MAKNA ISLAM 

Bismillah 
Assalamualaikum 

Islam berasal dari kata aslim yaitu perintah Allah Subhanahu Wata’ala kepada nabi Ibrahim alaihi sholatu wassalam Al-Baqarah : 131


إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”

Oleh karena itu pengikutnya disebut sebagai Muslimin Al-Ḥajj : 78


وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Berjuanglah kamu pada (jalan) Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (kitab) ini (Al-Qur’an) agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada (ajaran) Allah. Dia adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.

Dan agama mereka disebut Islam (lihat surah almaidah 3)

“Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam semesta.” inilah jawaban nabi Ibrahim alaihi sholatu wassalam, jawaban ini mengandung tiga konsekuensi yaitu mendengar, taat dan ridho.

Dahulu ketika seorang muallaf masuk Islam maka ia terlebih dahulu diminta berbaiat kepada pemimpin tertinggi kaum Muslimin yaitu nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam, dan inti dari kalimat baiat itu adalah “kami berbaiat untuk mendengar dan taat dalam susah maupun senang, dalam sempit maupun lapang, dan tidak akan keluar dari ketaatan apapun yang terjadi”

Maka seorang Muslim terikat dengan ikrar dan sumpahnya kepada Allah dan RasulNya.

Baiat ini tentu bukan sekadar formalitas ataupun basa basi belaka, tetapi harus terwujud dalam prilaku dan tindakan, Allah Subhanahu Wata’ala memperingatkan An-Nūr : 51-52


إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ


Sesungguhnya yang merupakan ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memutuskan (perkara) di antara mereka hanyalah, “Kami mendengar dan kami taat.” Mereka itulah orang-orang beruntung.

Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.

Dan berfirman Al-Ahzāb : 36


وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا


Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.

Adapun orang yg mempermainkan sumpahnya kepada Allah dan RasulNya akan dicampakkan kederajat yang paling rendah, Al-Anfāl : 20-22


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ

إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ


Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar (perintah dan larangan-Nya).

Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata, “Kami mendengar.” Padahal, mereka tidak mendengar (tidak mengamalkannya).

Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk dalam pandangan Allah yang bergerak di atas bumi ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mau mendengar dan tidak mau mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak berakal.

Konsekuensi yg ketiga yaitu Ridho. 
Hamba yang ridho kepada Allah Subhanahu Wata’ala yaitu Hamba yg siap menerima apapun perintah dan larangan-Nya tanpa sesak didada, menerima dg senang hati, suka rela, tulus dan ikhlas, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Nisā : 65


فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا


Demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian tidak ada keberatan dalam jiwa mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.

Artinya keimanan seorang Muslim dipertaruhkan manakala masih ada perasaan beratt hati atas ketetapan Rasul-Nya.

Maka ridho inilah yg menjadi ukuran dari pengabdian seorang Muslim akan diterima dan dilipat gandakannya pahala atau tidak.


Wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar