Bismillah
Assalamualaikum
FANATISME YG SALAH TEMPAT
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Gafir : 69-76
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّىٰ يُصْرَفُونَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ
ثُمَّ قِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تُشْرِكُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ
ذَٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang (selalu) membantah ayat-ayat Allah, bagaimana mereka dapat dipalingkan?
(Mereka adalah) orang-orang yang mendustakan Kitab (Al-Qur’an) dan wahyu yang dengannya para rasul Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui ketika belenggu dan rantai (dipasang) di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas. Mereka kemudian dibakar ke dalam api.
Lalu, dikatakan kepada mereka, “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?” Mereka menjawab, “Mereka telah lenyap dari (hadapan) kami. Sebenarnya kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu pun.” Demikianlah Allah membiarkan orang-orang kafir menjadi sesat.
(dikatakan pada mereka), “hal itu disebabkan oleh apa yang kalian banggakan secara tidak benar (fanatik yang salah tempat) dan apa (kebenaran) yang kalian lecehkan, masuklah ke pintu-pintu (neraka) Jahanam dan kamu kekal di dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (ghofir 69-76)
Membanggakan apa yang ada pada dirinya diiringi dengan kecintaan dan pembelaan terhadapnya, inilah yang disebut dengan fanatisme. Fanatisme adalah satu sikap dan prilaku yang fenomenal sebab ia ada dan dimiliki oleh setiap insan manusia, sehingga wajar bila sikap dan perilaku ini kadang menghiasi kala terjadi benturan dan persinggungan baik antar peribadi maupun kelompok.
Fanatisme adalah suatu sikap dan perilaku yang terpuji kala ditempatkan pada tempat yang benar, yaitu kepada Allah Subhanahu Wata’ala, rasulNya dan agamaNya, namun ia menjadi jelek dan tercela kala ditempatkan pada tempat yang salah.
Lihat misalnya kisah perjuangan para nabi dan rasul dimasa lampau, bagaimana besar dan beratnya derita-derita yang harus mereka tanggung karena berbenturan dengan sikap dan perilaku fanatisme yang ada pada kaumnya, fanatik terhadap ajaran nenek moyang menjadikan mereka begitu pongah terhadap kebenaran yang dibawa oleh para rasul, tak jarang nabi dan rasul-rasul Allah harus menjadi bulan-bulanan massa, atau lari dan bersembunyi untuk menyelamatkan diri.
Kaum Yahudi dan Nasrani dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam termasuk dalam deretan para penentang yang sangat getol, padahal mereka telah mengetahui dengan pasti kebenaran yang dibawa. Namun mereka lebih memilih jadi lawan dan penentang kebenaran, penyebabnya tiada lain hanyalah fanatisme yang merasuki relung hati mereka.
Abdullah bin Ubay bin salul dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Abdullah bin Saba’ dizaman para sahabat, mereka berdua lebih memilih jadi oposisi yang selalu menyuarakan pikiran, sikap dan pandangan yang berseberangan ketimbang menjadi pengikut setia yang selalu mendengar dan taat, perbuatan merekapun tidak lepas dari fanatisme yang ekstrem.
Sekarang inipun kita dengan mudah dapat melihat dan menyaksikan adegan dan berbagai peristiwa tragis yang dimotori oleh fanatisme ekstrem ini, tawuran antar pelajar, antar kampung dan gang, adalah bagian darinya, belum lagi berbagai peristiwa tragis yang diiringi penyerangan dan pembantaian yang konon dipicu oleh fanatisme suku, agama dan ras.
Tawuran antar pengikut partai politik atau tawuran antar maniak sepak bola dalam membela klub masing-masing, atau yang lainnya, semuanya merupakan adegan yang tidak lepas dari fanatisme.
Termasuk dalam Hal ini yaitu perpecahan dikalangan kaum muslimin dimana setiap kelompok merasa paling benar sehingga sulit menerima nasehat dari yg diluar kelompokmya.
Karena itu wajar bila pada kasus fanatisme extreme seperti ini Allah Subhanahu Wata’ala mensifati orang-orang yang terjangkit penyakit ini dengan “mereka itu tuli, bisu dan buta maka mereka tak dapat kembali” (albaqorah 18).
Fanatisme inilah yang dengan izin Allah menjadikan mereka tuli bisu dan buta, senyata apapun kebenaran dihadapannya mereka tak mampu melihat, mendengar, apalagi untuk menyatakannya sebagai perinsip yang dipegangi.
Lalu apakah orang yang terjangkit penyakit ini masih ada harapan untuk bertaubat..?. Inilah penyakit fanatisme yang salah tempat yang sepatutnya kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari dijangkiti penyakit ini, wallahul musta’an.