DALAM BELENGGU KEPALSUAN

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 14

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Kahf : 103

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

Katakanlah, “Apakah perlu kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya ?”

(Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah melakukan yg terbaik.

Mereka itu adalah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhannya dan (kufur pula terhadap) pertemuan dengan-Nya. Maka, amal mereka sia-sia dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.

Itulah balasan mereka (berupa neraka) Jahanam karena mereka telah kufur serta menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasulKu sebagai olok-olokan. (103-107)

Membebaskan diri dari ketertipuan atau belenggu kepalsuan tentunya dimulai dari memahami hakikat kebenaran dan membebaskan alam pikiran dari beragam kepalsuan yang telah mencekoki otak dan hati.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjalankan dakwah ilallah selama lebih kurang tiga belas tahun di Makkah, ketika itu ka’bah diliputi dengan sejumlah berhala dari yang kecil hingga yang besar jumlahnya tak kurang dari 360 berhala. Meski demikian, beliau tetap melaksanakan sholat disisi ka’bah dan tetap tawaf disekelilingnya sementara patung-patung itu ada disana. Beliau dan para sahabat tidak berfikir untuk menyerang dan menghancurkan berhala-berhala itu, sekiranya dilakukan tentu akan berakibat kebinasaan, karena belum ada perimbangan kekuatan, disamping itu tindakan demikian tidak akan menghentikan dengan segera penyembahan terhadap berhala, para penyembahnya akan segera membuat lagi berhala-berhala lain dihari berikutya dengan cara memahatnya atau membelinya, sebab penyembahan berhala itu telah tegak dalam alam pikiran mereka, telah menyatu dg hati dan jiwa mereka sebelum berhala-berhala itu dibuat, dibentuk dan disembah.

Bila anda mulai berfikir tentang apa yang ada dihati mereka, dipikiran mereka, dan apa yang melandasi semua aktivitas mereka mungkin anda akan terarah pada makna kepalsuan yang kami maksud dalam bahasan ini, kepalsuan itu ada dibenak, hati dan pikiran ummat manusia, kepalsuan itu adalah ego, kejahilan dan syubuhat.

Tiada arti bagi seseorang berjalan dimuka bumi dengan santai tanpa memanfaatkan pikiran dan daya nalarnya, ia mendengarkan beragam peristiwa, membaca dari beragam sumber pengetahuan, dan menyaksikan bekas dan jejak peninggalan ummat-ummat terdahulu tanpa mencoba memikirkan dan memahaminya.

Akan tetapi yang terpenting baginya adalah mengamati dengan mata dan telinga, memikirkan dengan otak dan memahami dengan hatinya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Ḥajj : 45

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan).

Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (46-47).

Sejarah adalah cermin masa depan, dan asas bagi strukturnya, didalamnya terdapat sunnatullah yang berlaku secara umum, hanya suatu kaum yang berakar kuat pada sejarahnya yang dapat menata masa depannya dengan penuh optimisme, Islamlah satu-satunya agama yang berakar kuat pada sejarah masa lalunya, karena itu kaum muslimin mestinya senantiasa mengambil pelajaran dari ummat-ummat terdahulu dalam hal baik dan buruknya dan menjadikannya landasan bagi kehidupan selanjutnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,3.Āli ‘Imrān : 137

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“sungguh telah berlalu sebelum kalian banyak sunah-sunnah, maka berjalanlah berkeliling bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan dari orang-orang yang mendustakan” (ali Imron 137).

Dan berfirman, 35.Fāṭir : 42

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

“mereka bersumpah serius, ”andai datang kepada kami seorang pemberi peringatan niscaya kami akan jadi kaum yang lebih kuat berpegang pada petunjuk dari kaum yang lain”, ketika peringatan itu datang ternyata tidak menambah bagi mereka selain semakin lari darinya, mereka berlaku sombong di bumi dan mempersiapkan makar-makar keji, makar keji itu tidak akan menimpa (dosanya) selain diri mereka sendiri, maka apalagi yang mereka tunggu selain sunnah-sunnah (seperti) yang menimpa ummat terdahulu, sunnah-sunnah Allah tidak akan kamu dapati berubah dan tidak akan kamu dapati bergeser.

Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul), padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka? Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu makhluk pun yang bergerak dan bernyawa di bumi ini. Akan tetapi, Dia menangguhkan (hukuman)-nya sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka, apabila datang ajal (waktu ditimpakannya hukuman atas) mereka, sesungguhnya Allah hanya Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (fathir, 42-45).

Demikianlah sunnah- sunnah Allah dibumi ini yang berlaku secara umum, karakternya akan selalu sama. Ia berlaku pada keseluruhan manusia tanpa memandang agama, ras, suku dan golongan. Masyarakat manapun yang menyimpang dari kebenaran pasti akan mendapatkan hukuman atas penyimpangannya walaupun ia masyarakat para sahabat didikan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam,

Coba renungkan pada apa yang menimpa para sahabat dalam perang Uhud, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 165

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“mengapa ketika kalian ditimpa musibah (kekalahan dalam perang uhud) padahal kalian telah timpakan musibah pada mereka dua kali lipat (dalam perang badar), kalian berkata, “dari manakah datangnya kekalahan ini ?”, jawablah, “itu dari diri kalian sendiri”, sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu” (ali Imron 165).

Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan sebab-sebab kekalahan itu dengan firmannya, Āli ‘Imrān : 152

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“sungguh Allah telah penuhi janjiNya pada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izinNya, hingga, ketika kalian melemah dan berselisih pada sesuatu hal, kalian mengabaikan perintah Nabi kala diperlihatkan pada kalian apa yang disukai, sebagian kalian ada yg menginginkan dunia dan yang lain menginginkan akhirat, kemudian hal itu melalaikan kalian dari mereka hingga menimpakan bala pada kalian, sungguh Allah telah memaafkan kalian atas kesalahan itu, dan Allah mempunyai keutamaan lebih buat orang-orang yang beriman” (ali Imron 152).

Tanpa mengenal petunjuk dan Islam yang haq, tanpa bergabung dengan RasulNya almahdy, Tanpa berdiri diatas aljamaah, diri ini hanyalah mahluk sesat yang bodoh dan rentan dibodohi, hanya binatang melata yang larut dalam godaan ego, syubhat dan syahwat yang membinasakan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Furqān : 43

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang jadikan hawa nafsunya sebagai sembahan, apakah kamu ingin jadi pemimpin bagi mereka..!?, apakah kamu sangka bahwa kebanyakan mereka mendengar atau berakal ..!?, bahkan mereka hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih buruk darinya” (alfurqon 43-44),.

Dan berfirman, Al-Mulk : 6-11

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

“bagi orang-orang yang ingkar pada rabbnya disediakan adzab jahannam itulah seburuk buruk tempat kembali, apabila mereka dilemparkan kedalamnya terdengarlah suara jeritan pilu yang sangat sedang neraka mengelegar dengan dahsyat (karena marah), hampir saja neraka pecah karena amarah, tiap kali dilemparkan kedalamnya sekumpulan dari mereka bertanyalah penjaganya apakah belum pernah datang pada kalian seorang yang memperingatkan ?, dijawab, benar, telah datang kepada kami (ketika didunia) seorang pemberi peringatan namun kami mendustakannya sambil berkata “Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu hanyalah seorang yang berada dalam kesesatan yang besar”, mereka berkata “andai kami (ketika didunia) termasuk orang yang MENDENGAR dan termasuk orang yang BERAKAL niscaya kami tidak jadi penghuni neraka syair”, merekapun mengakui dosa-dosanya maka alangkah celaka para penghuni neraka syair itu” (al mulk 6-11)

Karena itu dalam Alqur’an betapa Allah senantiasa merangsang manusia agar menggunakan akalnya dan daya nalarnya, memikirkan apa yang akan menimpa dirinya dialam dunia, alam barzakh dan di akhirat nanti, memikirkan apa yang telah dialami ummat-ummat terdahulu, memikirkan Alqur’an dan mentadabburinya, karena inilah satu satunya jalan membebaskan diri dari belenggu ego, syubuhat dan kepalsuan yang menipu akalnya, Wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar