SYIRIK BESAR bagian 4

Bismillah
Assalamualaikum

BERSELISIH DAN BERPECAH BELAH

Allah subhanahu wata’ala berfirman Al-Anfāl : 63

وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dia (Allah) mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Seandainya engkau menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha perkasa lagi Mahabijaksana.

Demikian inilah kondisi kaum mu’minin dizaman Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mereka dalam keadaan satu hati dan bersaudara.

Dan berfirman mengenai orang orang kafir dan munafik Al-Ḥasyr : 14

لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ

Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak berakal.

Sahabat pembaca, kalian tentu telah memahami realitas kaum muslimin saat ini, mereka terpecah belah, bercerai berai, saling bermusuhan, tidak bersatu dan bersinergi, keadaan ini tentu saja membuat gelisah orang orang yg beriman termasuk anda.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, 4.An-Nisā : 65

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian tidak ada keberatan dalam jiwa mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.

Artinya, bila dua orang muslim berselisih maka keduanya berada dalam ancaman Allah yang disertai sumpah, “demi Rabbmu mereka tidak beriman”, terus menerus mereka dalam ancaman ini hingga mendatangi Rasul Allah agar beliau putuskan perkara keduanya dan hilangkan perselisihan keduanya, atau mendatangi penggantinya sepeninggal beliau yaitu khulafa’ rasyidin mahdiyyin atau mendatangi amir beliau.

Bila tidak didapati salah satu dari ketiganya hendaknya kaum Muslimin berusaha menjauhi perselisihan dan menghindarinya, dengan cara beruzlah (lihat artikel sebelumnya bertema aljamaah alfiroq dan Al-uzlah)

Sebab tidak pantas bagi kaum Muslimin menghadapkan perselisihan kepada hakim lain, hakim-hakim yang lain hanyalah orang-orang yang menjunjung thogut dan berhukum dengan hukumnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, An-Nisā : 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulul amri (khalifah) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan pada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak bertahkim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sangat jauh.

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) pada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” engkau melihat orang-orang munafik benar-benar menghalangi mereka darimu.

Dan berfirman, 33.Al-Ahzāb : 36

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.

Dari uraian ini semoga dapat difahami bahwa betapa pentingnya keberadaan seorang Rasul ataupun khalifah ditengah kaum muslimin dimana Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan beliau sebagai satu satunya elemen pemersatu ummat, dan bahwa sekedar berselisih dalam perkara duniawi seorang muslim sudah berada dalam ancaman yg dapat menggugurkan status keimanan.

Khulafa’ rasyidin mahdiyyin adalah pewaris dalam memimpin ummat sepeninggal Nabi Shollallahu alaihi wassalam sebagaimana wasiat beliau “wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin mahdiyyin sepeninggalku gigitlah dg gigi geraham”

Karena besarnya pahala menghindari perselisihan dan membina persaudaraan maka Pembuat syariat memberi jaminan surga bagi orang-orang yang meninggalkan pertikaian walau dia berhak menuntut, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “aku jamin dengan sebuah rumah ditepi surga bagi orang-orang yang meninggalkan pertikaian walau berhak, dan sebuah rumah dipertengahan surga bagi orang-orang yang meninggalkan dusta walau dalam bercanda, dan sebuah rumah dibagian atas surga bagi orang yang baik akhlaknya” (Abu Daud 4168).

Setelah memahami tentang
larangan berselisih dan berpecah belah, dan kewajiban membina dan mempertahankan persatuan dan persaudaraan serta ancaman Allah Subhanahu Wata’ala yang disertai sumpah terhadap kaum yang berselisih dan berpecah belah, maka menjadi kewajiban kita menjadi bersatu dan bersinergi sebagaimana yang diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala, Āli ‘Imrān : 103

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Berpegangteguhlah kamu pada tali (agama) Allah semuanya, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.

Wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar