orang yang menyampaikan” (muttafaq ‘alaih).
Dan bersabda, “semoga Allah menggembirakan orang yang mendengarkan dariku satu hadist lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain karena bisa jadi seorang pembawa fiqhi tapi ia sendiri tidak faqih dan bisa jadi seorang pembawa fiqhi membawanya menuju kepada orang yang lebih mengerti darinya” (Ahmad 20608).
Dalam hadist ini tampak bahwa Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menafikan adanya orang lain yang lebih faham dan lebih berilmu dari para sahabat, tabi’in, atbauttabiin dan para ulama salaf.
#Indikasi Taqlid buta berikutnya adalah bahwa Mereka (ulama kaum muslimin jaman ini) juga menetapkan qaulul jumhur atau ijma’ sebagai salah satu asas dalam menetapkan hukum-hukum syariat disamping Alqur’an dan Sunnah, mereka menetapkan ini berdasar sebuah hadist maudhu’ (palsu) yang berbunyi : “Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat diatas kesesatan, bila kalian melihat perselisihan maka berpeganglah pada assawadul a’dham (kelompok yg terbanyak anggotanya)”. Hadits ini dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Alkhalaf al a’maa,
Yahya ibnu ma’in berkata ttgnya, ”dia pendusta”, Asshindy dalam syarah sunan Ibnu Majah berkata, “hadist ini diriwayatkan dari beberapa jalan namun semuanya diperbincangkan (tidak ada yang shahih)” (Ibnu Majah 3940).
Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wata’ala meletakkan kebenaran itu hanya pada satu orang disetiap ummat !?
sebagaimana halnya dengan seorang Nabi, kadang hanya seorang diri ditengah kaumnya, ini adalah perkara nyata yang tidak mungkin dipungkiri.
Demikian pula diummat ini, Allah Subhanahu Wata’ala meletakkan kebenaran itu hanya pada satu orang disetiap seratus tahun, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah akan mengutus disetiap penghulu seratus tahun seorang yg akan memperbaharui agamaNya” (Abu Daud 3740).
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-An’ām : 116
وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ
Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.
Ayat ini sangat tegas dan jelas mengecam pendapat mayoritas atau ijma’ dalam perkara agama.
Didapati sebagian besar mereka membangun agamanya diatas pendapat mayoritas, mereka berkata “menurut pendapat yang paling kuat”, atau mengatakan “inilah pendapat mayoritas, qaulul jumhur, atau ijma’ ulama’”, dan lain-lain,
lihatlah betapa mereka membangun keyakinannya tidak diatas Alqur’an, sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah khulafa’ rasydin mahdiyyin, tapi hanya diatas pendapat mayoritas, wallahul musta’an.
TAHRIFAT
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 23
Tahrif yaitu memalingkan makna suatu kata dari makna asalnya ke makna lain yang menyimpang. Dan ini termasuk perbuatan syirik besar yang dosanya tdk akan diampuni kecuali dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Hasil dari prilaku tahrif inilah yang disebut TAHRIFAT.
Diantara Tahrifat yg telah merusak aqidah kaum Muslimin jaman ini adalah antara lain:
#PERTAMA perilaku tahrif terhadap firman Allah, 20.Ṭāhā : 5
الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih yg bersemayam di atas ʻArasy.
lafadh “istawaa ‘alaa” (bersemayam) dalam ayat ini mereka (ulama jaman ini) artikan dengan, “tinggi, ada pula yg berkata terangkat”, atau berkata “tinggi sekaligus terangkat”, dan lain-lain.
Kata “istawa ‘alaa” dalam ayat ini diartikan bersemayam, maknanya adalah duduk dengan tenang tanpa rasa khawatir.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman az zukhruf 12-14
وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ
لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ
(Dialah) yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan dan menjadikan kapal laut untukmu serta hewan ternak untuk kamu tunggangi agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian, jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, “Mahasuci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami.”
Duduk dalam ayat ini menggunakan kata “istawa ‘ala”, sedang kapal dan binatang ternak keduanya bisa bergerak dan berpindah-pindah.
‘Arsy Allah adalah kursi yang dapat digerakkan dan dipindahkan karena ia tidak diletakkan pada tempat yang kokoh melainkan dipikul oleh 8 malaikat yang besar,
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Gafir : 7
الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ
(Para malaikat) yang memikul ʻArasy dan yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih dengan memuji Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. (Mereka berkata,) “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, berikanlah ampunan kepada orang-orang yang bertobat serta mengikuti jalan-Mu dan lindungilah mereka dari azab (neraka) Jahim.
Berkaitan dengan duduknya Allah diatas ‘Arsy maka di katakan, “duduk adalah kata yang difahami
artinya dan maknanya, maka duduknya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan Allah, mengimaninya adalah
wajib dan mempertanyakan bagaimananya adalah haram, sebab kaum Muslimin dilarang berthanattu’ dalam membahas tentang zat Allah Subhanahu Wata’ala.
Berthanattu’ artinya berdalam-dalam dalam mengkaji sesuatu, sehingga kaum muslimin mestinya merasa cukup dengan dalil-dalil yang ada.
Menafsirkan kata ‘istawaa ‘alaa dengan “tinggi dan terangkat” adalah penafsiran yang keliru terhadap makna-makna Alqur’an,
Hal ini perlu diluruskan untuk menjaga makna dari ayat-ayat alqur’an agar tetap sebagaimana mestinya.
Satu contoh yang membuktikan hal ini adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala mengenai perahu nabi Nuh Alaihi Sholatu Wassalam yang berlabuh diatas gunung Judy, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Hūd : 44
وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ
Difirmankan (oleh Allah), “Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah (mencurahkan hujan).” Air pun disurutkan dan urusan (pembinasaan para pendurhaka) pun diselesaikan dan (kapal itu pun) berlabuh di atas gunung Judiy, dan dikatakan, “Kebinasaanlah bagi kaum yang zalim.”
“was tawat ‘alal judy” (Huud 44), artinya lalu perahu itu berlabuh diatas gunung Judy,
Dalam ayat ini berlabuh menggunakan kata istawa
‘alaa, yang makna asalnya “duduk dengan tenang” artinya bahwa perahu itu terduduk dengan tenang diatas gunung Judy.
Bayangkanlah bila kata istawa ‘alaa dalam ayat ini diartikan dengan tinggi dan terangkat, apakah masuk akal bahwa perahu itu tinggi dan terangkat diatas gunung Judy dalam arti perahu itu berhenti diatas gunung Judy tanpa menyentuh gunung itu sedikitpun, ia terangkat tanpa sesuatu yang
mengangkatnya dan tergantung tanpa tali, apakah pengertian ini dapat diterima pikiran dan akal yang masih waras..!?, wallahul musta’an.
#KEDUA lafadh ‘Arsy mereka artikan dengan, “tempat pembaringan”.
Apakah Allah Subhanahu Wata’ala
butuh tempat pembaringan ?! sedang Ia mensifati diriNya dalam ayat kursi dengan tidak mengantuk, tidak tidur, tidak capek dan tidak butuh istirahat ..!! sungguh menciptakan sebuah tempat pembaringan untuk diriNya adalah suatu kesia-siaan, dan maha suci Allah dari menciptakan sesuatu yang sia-sia sebagaimana firmanNya Āli ‘Imrān : 191
الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.
#KETIGA lafadh kursi dalam firman Allah, “luas kursiNya meliputi langit dan bumi…”(al baqorah 255) mereka artikan dengan “tempat meletakkan kedua telapak kaki”
Apakah pengertian ini dibenarkan oleh akal sehat, bahasa, dan urf, padahal Alqur’an diturunkan dalam bahasa arab yang nyata, maka lafadh-lafadhnya tentu tidak akan bertentangan dengan bahasa dan urf, maka dari manakah mereka mengenal kursi sebagai tempat meletakkan telapak kaki ?!
Kemudian, apakah Allah membutuhkan tempat untuk meletakkan telapak kaki sebagaimana makhluk..?, subhanallah,
Kedua tafsiran ini disandarkan pada Ibnu Abbas Gafarahullah.
Ibnu Abbas gafarahumallah adalah seorang sahabat ia tidak ma’shum dan perkataannya bukan dalil, tidak pantas mengikuti perkataannya tanpa keterangan yang jelas dari Alquran dan Sunnah.
Kursi dan ‘Arsy adalah dua kata untuk satu makna, kursi adalah ‘Arsy dan ‘Arsy adalah kursi.
‘Arsy yang bermakna tahta atau singgasana adalah tempat duduk seorang raja atau penguasa yang
menunjukkan kebesarannya ketika menjalankan roda pemerintahannya, menerima laporan-laporan pegawainya, tempat dia memerintah, melarang dan memutuskan perkara.
Allah Subhanahu Wata’ala memiliki ‘Arsy karena Dia memproklamirkan diri sebagai raja, raja manusia, raja alam semesta. Maka
sebagai konsekwensinya Ia menciptakan ‘Arsy walau sesungguhnya Ia tidak membutuhkannya, sebab Allah
Ganiyyun ‘Anil ‘Alamin atau maha kaya dari ketergantungan dan kebutuhan terhadap mahluk.
Kursi atau ‘Arsy Allah luasnya meliputi langit dan bumi sebagaimana disebutkan dalam surah al baqorah Al-Baqarah : 255
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Luas Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Maha agung.
‘Arsy Allah diatas seluruh mahluk, ia memiliki 8 kaki dan dipikul oleh 8 malaikat yang besar yang jarak
antara ujung telinga dan pundaknya sejauh 700 tahun perjalanan. Diatas ‘Arsy terdapat tulisan yang berbunyi, “rahmatku mengalahkan murkaku” atau “rahmatKu mendahului murkaKu” (muttafaq alaih).
Kursi dan ‘Arsy adalah dua kata yang difahami artinya dan diketahui maknanya, adapun terhadap kursi
Allah kita mengatakan, “lafadhnya diketahui dan maknanya difahami namun hakikatnya tidak diketahui,
maka mengimaninya adalah wajib dan mempertanyakan hakikatnya adalah haram dan bid’ah, kursi Allah tentu sesuai dengan kemuliaan Allah.
Kita mengimani segala berita-berita tentang Allah yang terdapat
dalam Al Quran dan Sunnah yang shahih dan penafsirannya kita kembalikan kepada Allah dan Rasul, Al Quran dan Sunnah yang shahih”.
Didalam Sunnah yang shahih juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ‘Arsy dan kursi punya makna yang sama, misalnya kisah dibangkitkannya Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dari pingsan dipadang Mahsyar dan mendapati Nabi Musa Alaihi Sholatu Wassalam memeluk pada salah satu kaki ‘Arsy, pada riwayat ini menggunakan lafadh ‘Arsy (muttafaq alaih, Muslim 4377).
Kemudian kisah mengenai beberapa pemuda yang hijrah dari Habasyah ke Madinah, lalu menceritakan kepada Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam kisah seorang nenek biarawati yang berjalan membawa gerabah dikepalanya yang berisi air, ketika berpapasan seorang pemuda lalu pemuda itu mendorongnya hingga tersungkur dan pecah gerabahnya, dia lalu teriak memaki pemuda itu dan mengingatkan ketika Allah meletakkan kursi-Nya dan mengumpulkan seluruh mahluk dipadang Mahsyar, saat itulah engkau akan mengetahui urusanku denganmu. Dalam riwayat ini menggunakan lafadh kursi, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sungguh benar, sungguh benar, namun mengherankan, suatu kaum yang mengagungkan Allah namun
membiarkan kedholiman orang kuat mereka terhadap orang yang lemah” (Ibnu Majah 4000).
Adapun riwayat yang dipegangi mereka bahwa luas kursi dihadapan ‘arsy adalah seperti gelang yang diletakkan diatas padang pasir, lalu riwayat ini dishahihkan oleh seorang pakar senior mereka, ketahuilah
sesungguhnya riwayat itu tidak shahih dari nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, ia adalah riwayat ganjil yang tidak didapati penguat baginya sedikitpun, bahkan riwayat-riwayat yang shahih membantahnya, karena itu
janganlah tertipu. Wallahul musta’an.
#KEEMPAT Perkataan mereka, “Iman itu perkataan dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”.
Darimanakah asalnya perkataan ini, apakah Allah dan Rasul pernah mengucapkannya ?! Ini adalah perkataan yang batil, bertentangan dengan Alqur’an dan Sunnah.
Perkataan mereka, “iman itu perkataan dan amalan” atau dalam ungkapan lain, “perkataan adalah iman dan amalan adalah iman” ini bertentangan dengan Alqur’an, sebab betapa banyak ayat Alqur’an yang memisahkan dan membedakan antara iman dan amalan, misalnya, 18.Al-Kahf : 107
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal.
“103.Al-‘Aṣr : 1
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dg kebenaran dan saling menasehati dg kesabaran.
Ayat semacam ini banyak dalam alqur’an, dimana Allah Subhanahu Wata’ala memisahkan dan membedakan antara iman dan amalan.
Andai perkataan dan amalan itu adalah iman maka kaum khawarij adalah manusia yang paling utama dalam hal ini, karena Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabat, “kalian merasa iri melihat sholat mereka dibanding sholat kalian, puasa mereka dibanding puasa kalian”, namun bersamaan dengan itu beliau menegaskan, “mereka terlepas dari agama sebagaimana anak panah menembus sasarannya, andai aku dapati mereka, niscaya aku perangi sebagaimana terhadap kaum ‘Aad” (muttafaq alaih).
Adapun sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, “iman itu punya tujupuluh sekian cabang, yang paling tinggi adalah kalimat la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan pengganggu dijalan sedang malu termasuk cabang dari iman”(muttafaq alaih),
Cabang dari iman maknanya adalah penyempurnanya, dimana iman tidak bernilai tanpanya.
Iman dan amal sholeh adalah dua hal yang saling beriringan, saling membutuhkan, dan saling menyempurnakan, siapa yang mendatangkan amalan yang paling tinggi maka dia telah menyempurnakan imannya,
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “siapa yang mencinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan karena Allah, maka telah sempurna imannya” (Abu Daud 4061),
Dan bersabda, “mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik dari mereka adalah yang lembut pada keluarganya”(Tirmidzy 1082).
Dalil-dalil ini dan yang semakna dengannya merupakan bukti hubungan yang kuat dan erat antara iman dan amal.
Namun iman bukanlah amal dan amal bukan iman, perhatikanlah sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang diceritakan Khuzaifah Gafarahullah tentang kisah diangkatnya amanah, “..akhirnya orang-orang berjual beli dan hampir-hampir tidak didapati seorangpun yang menunaikan amanah, hingga dikabarkan bahwa di bani fulan ada seorang yang sangat amanah hingga orang-orang mengatakan tentangnya, betapa berakalnya ia, betapa sabarnya ia, betapa jujurnya ia, namun didadanya tidak ada iman walau sebesar biji sawi” (Ibnu Majah 4043).
#KELIMA Perkataan mereka, “bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat”, ini bertentangan dengan Alqur’an, dan tidak didapati satu dalilpun yang berbunyi demikian.
Iman itu bertambah dan berkurang bukan karena ketaatan dan bukan pula karena kemaksiatan, sungguh betapa banyak dari para sahabat yang melaksanakan ibadah-ibadah melebihi Abu bakar dan Umar, namun mereka tidak dapat melampauinya dari sisi keimanan.
Sebab itulah sebagian orang bijak mengatakan, “Abu bakar dan Umar tidak mengalahkan kalian dengan sholat dan puasa, tapi keduanya kalahkan kalian dengan sesuatu yang tersimpan dalam dada”.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Fāṭir : 28
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.
Takut dalam ayat ini menggunakan kata khasyah, yaitu perasaan takut yang disertai keyakinan tidak ada tempat berlindung dariNya kecuali kepadaNya, inilah tingkatan iman yang paling tinggi yang disebut juga attaqwa, al ihsan dan al yaqin, dan tingkatan ini hanya dicapai oleh orang yang berada pada tingkatan ilmu paling tinggi yaitu ‘ulama.
Maka iman itu bertambah dan berkurang adalah dengan ilmu, dan ilmu itu dapat diperoleh melalui banyak jalan, ta’allum (belajar), tadabbur (merenungkan), tafaqqur (berfikir), tafaqquh (mengkaji), tabayyun (mencari kejelasan masalah), tadzakkur (saling mengingatkan), menyaksikan bayyinah, tanda-tanda kebesaran Allah, ataupun kebenaran janjiNya, semua ini terkait dengan ilmu.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “mengapa ada kaum yang tidak menyukai keringanan yang aku berikan, Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling berilmu tentang Allah diantara kalian dan yang paling khasyah (takut) kepadaNya”, (muttafaq alaih, Bukhary 5636, Muslim 4346).
Maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang telah mencapai puncak dalam ilmu dan iman, wallahul musta’an.
GHULUW TERHADAP SAHABAT
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 22
Agar sahabat pembaca dapat mencerna pembahasan ini dg baik maka kami akan menguraikannya dalam beberapa point
#PERTAMA Meletakkan kalimat “radhiallahu anhu” dibelakang nama sahabat dan kalimat rahimahullah dibelakang nama selain sahabat.
Apa yang mereka (kaum Muslimin jaman ini) lakukan ini tentu saja tidak ada contoh dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan para khalifah.
Apakah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan kalimat itu ketika menyebut nama salah seorang sahabat, begitu pula dengan para sahabat apakah menyebut kalimat itu ketika saling menyebut nama diantara mereka?!
Andai seseorang melakukannya ketika mereka masih hidup tentu mereka akan menghadapinya dengan kemarahan karena kalimat itu mengandung tazkiyah (sanjungan).
Perhatikanlah ketika ummul mu’minin ‘Aisyah Gafarahallah sakit, masuklah Ibnu Abbas Gafarahullah menjenguknya dan menyebutkan berbagai tazkiyah terhadapnya, ‘Aisyah berkata, “hentikan segala pujianmu wahai Abdullah, bahkan aku berharap seandainya aku hanyalah mahluk yang dilupakan”
Umar bin khatthab Gafarahullah, ketika ditimpa musibah yang mengantarkan ajal, masuklah seorang pemuda menjenguk lalu menyebutkan berbagai tazkiyah (beberapa kelebihan beliau), Umar berkata, “Bahkan dari semua itu aku hanya berharap inpas, tak ada untukku dan tak ada atasku”.
Karena itulah kaum Muslimin hendaknya merasa cukup dengan apa yg telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alqur’an surah al hasyr 10, yaitu mendoakan para sahabat dg memohonkan ampunan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Ḥasyr : 10
وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”
Yaitu memohonkan ampunan buat mereka para sahabat Muhajirin dan Anshor dg ucapan Gafarahumullah (semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka semua).
Lalu, apakah sepeninggal mereka lantas dibolehkan menyebut kalimat itu dibelakang nama-nama mereka ?! sungguh hal ini merupakan kesesatan yang nyata.
#KEDUA Tidak membedakan diantara sahabat assabiqqunal awwalun dengan sahabat yang masuk Islam setelah fathu Makkah.
Atau mereka (kaum Muslimin jaman ini) beranggapan bahwa semua sahabat punya derajat dan keutamaan yang sama baik yang Islam sebelum fathu Makkah ataupun yang Islam setelahnya.
Aqidah semacam ini jelas bertentangan dengan Alqur’an dan Sunnah. Seorang muslim hendaknya merasa cukup dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala, Al-Ḥadid : 10
وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Mengapa kamu tidak menginfakkan (hartamu) di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu (fathu Makkah). Terhadap masing-masing mereka Allah menjanjikan (balasan) yang baik. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
Ayat ini memberi penjelasan bahwa sahabat gafarahumullah terdiri dari dua tingkatan, yaitu mereka yg masuk Islam sebelum fathu Makkah yaitu muhajirin dan anshor pada satu tingkatan dan mereka yang masuk Islam setelah fathu Makkah pada tingkatan yang lain, dan keduanya memiliki derajat dan keutamaan yang berbeda walau pada keduanya Allah janjikan kebaikan sebagaimana terhadap semua orang yang masuk Islam dan beriman dengan keimanan yang baik, mereka semua Allah janjikan kebaikan.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan ayat ini dengan sabdanya : “janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, sesungguhnya andai kalian belanjakan dijalan Allah emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai 1 mud infaq mereka dan tidak pula setengahnya”.
Sahabat yang dimaksud dalam hadits ini adalah Muhajirin dan Anshor.
Adapun orang-orang yg masuk Islam setelah fathu Makkah termasuk saya dan anda diperintahkan mengikuti kaum Muhajirin dan Anshor sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah Al-Taubah, At-Taubah : 100
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Assabiqqunal awwalun (Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam)) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa keridhoan Allah dan Surga hanya diberikan pada 3 golongan yaitu kaum Muhajirin, kaum Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka secara baik.
Fathu Makkah merupakan batas, bahwa setelah fathu Makkah maka tidak ada lagi hijrah, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada lagi hijrah setelah fathu Makkah, yang ada hanya jihad dan niat, maka bila kalian diseru untuk berangkat berjihad maka berangkatlah” (muttafaq alaih) ,
Maka yg dimaksud dengan sahabat Muhajirin dan Anshor yaitu mereka yang masuk Islam sebelum fathu Makkah dan melakukan hijrah dan jihad bersama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, merekalah yang Allah janjikan buat mereka keutamaan sebagaimana dalam ayat diatas (alhadid 10).
Karena itu, siapapun yang masuk Islam setelah Fathu Makkah maka kedudukannya sama dengan kita yaitu sebagai pengikut yang baik terhadap Muhajirin dan Anshor walaupun generasi mereka lebih baik dari generasi kita, karena generasi mereka lebih dekat dg masa kenabian.
Adapun ayat yang berbunyi, Āli ‘Imrān : 110
كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
“kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk (jadi teladan bagi) manusia, (karena) kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.
Yang dimaksud sebagai ummat terbaik dalam ayat ini adalah sahabat Muhajirin dan Anshor dan bukan keseluruhan sahabat.
Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Jabir Gafarahullah yg meriwayatkan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, Jabir berkata : ”pada hari perjanjian Hudaibiyah Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada kami, “kalianlah sebaik-baik penghuni bumi” dan waktu itu jumlah kami berkisar seribu empat ratus orang, andai hari ini aku masih melihat niscaya kuperlihatkan pada kalian posisi pohon itu” (Bukhari 3839),
Karena semua keutamaan mereka kaum Muhajirin dan Anshor itulah maka kaum muslimin diwajibkan berteladan kepada mereka dan mengikuti mereka dengan cara yang baik, wallahul musta’an.
#KETIGA mencari-cari alasan pembenaran terhadap kesalahan para sahabat.
Perang jamal meletus sekitar tahun 36 Hijriyah, yaitu perang antara Ali bin Abi Tholib Gafarahullah sebagai seorang khalifah yang sah melawan ummul mu’minin Aisyah Gafarahallah dan orang-orang yang bersamanya, seperti Zubair bin awwam dan Tholhah bin Ubaidillah.
Disinyalir oleh sebagian orang bahwa perang jamal terjadi akibat kesalah fahaman yang terjadi diantara orang-orang jahil diantara dua kubu setelah terjadi kesepakatan damai (islah) antara keduanya, yang kemudian masing-masing kubu menyangka mendapat serangan dari lainnya sehingga terjadilah peperangan, inilah versi yg mereka (kaum Muslimin jaman ini) pegangi mengenai perang jamal.
Versi lain yaitu versi Ali bin Abi Tholib Gafarahullah, ia berkata mengenai Thalhah dan Azzubair, “keduanya membaiat kami di Madinah lalu menyelisihi kami di Bashrah, demi dzat yang jiwaku ditanganNya, andai seseorang mencabut baiatnya terhadap Abu Bakar dan Umar niscaya keduanya akan memeranginya”. Jadi menurut versi ini bahwa tak ada damai bagi kubu sebelah, pasukan jamal pantas diperangi. Versi ini selaras dengan versi Ahnaf bin Qais, A’isyah, dan juga Azzubair dalam satu riwayat darinya mengenai tafsir al anfal 25.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya akan terjadi hanaat dan hanaat (fitnah dan kekacauan), maka barang siapa yang ingin memecah urusan ummat ini sedang mereka telah bersatu maka bunuhlah ia siapapun orangnya”(Muslim 3442),
Mereka kaum Muslimin jaman ini tidak berani menyatakan salah terhadap kekeliruan yang dilakukan oleh para sahabat karena mereka menganggap para sahabat adalah mujtahid yg tetap mendapatkan pahala walaupun tersalah (lihat penjelasan ttg ijtihad dalam tema berbicara agama tanpa Ilmu)
Kami beriman bahwa A’isyah, Thalhah dan Azzubair gafarahumullah, ketiganya adalah sahabat yang mulia, telah berlalu bagi ketiganya kebaikan-kebaikan dimasa Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dimana kebaikan-kebaikan mereka takkan terhapus oleh kesalahan-kesalahan ataupun dosa-dosa yang mereka lakukan kemudian. Mereka adalah orang-orang yang telah dipastikan sebagai penghuni Surga melalui lisan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.
Namun kami memandang mereka sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, bisa saja mereka jatuh dalam kekeliruan dan dosa-dosa.
Karena itu ketika mereka jatuh dalam kesalahan dan dosa-dosa, maka kami tetapkan kesalahan itu sebagai kesalahan dan dosa itu sebagai dosa, tidak tertipu oleh kemuliaan mereka untuk kemudian mencari-cari alasan pembenaran terhadap penyimpangan yang mereka lakukan.
Inilah jalan kebenaran dimana setiap orang dinilai berdasarkan Alqur’an dan sunnah dan tidak berdasarkan hawa nafsu orang perorang.
Berseberangan dengan kaum ini yaitu sebagian dari kaum syi’ah rofidhah yang justru berbuat sebaliknya dengan mencela dan menuding sebagian besar sahabat hingga pun sahabat assabiqunal awwalun dari mereka, bahkan celaan dan tudingan dari sebagian syi’ah sampai pada tingkatan mengkafirkan, wallahul musta’an.
Dengan demikian maka kaum ini berada pada ujung timur dan rofidhah berada pada ujung baratnya, sedang kebenaran berada ditengah-tengah antara keduanya., Wallahul musta’an.
#KEEMPAT Penyimpangan berikutnya yaitu berlebihan dalam menyanjung para sahabat,
Mereka (kaum Muslimin jaman ini) berkata bahwa semua janji-janji yang ditujukan kepada sahabat mengena pada keseluruhan sahabat tanpa kecuali baik yang Islam sebelum fath Makkah maupun yang Islam setelahnya, contoh sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, “janganlah mencela sahabat-sahabatku karena andai kalian berinfaq sebesar gunung uhud emas takkan menyamai satu mud infaq mereka dan tidak pula setengahnya”,(Bukhari 3673), mereka berkata bahwa hadis ini ditujukan pada keseluruhan sahabat tanpa kecuali.
Maka ketika mereka membawakan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai orang-orang yang dihalau dari telaga, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak, “sahabatku..sahabatku..” lalu dikatakan padanya “engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu”, maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “binasalah bagi orang-orang yang berubah sepeninggalku” (muttafaq ‘alaih).
Kata “sahabatku” dalam hadist ini berusaha mereka palingkan maknanya, berusaha mereka jauhkan dari makna asalnya agar selaras dengan akidah mereka yang batil, mereka berkata bahwa perkataan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam “sahabatku..sahabatku..” maksudnya bukan sahabat Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam tapi orang lain selain mereka, padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam jauh-jauh telah menerangkan makna sahabat dalam sebuah hadistnya, “betapa rindunya aku ingin bertemu dengan saudara-saudaraku” para sahabat berkata, “bukankah kami ini saudara-saudaramu ya rasulallah”, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku adalah orang-orang yang beriman kepadaku sedang mereka tak pernah melihatku” (Ahmad 12119),
lalu bagaimana mereka akan mengingkari makna kata sahabat-sahabatku dalam hadist ini ?!
#KEENAM membela sang perusak agama
Sikap berlebihan juga didapati ketika membicarakan sepak terjang Muawiyah bin abi sofyan.
Dimulai ketika enggan berbaiat kepada khalifah Ali bin abi tholib Gafarahullah, pecahnya perang Shiffin, hingga penyerahan kekuasaan oleh Khalifah Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin abi sofyan lalu dirubahnya menjadi kepemimpinan kerajaan, Semua tingkah laku Mu’awiyah dalam hal ini di benarkan, didukung dan dibela oleh sebagian pemuka kaum muslimin.
Lebih dari pada itu mereka berusaha mencari-cari dalil mengenai keutamaannya dan mengumpulkannya agar dapat membebaskannya dari berbagai tudingan miring, Inilah sebagian kerja keras mereka dalam membela sang perusak agama.
Padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam telah menegaskan bahwa Muawiyah adalah seorang pemberontak dalam sabdanya, “kasihan Ammar, dia dibunuh oleh kelompok pemberontak, Ammar mengajak mereka kesurga sedang mereka mengajak Ammar ke neraka” (Bukhary 428, 2601),
Pada kenyataannya Ammar bin Yasir Gafarahullah meninggal ditangan pasukan Muawiyah dalam perang Shiffin.
Dengan berpegang pada hadist ini dan melihat kenyataan wafatnya Ammar, maka para sahabat yang tadinya menahan diri tidak ikut dalam pertempuran akhirnya sepakat bersama khalifah Ali bin Abi Thalib Gafarahullah memerangi Muawiyah setelah melihat kenyataan terbunuhnya Ammar Gafarahullah ditangan pasukan Muawiyah dan sepakat bersama khalifah Hasan Bin Ali Gafarahullah pada fase berikutnya.
Hasan bin Ali Gafarahullah menuturkan, “sesungguhnya batok orang-orang arab berada ditanganku yang siap memerangi orang-orang yang aku perangi dan siap berdamai dengan orang-orang yang aku inginkan, akan tetapi aku tinggalkan itu semua karena wajah Allah dan mencegah tertumpahnya darah ummat Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam”.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda diatas mimbar dihadapan para sahabat sebagai satu perintah dan komando dari pemimpin tertinggi mereka, “sesungguhnya akan terjadi hanaat dan hanaat (fitnah dan kekacauan), maka barang siapa yang ingin memecah urusan ummat ini sedang mereka telah bersatu maka bunuhlah ia siapapun orangnya” (Muslim 3442),
Artinya barang siapa yang ingin mengambil alih kepemimpinan dari khalifah yang sah yang telah kalian sepakati maka bunuhlah orang itu.
Dan ternyata tak ada orang yang ingin merebut kepemimpinan dari ahlinya dizaman sahabat selain Muawiyah bin abi sofyan, dialah seorang yang enggan berbaiat kepada khalifah Ali Gafarahullah dan melancarkan peperangan terhadapnya, maka perintah bunuh pada hadist diatas sesungguhnya ditujukan kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.
Pada kesempatan yang lain Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya akan ada sepeninggalku penguasa yang tidak menetapkan sunnah dengan sunnahku dan tidak menetapkan petunjuk dengan petunjukku, dan akan ada ditengah mereka laki-laki yang hatinya hati syaithan dalam rongga dada manusia” (Muslim 3435).
Bila laki-laki yang berhati iblis itu adalah Hajjaj bin Yusuf yang dengan kekejamannya ratusan ribu nyawa kaum muslimin melayang ditangannya, atau Ubaidillah bin ziyad pemimpin pasukan yang melakukan pembantaian terhadap Husain bin Ali Gafarahullah cucu kesayangan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam beserta sebagian keluarganya dipadang Karbalaa’ Irak, yang mana laki-laki ini adalah kaki tangan Yazid bin Mu’awiyah, maka siapakah yang dimaksud dengan kalimat “penguasa yang tidak menetapkan sunnah dengan sunnahku dan tidak menetapkan petunjuk dengan petunjukku ?”.
Maka alangkah tepatnya sabda Nabi Shollallahu alaihi wassalam “sesungguhnya manusia pertama yang akan merusak sunnahku adalah seorang lelaki dari bani Umayyah” (silsilah ahadits shahihah 1749)
Wallahul musta’an.
ABDI THOGUT
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 21
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Nisā : 138-139
بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا
الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا
Berilah kabar ‘gembira’ kepada orang-orang munafik bahwa sesungguhnya bagi mereka azab yang sangat pedih. (Yaitu) mereka yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemuliaan di sisi orang kafir itu? (Ketahuilah) sesungguhnya semua kemuliaan itu milik Allah.
Dan berfirman An-Nisā : 144-147
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۚ أَتُرِيدُونَ أَنْ تَجْعَلُوا لِلَّهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا مُبِينًا
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain dari orang-orang mukmin. Apakah kamu ingin memberi alasan yang jelas bagi Allah (untuk menghukummu)?
Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) di tingkat paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapati seorang penolong pun bagi mereka.
Kecuali, orang-orang yang bertobat, memperbaiki diri, berpegang teguh pada (agama) Allah, dan dengan ikhlas (menjalankan) agama mereka karena Allah, mereka itu bersama orang-orang mukmin. Kelak Allah akan memberikan pahala yang besar kepada orang-orang mukmin.
Bila anda telah mengerti tentang thogut maka abdi thogut tentu saja mereka yg menyerahkan diri kepada thogut, percaya padanya, bergabung dengannya dan mengabdi kepadanya.
Salah satunya adalah mereka yg tergabung dalam suatu institusi yg menjunjung tinggi hukum buatan manusia sambil mencampakkan hukum-hukum Allah Subhanahu Wata’ala, alqur’an dan sunnah, mereka termasuk dalam golongan yg diancam oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam ayat-ayat diatas, mereka telah dicap sebagai orang-orang munafiq yg akan ditempatkan dikerak neraka paling bawah, Na’udzubillah mindzalik.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “akan berkuasa atas kalian pemimpin-pemimpin yang mendekatkan padanya orang-orang jelek dari manusia dan mengakhirkan shalat dari waktunya, barang siapa mendapati hal itu, jangan sekali-kali jadi pemandu, penjaga, pengumpul dan pencatat”.(Silsilatu Shahihah 360),
Sistem kepemimpinan apapun selain Khalifah adalah kepemimpinan yg berbasis duniawi maka pegawai atau pekerjanya tentu tidak akan lepas dari 4 kategori ini, sehingga hadits ini cukup sebagai dalil bahwa seorang Muslim tidak pantas bergabung dalam kepemimpinan ini walau dalam posisi apapun, pegawai, buruh kontrak ataupun sukarelawan.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Mā’idah : 60
قُلْ هَلْ أُنَبِّئُكُمْ بِشَرٍّ مِنْ ذَٰلِكَ مَثُوبَةً عِنْدَ اللَّهِ ۚ مَنْ لَعَنَهُ اللَّهُ وَغَضِبَ عَلَيْهِ وَجَعَلَ مِنْهُمُ الْقِرَدَةَ وَالْخَنَازِيرَ وَعَبَدَ الطَّاغُوتَ ۚ أُولَٰئِكَ شَرٌّ مَكَانًا وَأَضَلُّ عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang sesuatu yang lebih buruk pembalasannya daripada itu di sisi Allah? (Yaitu balasan) orang yang dilaknat dan dimurkai Allah (yang) di antara mereka Dia jadikan kera dan babi. (Juga balasan buat mereka yg) menyembah Tagut.” Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.
Wallahul musta’an.
MENTAATI THOGUT
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 20
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman, Muhammad : 24
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?
Marilah kita mendalami agama dg metode yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alqur’an yaitu tadabbur dan jauhkan diri dari metode taklid buta kepada pendahulu (salaf) karena ini adalah metode dari para penentang Rasul seperti diceritakan dalam banyak ayat dalam alqur’an. Diantaranya firman Allah Subhanahu Wata’ala menukil perkataan mereka Al-Mā’idah : 104
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti sesuatu yang Allah turunkan dan (mengikuti) Rasul,” mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.” Apakah (mereka akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak (pula) mendapat petunjuk.(almaidah 104)
Ketahuilah bahwa dalam perkara KETAATAN, aturan Islam sangatlah ketat, salah dalam memberi dan menempatkan ketaatan akan berakibat SYIRIK BESAR sebagaimana firman Allah Al-An’ām : 121
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Janganlah kamu memakan sesuatu dari (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sungguh setan benar-benar selalu membisikkan kawan-kawannya agar mereka membantahmu. Jika kamu mentaati mereka, sungguh kamu benar-benar musyrik. (alan’am 121)
Oleh karenanya maka perkara KETAATAN ini diatur sedemikian rupa dalam alqur’an dan sunnah diantaranya
# Al-Qalam : 8-9
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
Maka, janganlah engkau mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak. Maka, mereka bersikap lunak (pula).
# Al-Qalam : 10-12
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ
هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
Janganlah engkau taati setiap orang yang suka bersumpah lagi berkepribadian hina, suka mencela, (berjalan) kian kemari menyebarkan fitnah (berita bohong). merintangi segala yang baik, melampaui batas dan banyak dosa.
# 76.Al-Insān : 24
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka, bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu dan jangan taati pendosa dan orang yang sangat kufur di antara mereka.
# 33.Al-Ahzāb : 48
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) mentaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, biarkan (saja) gangguan mereka, dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.
# 18.Al-Kahf : 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mentaati orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.
Dan masih banyak dalil yg serupa dengan ini.
Maka orang-orang yg beriman tidak akan mengangkat jadi pemimpin orang dari selain kalangan mereka sendiri karena konsekwensinya adalah memberikan loyalitas dan ketaatan kepada mereka, hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala Āli ‘Imrān : 28
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Tidak pantas orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, maka tidak ada (hubungan dengan) Allah sedikitpun, kecuali takut dari sesuatu yang pantas kamu takuti dari mereka. Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya kepada Allah tempat kembali.
Kalimat “kecuali takut pada mereka dengan sesuatu yg pantas ditakuti” (Ali Imran 28). Kalimat ini memberikan faedah bahwa pada dasarnya haram mentaati pemimpin yg tdk berhukum dg hukum Allah Subhanahu Wata’ala kecuali bila takut terjadi fitnah atau kerusakan yang timbul karena kemarahan penguasa, jadi dlm ayat ini ada RUKHSHOH, kaum Muslimin diberi keringanan atau rukhshoh mentaati mereka guna menghindari fitnah dan kekacauan sedang hati wajib mengingkari kesesatan mereka.
Yg wajib ditaati oleh kaum mu’minin sesungguhnya hanyalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi Wasallam dan khulafa’ rasyidin mahdiyyin berdasarkan hadits “wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah dg gigi geraham” (HR. Abu Daud)
Inilah sesungguhnya perbedaan mendasar antara penguasa duniawi dan ukhrawi atau khalifah, Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “pada hari kiamat Allah Subhanahu Wata’ala menggenggam bumi dan melipat langit dg tangan kanan sambil berkata “Akulah Raja, dimana itu para raja-raja duniawi” (muttafaq alaihi)
Maka penguasa duniawi adalah musuh Allah yg pertama kali dicari pada hari kiamat.
Syubhat yg mewajibkan mendengar dan taat terhadap penguasa duniawi diambil dari hadits berikut “wajib atas kalian mendengar dan taat walau ta’ammar atas kalian hamba dari negeri habsyi”
Disinilah sesungguhnya letak kekacauan dari sebagian ahli ilmu yaitu kekeliruan dalam memahami maksud kata “TAAMMAR” dari hadits ini, mereka memahaminya sebagai cara pengambil alihan kekuasaan dg cara yg tercela, seperti kudeta, atau melalui mekanisme demokrasi atau yg lainnya, Subhanallah..
Hadist ini sesungguhnya mengisyaratkan pada seseorang yg bernama Jahjah, seorang mawali atau bekas budak yg mengisi kekosongan kursi khilafah pasca mahlamatul kubra (perang besar ) atau perang dunia ke… menjelang turunnya Nabi Isa alaihi sholatu wassalam, ini berdasarkan sabda Nabi Shollallahu alaihi wassalam “akan memimpin ditengah kalian seorang dari kalangan mawali (budak yg berwali kepada orang yg memerdekakannya) yang bernama Jahjah” (Tirmidzy 2154, Muslim 5183)
Ta’ammar artinya meraih kepemimpinan secara paksa namun ta’ammar yg dibenarkan adalah saat seseorang mendapatkannya dg cara yg tdk tercela, Jahjah meraih kepemimpinan secara ta’ammar karena didorong oleh situasi dan kondisi yang mendesak saat itu, sama keadaannya seperti Khalid bin Walid gafarahullah dalam perang Mu’tah yang mengambil alih kepemimpinan karena didorong oleh situasi yang mendesak setelah terbunuhnya tiga orang yg telah ditunjuk oleh Nabi Shollallahu alaihi wassalam, yaitu Zaid, Ja’far, dan Abdullah gafarahumullah,
Nabi Shollallahu alaihi wassalam menyebut Khalid bin Walid sebagai salah satu pedang Allah Subhanahu Wata’ala, sebagai pembenaran atas prilaku Taammar yg dilakukannya guna menyelamatkan pasukan kaum Muslimin yg sedang terdesak.
Jadi kesimpulannya haram mentaati pemimpin atau penguasa kategori thogut kecuali ada rasa takut yang pantas dan dapat dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu kelak diakhirat nanti namun ketaatan itu harus diiringi dengan pengingkaran dalam hati.
wallahul musta’an.
THOGUT
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 19
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Nāzi’āt : 17
اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ
“Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas”.
Fir‘aun adalah seorang thogut, perilakunya disebut thagaa, sedang ideologi, sistem, hukum, dan undang-undangnya juga disebut thogut.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Baqarah : 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada tagut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Jabir Gafarahullah pernah berkata :”dahulu ada beberapa thogut yg kaum musyrikin berhukum kepada mereka, di Juhainah satu di Aslam satu dan disetiap desa terdapat seorang yaitu kuhhan (tukang sihir/tukang tenun/tukang ramal) yg mana syaitan turun kepada mereka”.
Setelah memahami pengertian thogut mari kita terapkan pada ayat ayat berikut ini :
# 4.An-Nisā : 60
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
Tidakkah engkau (Nabi Muhammad) memperhatikan orang-orang yang mengaku bahwa mereka telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan pada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka ternyata hendak bertahkim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sangat jauh.
# 2.Al-Baqarah : 257
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ ۗ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Allah adalah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari aneka kegelapan menuju cahaya (iman). Sedangkan orang-orang yang kufur, pelindung-pelindung mereka adalah tagut. Mereka (tagut) mengeluarkan mereka (orang-orang kafir itu) dari cahaya menuju aneka kegelapan. Mereka itulah para penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.
# 4.An-Nisā : 76
الَّذِينَ آمَنُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ الطَّاغُوتِ فَقَاتِلُوا أَوْلِيَاءَ الشَّيْطَانِ ۖ إِنَّ كَيْدَ الشَّيْطَانِ كَانَ ضَعِيفًا
Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah dan orang-orang yang kufur berperang di jalan tagut. Perangilah kawan-kawan setan itu. Sesungguhnya tipu daya setan itu lemah.
# 16.An-Naḥl : 36
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ ۚ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Sungguh, Kami telah mengutus seorang rasul untuk setiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah tagut!” Di antara mereka ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula yang ditetapkan dalam kesesatan. Maka, berjalanlah kamu di bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang mendustakan (rasul-rasul).
Jadi ungkapan Thogut meliputi antara lain:
# Penguasa yg menerapkan sistem, ideologi, undang undang dan hukum selain alqur’an dan sunnah.
# Ulama yang mengeluarkan statement atau fatwa yg bertentangan dengan alquran dan sunnah.
# Kuhhan yaitu tukang ramal, tukang sihir, tukang tenun, paranormal yg menyesatkan manusia melalui ramalan, dongeng, hurafat, dan takhyul.
# Ruwaibidhoh yaitu org jahil yang bicara agama tanpa didasari keahlian, golongan ini banyak bertebaran dimedsos.
# Para provokator yg menggembosi manusia melakukan kerusakan dibumi.
# Segala sembahan selain Allah Subhanahu Wata’ala,
# Segala undang-undang atau syariat selain alqur’an, sunnah Nabi dan sunnah khalifah.
# Semua agama selain Islam
# Semua pemimpin selain Allah Subhanahu Wata’ala, RasulNya dan khulafa rasyidin mahdiyyin.
Wallahul musta’an.
BERBICARA AGAMA TANPA ILMU
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 18
Agama sesungguhnya adalah milik Allah semuanya, Allah Subhanahu Wata’ala yg menurunkannya, Dia pula yang menentukan aturan-aturannya. Tak satupun diantara manusia yang diperbolehkan berbicara atas nama Allah atau atas nama agama tanpa dalil, bahkan Nabi Shollallahu alaihi wasallam pun diancam oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmanNya Al-Hāqqah : 44
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Sekiranya dia (Nabi Muhammad) mengada-adakan sebagian saja perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami benar-benar menyiksanya dengan penuh kekuatan. Kemudian, Kami benar-benar memotong urat nadinya. Maka, tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) darinya (pemotongan urat nadi itu).
Karena itulah maka berbicara agama tanpa dalil dan ilmu adalah prilaku dosa besar yang bahkan melebihi dosa syirik, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-‘Ankabūt : 68
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
Siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan atas nama Allah atau orang yang mendustakan kebenaran ketika (kebenaran) itu datang kepadanya? Bukankah dalam (neraka) Jahanam adalah tempat bagi orang-orang kafir?
Artinya tidak ada lagi kedholiman yang mengalahkan kedua dosa besar ini.
Kerusakan pada agama di mulai ketika pintu ijtihad dibuka, ketika manusia berbicara agama dari hasil pemikirannya, sebagian ahli ilmu memfatwakan bolehnya berijtihad dalam agama, maka bermunculanlah tokoh agama yg sesungguhnya tak berkompeten,
agama pun ditumpangi dgn beragam kepentingan dg dalih ijtihad.
Sesungguhnya tidak ada ijtihad dalam agama, sebab ijtihad hanya bagian dari dhann (prasangka) dan dhann tidak bernilai dihadapan kebenaran sedikitpun. Barang siapa membolehkan diri berijtihad dalam agama, dia membolehkan diri salah dalam perkara agama dan barang siapa salah dalam perkara agama, dia tidak akan lepas dari salah satu ancaman Allah Subhanahu Wata’ala dan RasulNya Shollallahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini :
# Berkata atas Allah tanpa Ilmu, sebagaimana firmanNya : Al-A’rāf : 33
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar. (Dia juga mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan bukti pembenaran untuk itu dan (mengharamkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
# Mengajari Allah agama-Nya, sebagaimana firmanNya : Al-Ḥujurāt : 16
قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberi tahu Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
# Berdusta atas Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana sabda beliau : “Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, dia telah siapkan tempat duduknya dari Neraka”(muttafaq alaih)
# Mengadakan perkara baru dalam agama, sebagaimana sabda beliau :“Hendaklah kalian waspada dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan dalam Neraka” (Abu Daud 3991)
# Menetapkan Sunnah-Sunnah yang jelek, sebagaimana sabda beliau :“Barang siapa menetapkan dalam Islam Sunnah yang jelek maka baginya dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sepeninggalnya, tidak dikurangi dari dosa mereka sedikitpun” (Muslim 1691)
# Amalan yang tertolak, sebagaimana sabda beliau :“Barang siapa mengamalkan sesuatu yang tidak atas perintah kami maka tertolak” (Muslim 3243), Dan lain-lain dari dalil-dalil yang semakna.
IJTIHAD hanya dibolehkan bagi hakim, sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam: “Bila hakim berijtihad lalu benar, maka baginya 2 pahala dan bila salah maka baginya satu pahala” (An Nasai 5286).
HAKIM yaitu orang yang diberi kewenangan memutuskan perkara diantara orang-orang yang berselisih dalam perkara dunia.
Nabi Daud dan Sulaiman ‘Alaihima Sholatu Wassalam, keduanya hakim sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran (al anbiya 78-79), ketika menghadap 2 orang yang bertikai, pemilik kambing dan pemilik kebun, Daud Alaihi Sholatu Wassalam keliru dalam menetapkan keputusan, lalu Allah beri pemahaman kepada Sulaiman ‘Alaihi Sholatu Wassalam, Sulaimanlah yang benar dalam berijtihad. Maka keduanya terpuji disisi Allah Subhanahu Wata’ala, Karena keduanya hakim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Anbiyā : 78-79
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ
(Ingatlah) Daud dan Sulaiman ketika mereka memberikan keputusan mengenai ladang yang dirusak pada malam hari oleh kambing-kambing milik kaumnya. Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.
Lalu, Kami memberi pemahaman kepada Sulaiman (tentang keputusan yang lebih tepat). Kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) Kami memberi hikmah dan ilmu. Kami menundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud. Kamilah yang melakukannya.
Dan banyak hadits-hadits shohih menceritakan perjalanan hidup keduanya dalam kaitannya sebagai hakim bagi orang-orang yg berperkara.
Termasuk Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ketika dihadapkan 2 orang yang berselisih beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Kami hanya manusia biasa dan kalian mengajukan perkara kepadaku dan terkadang seorang diantara kalian lebih pandai berbicara dari lawannya, sehingga aku sangka kebenaran ada padanya, maka barang siapa yang aku beri kemenangan padahal itu bukan haknya, hendaklah di kembalikan pada yang berhak karena itu adalah potongan dari api Neraka”.(muttafaq alaih)
Perhatikanlah, bagaimana para Nabi berijtihad ketika menjalankan fungsi sebagai hakim bagi orang-orang yang berselisih dalam perkara dunia. Adapun dalam perkara agama tidak ada ijtihad, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Najm : 2-5
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru, dan tidak pula berkata (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya). Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)
yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)
Dan berfirman Al Haqqoh 44-47
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Sekiranya dia (Nabi Muhammad) mengada-adakan sebagian saja perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami benar-benar menyiksanya dengan penuh kekuatan. Kemudian, Kami benar-benar memotong urat nadinya. Maka, tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) darinya (pemotongan urat nadi itu).
Dan berfirman Yūnus : 15
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ ۚ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami secara jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah!” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang dahsyat jika mendurhakai Tuhanku.”
wallahul musta’an.
DURHAKA KEPADA RASUL
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 17
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman, 4.An-Nisā : 115
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
Siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dalam kesesatannya dan akan Kami masukkan ke dalam (neraka) Jahanam. Itu seburuk-buruk tempat kembali.
Dan berfirman An-Nisā : 41
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَىٰ هَٰؤُلَاءِ شَهِيدًا
يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَعَصَوُا الرَّسُولَ لَوْ تُسَوَّىٰ بِهِمُ الْأَرْضُ وَلَا يَكْتُمُونَ اللَّهَ حَدِيثًا
Bagaimanakah (keadaan manusia kelak pada hari Kiamat) ketika Kami mendatangkan seorang saksi (rasul) dari setiap umat dan Kami juga mendatangkan engkau (Nabi Muhammad) sebagai saksi atas mereka?
Pada hari itu orang-orang yang kufur dan mendurhakai Rasul berharap seandainya mereka diratakan dengan tanah (dikubur atau hancur luluh menjadi tanah), padahal mereka tidak dapat menyembunyikan suatu kejadian pun dari Allah.
Dan berfirman Āli ‘Imrān : 86
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
أُولَٰئِكَ جَزَاؤُهُمْ أَنَّ عَلَيْهِمْ لَعْنَةَ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
خَالِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذَابُ وَلَا هُمْ يُنْظَرُونَ
Bagaimana (mungkin) Allah memberikan petunjuk kepada suatu kaum yang kufur setelah mereka beriman padahal mereka menyaksikan bahwa Rasul itu benar dan bukti-bukti yang jelas telah sampai kepada mereka? Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Mereka itu, balasannya adalah ditimpa laknat Allah, para malaikat, dan manusia seluruhnya.
Mereka kekal di dalamnya (laknat). Tidak akan diringankan azab dari mereka, dan mereka tidak diberi penangguhan. (86-88)
Nabi Shollallahu alaihi wasallam bersabda, “tdk akan dianggap beriman seorang pun dari kalian sehingga Aku lebih dicintai olehnya dari orang tuanya, anak anaknya dan manusia semuanya”
Dalam surah alhasyr ayat 7 Allah Subhanahu Wata’ala berfirman
مَا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَىٰ رَسُولِهِ مِنْ أَهْلِ الْقُرَىٰ فَلِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ وَلِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الْأَغْنِيَاءِ مِنْكُمْ ۚ وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Apa saja (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang dianugerahkan Allah kepada Rasul-Nya dari penduduk beberapa negeri adalah untuk Allah, Rasul, kerabat (Rasul), anak yatim, orang miskin, dan orang yang dalam perjalanan. (Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu terimalah. Apa yang dilarangnya bagimu tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.
Dalam surah alhujurat ayat 1-2 Allah Subhanahu Wata’ala berfirman
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah meninggikan suaramu melebihi suara Nabi dan janganlah berkata kepadanya dengan suara keras sebagaimana kerasnya (suara) sebagian kamu terhadap yang lain. Hal itu dikhawatirkan akan membuat (pahala) segala amalmu terhapus, sedangkan kamu tidak menyadarinya.
Semua dalil ini menjelaskan tentang bagaimana seharusnya sikap dan cara yg dituntunkan dalam memuliakan Rasul-Rasul Alloh Subhanahu Wata’ala,
Kemudian dalam surah alqoshash 65, 66 Allah Subhanahu Wata’ala berfirman
وَيَوْمَ يُنَادِيهِمْ فَيَقُولُ مَاذَا أَجَبْتُمُ الْمُرْسَلِينَ
فَعَمِيَتْ عَلَيْهِمُ الْأَنْبَاءُ يَوْمَئِذٍ فَهُمْ لَا يَتَسَاءَلُونَ
(Ingatlah) hari ketika Dia (Allah) menyeru mereka lalu berfirman, “jawaban apakah yg kalian berikan terhadap seruan para Rasul ?”
Maka, tertutuplah bagi mereka segala macam alasan pada hari itu. Oleh karena itu, mereka tidak saling bertanya.
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala menanyakan tentang jawaban ummat manusia terhadap seruan para Rasul, ada yg menyambutnya lalu bergabung dengannya dan berbaiat padanya, ada pula sebaliknya dg mendustakan dan mengolok-olok.
Begitu pula dengan seruan Almahdy yg menyeru ummat kepada aljamaah, bersatu, bersinergi dan bersaudara, dibawah komando khalifah almahdy, inilah kesempatan bagi mereka membuktikan diri sebagai Muslim atau bukan, menyambut atau mendustakan. Yg jelas pertanyaan Allah Subhanahu Wata’ala dalam ayat ini kelak pasti akan dihadapkan. wallahul musta’an.