Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 18
Agama sesungguhnya adalah milik Allah semuanya, Allah Subhanahu Wata’ala yg menurunkannya, Dia pula yang menentukan aturan-aturannya. Tak satupun diantara manusia yang diperbolehkan berbicara atas nama Allah atau atas nama agama tanpa dalil, bahkan Nabi Shollallahu alaihi wasallam pun diancam oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmanNya Al-Hāqqah : 44
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Sekiranya dia (Nabi Muhammad) mengada-adakan sebagian saja perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami benar-benar menyiksanya dengan penuh kekuatan. Kemudian, Kami benar-benar memotong urat nadinya. Maka, tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) darinya (pemotongan urat nadi itu).
Karena itulah maka berbicara agama tanpa dalil dan ilmu adalah prilaku dosa besar yang bahkan melebihi dosa syirik, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-‘Ankabūt : 68
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ ۚ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
Siapakah yang lebih dhalim daripada orang yang mengada-adakan kebohongan atas nama Allah atau orang yang mendustakan kebenaran ketika (kebenaran) itu datang kepadanya? Bukankah dalam (neraka) Jahanam adalah tempat bagi orang-orang kafir?
Artinya tidak ada lagi kedholiman yang mengalahkan kedua dosa besar ini.
Kerusakan pada agama di mulai ketika pintu ijtihad dibuka, ketika manusia berbicara agama dari hasil pemikirannya, sebagian ahli ilmu memfatwakan bolehnya berijtihad dalam agama, maka bermunculanlah tokoh agama yg sesungguhnya tak berkompeten,
agama pun ditumpangi dgn beragam kepentingan dg dalih ijtihad.
Sesungguhnya tidak ada ijtihad dalam agama, sebab ijtihad hanya bagian dari dhann (prasangka) dan dhann tidak bernilai dihadapan kebenaran sedikitpun. Barang siapa membolehkan diri berijtihad dalam agama, dia membolehkan diri salah dalam perkara agama dan barang siapa salah dalam perkara agama, dia tidak akan lepas dari salah satu ancaman Allah Subhanahu Wata’ala dan RasulNya Shollallahu ‘Alaihi Wasallam berikut ini :
# Berkata atas Allah tanpa Ilmu, sebagaimana firmanNya : Al-A’rāf : 33
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan segala perbuatan keji yang tampak dan yang tersembunyi, perbuatan dosa, perbuatan melampaui batas tanpa alasan yang benar. (Dia juga mengharamkan) kamu mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan bukti pembenaran untuk itu dan (mengharamkan) kamu mengatakan tentang Allah apa yang tidak kamu ketahui.”
# Mengajari Allah agama-Nya, sebagaimana firmanNya : Al-Ḥujurāt : 16
قُلْ أَتُعَلِّمُونَ اللَّهَ بِدِينِكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Katakanlah (kepada mereka), “Apakah kamu akan memberi tahu Allah tentang agamamu (keyakinanmu), padahal Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi serta Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
# Berdusta atas Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, sebagaimana sabda beliau : “Barang siapa berdusta atasku dengan sengaja, dia telah siapkan tempat duduknya dari Neraka”(muttafaq alaih)
# Mengadakan perkara baru dalam agama, sebagaimana sabda beliau :“Hendaklah kalian waspada dari perkara-perkara baru, karena setiap perkara baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan dalam Neraka” (Abu Daud 3991)
# Menetapkan Sunnah-Sunnah yang jelek, sebagaimana sabda beliau :“Barang siapa menetapkan dalam Islam Sunnah yang jelek maka baginya dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sepeninggalnya, tidak dikurangi dari dosa mereka sedikitpun” (Muslim 1691)
# Amalan yang tertolak, sebagaimana sabda beliau :“Barang siapa mengamalkan sesuatu yang tidak atas perintah kami maka tertolak” (Muslim 3243), Dan lain-lain dari dalil-dalil yang semakna.
IJTIHAD hanya dibolehkan bagi hakim, sebagaimana sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam: “Bila hakim berijtihad lalu benar, maka baginya 2 pahala dan bila salah maka baginya satu pahala” (An Nasai 5286).
HAKIM yaitu orang yang diberi kewenangan memutuskan perkara diantara orang-orang yang berselisih dalam perkara dunia.
Nabi Daud dan Sulaiman ‘Alaihima Sholatu Wassalam, keduanya hakim sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran (al anbiya 78-79), ketika menghadap 2 orang yang bertikai, pemilik kambing dan pemilik kebun, Daud Alaihi Sholatu Wassalam keliru dalam menetapkan keputusan, lalu Allah beri pemahaman kepada Sulaiman ‘Alaihi Sholatu Wassalam, Sulaimanlah yang benar dalam berijtihad. Maka keduanya terpuji disisi Allah Subhanahu Wata’ala, Karena keduanya hakim. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Anbiyā : 78-79
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ وَكُنَّا لِحُكْمِهِمْ شَاهِدِينَ
فَفَهَّمْنَاهَا سُلَيْمَانَ ۚ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُودَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ ۚ وَكُنَّا فَاعِلِينَ
(Ingatlah) Daud dan Sulaiman ketika mereka memberikan keputusan mengenai ladang yang dirusak pada malam hari oleh kambing-kambing milik kaumnya. Kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu.
Lalu, Kami memberi pemahaman kepada Sulaiman (tentang keputusan yang lebih tepat). Kepada masing-masing (Daud dan Sulaiman) Kami memberi hikmah dan ilmu. Kami menundukkan gunung-gunung dan burung-burung untuk bertasbih bersama Daud. Kamilah yang melakukannya.
Dan banyak hadits-hadits shohih menceritakan perjalanan hidup keduanya dalam kaitannya sebagai hakim bagi orang-orang yg berperkara.
Termasuk Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam ketika dihadapkan 2 orang yang berselisih beliau Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda : “Kami hanya manusia biasa dan kalian mengajukan perkara kepadaku dan terkadang seorang diantara kalian lebih pandai berbicara dari lawannya, sehingga aku sangka kebenaran ada padanya, maka barang siapa yang aku beri kemenangan padahal itu bukan haknya, hendaklah di kembalikan pada yang berhak karena itu adalah potongan dari api Neraka”.(muttafaq alaih)
Perhatikanlah, bagaimana para Nabi berijtihad ketika menjalankan fungsi sebagai hakim bagi orang-orang yang berselisih dalam perkara dunia. Adapun dalam perkara agama tidak ada ijtihad, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Najm : 2-5
مَا ضَلَّ صَاحِبُكُمْ وَمَا غَوَىٰ
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ
إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
عَلَّمَهُ شَدِيدُ الْقُوَىٰ
kawanmu (Nabi Muhammad) tidak sesat, tidak keliru, dan tidak pula berkata (tentang Al-Qur’an dan penjelasannya) berdasarkan hawa nafsu(-nya). Ia (Al-Qur’an itu) tidak lain, kecuali wahyu yang disampaikan (kepadanya)
yang diajarkan kepadanya oleh (malaikat) yang sangat kuat (Jibril)
Dan berfirman Al Haqqoh 44-47
وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الْأَقَاوِيلِ
لَأَخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ
Sekiranya dia (Nabi Muhammad) mengada-adakan sebagian saja perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami benar-benar menyiksanya dengan penuh kekuatan. Kemudian, Kami benar-benar memotong urat nadinya. Maka, tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami) darinya (pemotongan urat nadi itu).
Dan berfirman Yūnus : 15
وَإِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ ۙ قَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا ائْتِ بِقُرْآنٍ غَيْرِ هَٰذَا أَوْ بَدِّلْهُ ۚ قُلْ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أُبَدِّلَهُ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِي ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۖ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ
Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami secara jelas, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami (di akhirat) berkata, “Datangkanlah kitab selain Al-Qur’an ini atau gantilah!” Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tidaklah pantas bagiku menggantinya atas kemauanku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang dahsyat jika mendurhakai Tuhanku.”
wallahul musta’an.