Bismillah
Assalamualaikum
Niat yaitu berbisik pada diri sendiri didalam hati ketika akan melaksanakan suatu amalan ketaatan, atau ketika sedang melakukan suatu kebaikan, atau meninggalkan suatu larangan, atau mengingkari suatu kemungkaran, dengan menyatukan tujuan kepada Allah saja.
Definisi ini disarikan dari beberapa hadist, diantaranya :
~> “barang siapa mati dan belum pernah berperang dan belum pernah berbisik pada dirinya sendiri untuk ikut berperang maka mati pada sebagian cabang dari kemunafikan” (Muslim 3533).
~> “Tidak ada lagi hijrah setelah fathu Makkah, yang ada hanyalah jihad dan niat (berjihad), maka bila kalian diajak untuk berangkat maka berangkatlah” (muttafaq alaih).
~> “setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan (ganjaran) sesuai niatnya, barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul maka hijrahnya karena Allah dan Rasul, dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin didapatkannya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu” (Bukhari 1)
~> “tiadalah engkau meninggalkan sesuatu karena takut pada Allah melainkan Allah akan memberi ganti dengan yang lebih baik” (Ahmad 19813)
~> “barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah merobah dengan tangannya, bila tidak sanggup maka dengan lisannya dan bila tidak sanggup maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman” (Muslim 70)
Maka ucapan seseorang didalam hati “aku melakukan ini karena Allah Subhanahu Wata’ala”, atau “aku meninggalkan ini karena Allah Subhanahu Wata’ala”, atau “aku mengingkari itu karena Allah Subhanahu Wata’ala” inilah yang disebut niat.
Berniat adalah suatu kekhususan bagi orang-orang yang beriman, karena merekalah yang menyembah Allah saja dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatupun.
Adapun orang lain selain orang-orang yg beriman, mereka tidak memiliki niat, mereka hanya memiliki al hamm ilal khair (keinginan-keinginan pada kebaikan), dan ini dimiliki oleh semua orang termasuk orang–orang kafir.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa yang berkeinginan pada kebaikan namun dia tidak melakukannya maka dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna, dan bila melakukannya maka dicatat baginya 10 kebaikan hingga 700, dan hingga kelipatan-kelipatan yang banyak” (muttafaq ‘alaih).
Bagi orang-orang kafirpun dicatat bagi mereka pahala-pahala kebaikannya, namun diakhirat nanti setelah menghadap Allah dengan membawa amalannya, lalu tiba-tiba dihancurkan jadi debu yang berhamburan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Furqān : 23
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Kami perlihatkan segala amal yang mereka pernah kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.
Adapun bagi orang yang beriman, keinginan-keinginan kepada kebaikan saja tidak cukup sehingga diniatkan, karena dapat dirusak oleh riya’, ujub, sum’ah dan berbagai ambisi-ambisi dunia.
Hal ini sebagaimana diceritakan dalam satu hadist mengenai tiga orang yang dihadapkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala seorang mujahid, seorang pembaca Al Quran, dan seorang dermawan, lalu ditanyakan kepada mereka nikmat-nikmat Allah, mereka pun mengakuinya, lalu ditanya, apa yang telah kalian lakukan dengan nikmat-nikmat itu ? mereka semua mengaku telah berbuat kebaikan karena Allah, namun mereka semua didustakan, dikatakan kepada mujahid : “kamu berdusta, bahkan kamu berperang dengan gagah berani agar dipanggil pemberani, dan kamu telah mendapatkannya”.
Dikatakan kepada pembaca Al Quran : “kamu berdusta, bahkan kamu membaca Al Quran agar dipanggil qori dan qoriah dan kamu telah mendapatkannya”.
Dan dikatakan kepada sidermawan ; “kamu berdusta, bahkan kamu menderma agar orang-orang memanggilmu sidermawan, dan kamu telah mendapatkannya” lalu diperintahkan agar mereka diseret dan dilemparkan ke Neraka (Muslim 3527).
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “yang paling aku takutkan pada kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’ “. Maka dalil-dalil ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam setiap amalan.
Wallahul musta’an.