SYIRIK BESAR bagian 2

Bismillah
Assalamualaikum

Prilaku syirik besar bagian 2 yg wajib diwaspadai adalah antara lain :

3. Menjadikan bagi Allah tandingan atau saingan, ini banyak dilakukan masyarakat awam kaum Muslimin, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Baqarah : 165

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah.

Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal)”.

Kadar cinta yang sama kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada selainnya akan menjatuhkan pelakunya kedalam syirik ini.

Seperti perkataan orang-orang yang tempatkan dunia dan akhirat pada kadar yang sama dengan anggapan “carilah dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan carilah akhirat seakan-akan esok kamu akan mati”, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Qaṣaṣ : 77

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Termasuk juga orang-orang yang punya sesuatu yang dicintainya, menarik hatinya dan sangat mengkhawatirkannya, seperti kendaraan yang selalu dirawat, kebun-kebun atau sawah, rumah indah yang menyenangkan, dan lain-lain dari apa saja yang begitu diperhatikan, dikhawatirkan, dan begitu bernilai baginya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 92

لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ

Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.

Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala menuntunkan terhadap harta yang begitu dicintai agar di infaqkan dijalan Allah, hal ini untuk membersihkan hati dari cinta kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala sekaligus membuktikan bahwa cinta hamba hanya semata kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Termasuk juga dalam syirik ini adalah ketika rasa takut hamba kepada Allah Subhanahu Wata’ala sama dengan takutnya kepada selainNya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, An-Nisā : 77

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), tegakkanlah salat, dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba segolongan mereka takut kepada manusia (musuh) seperti ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih takut daripada itu. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.”

Dan berfirman, At-Taubah : 18

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Semoga mereka itulah yang termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.

Sehingga dapat difahami bahwa rasa takut berlebihan pada sesuatu selain Allah dapat menjatuhkan pada Syirik ini seperti takut mati yg menghalanginya berjihad, takut miskin, takut hantu, takut pada boss sehingga rela tinggalkan sholat atau kewajiban agama yg lain, dan tentu masih banyak contoh lainnya, wallahul musta’an.

4. Memperturutkan hawa nafsu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Jāṡiyah : 23

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang jadikan hawa nafsunya sebagai sembahan, dan Allah sesatkan ia diatas ilmu, dan Allah segel pendengarannya dan hatinya, dan Allah beri tutup pada penglihatannya, maka siapakah yang dapat menunjukinya setelah Allah sesatkan..?, apakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran..!” (al jatsiyah 23)

Kalimat “Allah sesatkan ia diatas ilmu” artinya ilmu telah sampai dan mereka telah mengetahuinya namun hawa nafsu menghalangi mereka mengikutinya, hal ini seperti yang terjadi pada Yahudi dan Nasrani dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mereka menolak kebenaran karena kecongkakan, hasad dan dengki yang bersarang dalam dada.

Dan berfirman, At-Taubah : 24

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.

Wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar