Bismillah
Assalamualaikum
Dalam artikel sebelumnya telah di terangkan tentang tauhid Rububiyah, tauhid Mulkiyah dan Tauhid Uluhiyah, Ketiga tauhid ini ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah an nass 1-3.
Adapun tentang tauhid asma’ wa shifat adalah tidak ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alqur’an tidak pula oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sunnahnya.
Tauhid merupakan perkara pokok, perkara utama dan paling dasar dalam agama Islam, maka penetapannya haruslah dg dalil yg tegas dan jelas.
Bila penetapannya tanpa didasari dalil maka tentu penetapannya hanya melalui mekanisme takwil dan tahrif, sedang perlu anda ketahui bahwa kedua mekanisme ini adalah tercela, mentakwil dan mentahrif dalil adalah prilaku Yahudi dalam merusak agama dan prilaku orang yg berpenyakit hati dalam merekayasa kekacauan atau fitnah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Āli ‘Imrān : 7
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyābihāt, Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyābihāt untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang yang berakal sehat.
Dan berfirman An-Nisā : 46
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
Di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya (tahrif).
Tauhid menurut bahasa artinya menjadikan sesuatu jadi satu, tauhidullah artinya menetapkan Allah satu-satunya tak ada sekutu bagiNya, tak ada tandingan dan tak ada yang sama denganNya.
Hukum tauhidullah hanya berlaku pada tiga hal, yaitu pada rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah sebagaimana telah diterangkan, tapi apakah dalam hal asma’ wa shifat juga berlaku hukum tauhidullah ?! mari kita bahas..
Asma’ artinya nama-nama, nama-nama bagi Allah menggambarkan sifatNya sebab nama-namaNya berasal dari sifatNya, bila Allah menamakan diri dengan Arrahman dan Arrahim yang berarti pengasih dan penyayang, maka nama ini menggambarkan sifatNya dimana Allah telah melimpahkan kasih dan sayangnya kepada segenap mahluk secara umum dan kepada manusia secara khusus dengan menurunkan kitabNya sebagai petunjuk dan mengutus RasulNya sebagai teladan, semua ini adalah atsar (jejak) yang menunjukkan kasih dan sayangNya.
Bila anda telah mengerti pengertian tauhid, selanjutnya apakah Allah Subhanahu Wata’ala bersendiri dari sisi nama dan sifat, dalam arti apakah Allah Subhanahu Wata’ala tidak punya sekutu atau tidak bersekutu dengan siapapun dalam hal nama dan sifat ?!.
Bila anda membaca Alqur’an maka didapati Allah Subhanahu Wata’ala memberi nama matahari dengan syams, bulan dengan qomar, bintang-bintang dengan nujum, jadi apakah pantas menetapkan bahwa Allah bersendiri dari sisi nama-nama ? dari sisi ini saja telah tampak batilnya tauhid ini.
Adapun dari sisi sifat maka Allah Subhanahu Wata’ala telah mensifati NabiNya Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dengan rauf dan rahim, sebagaimana Ia telah mensifati diriNya dengan sifat yang sama, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, At-Taubah : 128
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Lihatlah, ini adalah dua hujjah yang membantah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak bersendiri dari sisi asma’ wa shifat, sehingga menetapkan tauhid asma’ washifat dalam Islam adalah perkara yg batil, bid’ah dan mungkar.
Wallahul musta’an.