Bismillah
Assalamualaikum
Ketaatan Yg Salah Tempat
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman At-Taubah : 30-31
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang kufur sebelumnya. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah serta Al-Masih putra Maryam. Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Dengan merenungkan ayat diatas dan memikirkan jawaban atas pertanyaannya “bagaimanakah hingga mereka itu berpaling dari kebenaran?
Yahudi dan Nasrani dahulunya mereka adalah ummat dari Nabi dan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, mereka dahulunya mendapatkan bimbingan langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala melalui RasulNya.
Namun apa yang terjadi setelah para nabi dan rasul itu meninggal?
Mungkin generasi pertama dari mereka masih lurus jalannya, tapi apakah ada jaminan bagi generasi berikutnya?
Ayat diatas memberikan kita gambaran akan perjalanan suatu ummat beragama sepeninggal Nabi mereka, beransur ansur mereka akan semakin jauh dari petunjuk.
Menjadikan bagi Allah Subhanahu Wata’ala seorang anak, atau menobatkan seseorang sebagai anak Tuhan, ini adalah bentuk kesesatan terberat dan terjauh, bagaimana bisa mereka ikut membenarkannya, sedang ayat ayat dari kitab suci masih sering mereka baca dan dengar ?!
Siapakah pelakunya ?
Pelakunya tentu saja adalah orang-orang yg dianggap sebagai pemuka agama, semacam pendeta, rahib, pastor, paus, atau yang lainnya.
Maka berdosalah para pelaku yg telah sesat dan menyesatkan orang banyak, dan berdosa pula para pengikutnya yg mengikuti dan membenarkan fatwa-fatwa sesatnya, mereka dianggap telah menjadikan rahib dan pendeta itu sebagai Tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu Wata’ala, wallahul musta’an.
Ini adalah pelajaran bagi kaum Muslimin, keadaan mereka tentu tidak jauh berbeda dengan keadaan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam. Semakin jauh jarak zaman dari Nabi tentu akan semakin jauh pula mereka dari petunjuk dan kebenaran, hingga Nabi Shollallahu alaihi wassalam pernah menggambarkan bahwa bangsa Arab suatu hari nanti akan kembali menyembah berhala lata dan uzza.
Dari sini kiranya patut kita pertanyakan, apakah pantas bagi kaum Muslimin menyandarkan agama kepada para ulama, ustadz, kyai, syekh, dan semacamnya ?
Apakah mereka adalah pemilik petunjuk dan agama yang benar, sebagaimana Nabi dan Rasul ?
Apakah tidak berdosa bagi kaum Muslimin mentaati mereka, atau malah kita justru dianggap menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu Wata’ala ?
Toh pada kenyataannya mereka tak lebih dari sekedar corong dari sekte yg mereka ikuti, tak lebih dari sekedar da’i yg mengajak kepada kelompok mereka masing-masing.
Dari sinilah, maka patut bagi kaum Muslimin merenungkan dan menyadari bahwa petunjuk, Hidayah dan agama yang benar hanya bersama dengan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya dg judul Alhidayah hidayatan,
wallahul musta’an.