Bismillah
Assalamualaikum
Termasuk dari kesempurnaan tauhid seorang Muslim adalah dg memahami tentang Syirik dan menjaga diri darinya.
Syirik termasuk diantara perbuatan dosa besar yang paling besar, pelakunya diancam akan dihancurkan amal shalehnya dan dimasukkan dalam Neraka, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Az-Zumar : 65
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. Oleh karena itu, sembahlah Allah (saja) dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Syirik yang terjadi pada manusia dibagi pada empat tingkatan, yaitu syirik besar, syirik kecil, syirik khafy dan wasilah kepada syirik.
SYIRIK BESAR yaitu syirik yang bila seseorang terjatuh padanya ia diancam hancur amalnya, batal imannya, tidak diampuni dosa-dosanya, diharamkan dari surga, kekal dalam neraka, dan lain-lain.
Syirik besar dalam pembahasannya dapat dibagi pada beberapa keadaan diantaranya :
1. Menyembah selain Allah Subhanahu Wata’ala, seperti yang dilakukan kaum musyrikin dari agama-agama ardhiyah, seperti hindu, budha, majusi dan yg lainnya.
2. Menyembah bersama Allah, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang jahil dari kaum Muslimin, mereka menyembah Allah Subhanahu Wata’ala namun bersamaan dengan itu mereka juga mendatangi tempat-tempat keramat untuk menghamba kepadanya, mereka meletakkan sesaji dalam ritual mengagungkan roh sembahannya.
Atau mereka percaya kepada kekuasaan Allah dan berdo’a kepadaNya dalam setiap hajatnya tapi bersamaan dengan itu mereka juga mendatangi dukun, tukang ramal, orang pintar dalam setiap hajatnya.
Atau menyimpan jimat, pusaka, benda aneh yg dipercaya dapat mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya.
Atau syirik dalam tawassul dan syafaat, yaitu mereka yang mendatangi kuburan orang-orang sholeh dengan keyakinan bahwa orang sholeh tersebut punya kedekatan dengan Allah, mereka berkata, “kami memanfaatkan kedekatan mereka untuk menyampaikan hajat kami kepada Allah”, ini adalah syirik yang nyata sebagaimana dijelaskan Allah dalam Yūnus : 18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“mereka meyembah selain Allah apa yang tidak dapat memberi bahaya tidak juga manfaat bagi mereka sambil berkata, “mereka itu pemberi syafaat kami disisi Allah”, katakan (pada mereka), “apakah kalian hendak memberitakan pada Allah (melalui mereka) apa yang tidak diketahuiNya dilangit dan bumi, maha suci Allah dan maha tinggi dari apa yang mereka sekutukanNya”.
Dalam hal ini tawasshul yang dibenarkan hanyalah tawasshul kepada orang-orang sholih yang masih hidup dengan mendatanginya dan minta kepadanya agar mendoakan kita kebaikan seperti yang banyak dilakukan oleh para sahabat ketika Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup.
Atau syirik dalam do’a, ketika berlebihan terhadap Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan hanya dalam pujian dan sanjungan tapi juga dalam perkara do’a dan ibadah, Seperti perkataan mereka ya rasulallah..!, atau ya khaira khalqillah…!, atau ya habibie ya muhammad..! ini adalah syirik dalam do’a.
Atau perkataan mereka bismillah wabijahi muhammad, atau ya robbi bil musthofa, atau yang semacamnya yang menggandengkan nama Allah dengan nama nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam berdo’a, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Jinn : 18
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“sesungguhnya mesjid mesjid adalah milik Allah maka janganlah kalian berdo’a bersama Allah seorangpun”.
wallahul musta’an.