Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 7
ITTIBA’ YG SALAH TEMPAT
Mengikut dan diikuti sesungguhnya sudah menjadi tradisi manusia sejak dahulu, ditengah masyarakat manusia selalu saja ada orang yg tersohor dan diikuti banyak orang, tersohor karena kekayaan, kekuasaan, kepandaian, atau yg lainnya.
Dewasa ini bermunculan figur figur, bintang dan tokoh yg digandrungi banyak orang tak terkecuali dalam hal agama.
Mereka adalah para ustadz figuran yg memiliki cukup banyak pengikut setia, para pengikut ini senantiasa menantikan fatwa fatwa dan arahan mereka untuk didengar, ditaati dan diamalkan.
Kadang diantara para asatidz figuran itu terjadi perbedaan pandangan dalam satu atau beberapa permasalahan lalu terjadilah saling tahdzir dan saling menjatuhkan diantara mereka, para pengikut dan audiens mereka pun ikut ikutan membela mati matian sang ustadz idola dg penuh semangat jjihad hingga rela mati, dia mungkin juga akan nyinyir kepada lawan kubunya dg mengeluarkan tudingan dan kata kata yg tentu hisabnya amat berat, na’udzu billah.
Dalam Alquran Allah subhanahu wata’ala memberikan tuntunan siapa sesungguhnya yg pantas diikuti, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Yāsin : 21
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Artinya hendaknya kamu memperhatikan orang orang yg di ikuti itu, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari karena salah mengikut orang yg tdk berada diatas petunjuk Allah subhanahu wata’ala. Karena mengikut pada orang yg salah bisa menjerumuskan pelakunya pada syirik besar yaitu menjadikan bagi Allah tandingan, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah subhanahu wata’ala dalam ayat berikut Al-Baqarah : 165-167
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ
Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).
(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti saat mereka (orang-orang yang diikuti) melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.
Orang-orang yang mengikuti berkata, “Andaikan saja kami mendapat kesempatan kembali (ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan bagi mereka. Mereka sungguh tidak akan keluar dari neraka. (Al-Baqarah : 165-167)
Demikianlah diterangkan oleh Allah subhanahu wata’ala derita sang idola bersama pengikut, audiens dan penggemarnya, mereka semua bertemu dalam neraka sambil berbantahan dan saling menyesali satu sama lain.
Karena itulah wahai kaum muslimin perhatikanlah peringatan Allah subhanahu wata’ala yg satu ini dg baik mumpung nyawa masih dibadan.
Hendaknya difahami bahwa sesungguhnya yang direkomendasikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk diikuti dalam yasin 21 diatas hanya almuhtadun (orang yg diberikan petunjuk oleh Allah Subhanahu Wata’ala) dan mereka disebutkan sebagai almursalun (para Rasul) sebagaimana pada ayat sebelumnya.
Lebih lengkapnya ayat tersebut berbunyi Yāsin : 20-21
وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Datanglah dengan bergegas dari ujung kota, seorang laki-laki. Dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para rasul itu!
Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin 20-21)
Maka orang orang yg ditunjuki atau almuhtadun atau almahdy sesungguhnya adalah rasul rasul Allah Subhanahu Wata’ala, dan diantara mereka ada yg diutus setelah zaman kenabian, bukan sebagai nabi melainkan sebagai KHALIFAH.
Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Shollallahu alaihi wassalam “sesungguhnya bani Israil dipimpin oleh nabi nabi tiap mati seorang nabi Allah bangkitkan penggantinya, sedangkan aku tak ada lagi nabi setelah aku, yg ada hanya khalifah dan akan banyak jumlahnya” (muttafaq alaihi)
Ketaatan dan kepatuhan disertai loyalitas, cinta dan pengorbanan dalam aturan Islam sesungguhnya diberikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Rasul Shollallahu alaihi wassalam, dan ulil amri, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala 4.An-Nisā : 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulul amri (pemegang kekuasaan) yg dari kalangan kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).
Pemimpin yg dari kalangan kamu dalam ayat ini maksudnya adalah khalifah sebagaimana penegasan Nabi Shollallahu alaihi wasallam “wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah dg gigi geraham” (Abu Daud 3991).
Wallahul musta’an.