Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 8
Hizby yaitu prilaku membanggakan kelompok, sekte, organisasi, membela, memperjuangkan dan membesarkannya.
Ashoby yaitu prilaku membanggakan keturunan, kebangsaan, negara, suku, daerah, dst. Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “tidak ada keutamaan bagi Arab begitu pula bagi non Arab kecuali dengan TAQWA, Semuanya berasal dari Adam sedang Adam berasal dari tanah”.
Bila mengamati fenomena kehidupan kaum Muslimin saat ini tampak bahwa orang-orang yang punya kepedulian pada agama berupaya mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, namun karena kejahilan yang merata hampir tak didapati satupun dari mereka bersih dari unsur-unsur jahiliyah terutama dalam masalah hizby dan ashoby, sebab mereka tak punya pemimpin yang mempersatukan disamping kejahilan yang payah mengenai unsur-unsur hizby.
Mereka yg terlanjur termakan doktrin kelompoknya memiliki sikap fanatik ekstrem dan sangat antipati terhadap orang orang yg diluar kelompoknya. Kebenaran hanya apa yg dipegangi oleh kelompoknya saja dan yg diajarkan oleh ustadznya, sehingga semua nasehat kebenaran yang dari luar kelompoknya akan ditolak mentah mentah dan dianggap syubhat yang menyesatkan.
Karena itu tak salah nasehat Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam kepada orang-orang yang tidak mendapati pemimpin bagi kaum Muslimin atau khalifah agar menjauhi segala firqoh dengan mengasingkan diri atau UZLAH dan menjauh dari masyarakat jahiliyah, karena tak satupun dari mereka yang mampu selamat dari unsur-unsur jahiliyah, hizby dan ashoby kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala.
Sementara itu orang-orang jahilnya yang memang tak punya kepedulian pada agama, senantiasa dijurang kebinasaan, diambang batas kekafiran, bergelimang syirik, bid’ah, hurafat, takhayul, dan yg lainnya, ini menunjukkan bahwa ketika seorang berupaya komitmen pada agamanya namun tidak berada dalam lingkup aljamaah tidak pula beruzlah dari masyarakat jahiliyah, maka mereka tidak akan selamat dari unsur-unsur jahiliyah utamanya hizby dan ashobiyah kecuali orang-orang yang dirahmati dengan diberi ilmu yang benar, maka merekapun terjerumus padanya, membanggakannya, mencintainya, membelanya dan mengajak kepadanya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman 30.Ar-Rūm : 31
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(Hadapkanlah wajahmu) dalam keadaan kembali (bertobat) kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, laksanakanlah salat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik,
(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa berperang dibawah bendera ‘immiyah (orang awam yang jahil mengenai agama) bencinya diatas dasar ashobiyah, ajakannya kepada ashobiyah, dan menolong ashobiyah lalu mati maka matinya jahiliyah” (Muslim 3436)
Kedua dalil ini mengisahkan empat sikap dan sifat yang ada pada seseorang ketika bergabung pada suatu kelompok, golongan atau kepada suatu sistem kepemimpinan selain khilafah, yaitu berperang atau rela mati karena membelanya, cinta dan benci yang dibangun diatasnya, mengajak padanya dan menolongnya dengan mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk membela dan membesarkannya.
Bila keempat sikap dan sifat ini atau salah satunya mereka berikan kepada suatu kelompok diantara banyak kelompok atau sekte, atau kepada suatu sistem selain khilafah maka mereka inilah yang disebut hizbiyyun dan ashobiyyun dan tak ada yang dapat menyelamatkan kaum Muslimin dari ancaman hizby dan ashobiyah selain bergabung dengan pemimpin kaum Muslimin (khalifah) dan berbaiat padanya.
Dengan mencermati perintah-perintah Allah dan Rasul agar taat kepada Allah, Rasul, dan pemimpin kaum Muslimin, menerima keputusan mereka dengan senang hati tanpa rasa susah dan sempit dada, akan tampak bahwa hikmah, sasaran dan tujuan yang diinginkan darinya adalah agar terbentuknya persatuan dan kesatuan, hilangnya fitnah dan perpecahan serta terpusatnya kekuatan pada satu komando, inilah keadaan kaum Muslimin ketika Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup, dan inilah aljamaah.
Orang-orang bijak telah menasehati dari generasi kegenerasi bahwa “ummat ini takkan pernah jadi baik kecuali dengan apa yang jadikan baik pendahulunya, ummat ini takkan berjaya kecuali dengan apa yang jadikan jaya pendahulunya, ummat ini takkan pernah terbebas dari kehinaan dan kekalahan kecuali dengan apa yang jadikan bebas pendahulunya”. Lalu apakah yang jadikan pendahulunya baik, jaya, dan terbebas dari kehinaan..? jawabannya cuma satu yaitu aljamaah yang dibangun diatas tauhid, yang bersih dari syirik dan ashobiyah, wallahul musta’an.