Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 16
Keyakinan kaum muslimin terhadap agamanya sesungguhnya telah berakar kuat dalam sanubari mereka, kaum muslimin telah yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar dari semua agama, ajaran yang paling selaras dengan fitrah manusia dan qodratnya dari semua ajaran, dan sistem sosial yang paling menjamin dari semua sistem, hanya saja patut disayangkan, mereka telah banyak tertipu oleh beragam syubuhat dan syahwat yang disuntikkan kedalamnya dari berbagai arah,
kaum muslimin umumnya telah terbiasa dengan kehidupan yang sesungguhnya bertentangan dengan perinsip Islam yang benar dan bahkan sebagian mereka menganggap bahwa apa yang mereka pegangi itu sebagai ajaran Islam yang sebenarnya.
Syubuhat, syahwat dan perpecahan yang sudah dianggap biasa dan seolah mendapatkan pembenaran telah sedemikian rupa meracuni kepribadian sebagian individu muslim berakibat menjatuhkan martabatnya ketempat yang begitu rendah hingga hampir-hampir mereka kehilangan kepribadiannya, peri kemanusiaannya, daya kemauannya, kemampuan berfikirnya, rasa moralnya, dan kepekaan sosialnya.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Baqarah : 256
لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Mengamati kondisi sosial kaum muslimin yang umumnya hidup dalam kelompok-kelompok, sekte, Hizb dan firqoh dimana setiap kelompok membanggakan kelompoknya dan menganggap kebenaran hanya dipihaknya, sementara disisi lain anggota masyarakatnya telah terbiasa dengan kehidupan individualis, Materialis dan hedonis.
Karena belitan syubhat dan syahwat yang telah sedemikian rupa sehingga mungkin sebagian dari mereka telah menganggap sehat sistem yang berlaku saat ini, sehingga sulit diharapkan mereka akan mendukung Almahdy yg mengusung suatu sistem yang lebih baik yg berdasarkan alqur’an dan sunnah, apalagi berjuang bersamanya.
Agama dan sekaligus sebagai sistem sosial Islam dg minhaj aljamaahnya tentu berbeda dengan sistem sosial yang saat ini sedang berkuasa, bila sistem sosial yang berlaku saat ini tidak punya tanggung jawab moril dan sprituil terhadap individu dan kolektif, juga tak mampu memberi jaminan keamanan dari segala sisinya bagi keseluruhan masyarakat, maka sistem Islam dapat mengisi semua kekurangan ini.
Hanya saja, cukupkah keyakinan kaum muslimin terhadap agamanya ini dapat dijadikan modal dasar dan kekuatan ekstra untuk mendukung almahdy memenangkan sistem sosialnya diatas semua sistem,..?!
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman At-Taubah : 33
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.
Suatu sistem sosial tentu membutuhkan masyarakat dengan segala keberagamannya untuk menunjukkan keunggulannya dengan sistem sosial lainnya, seunggul apapun suatu sistem bila tanpa kepercayaan dan keterlibatan masyarakat pendukungnya tentu tidak akan berarti apa-apa.
Keikhlasan mutlak dibutuhkan sebagai asas dalam memperjuangkan sistem ini dan membangun struktur anggunnya. Bila motif pribadi, egoisme dan sentimen kelompok masih menghiasi individu kaum muslimin tentu akan sulit diharapkan untuk dapat bersikap realistis, jujur dan adil, sebab orang seperti ini akan selalu mencari dalih pembenaran atas kepentingan pribadi dan kelompok.
Bila kaum muslimin belum bisa mengembangkan sikap sami’na wa atho’na terhadap khalifah, sinergitas, persaudaraan, jujur, dan adil maka siapa lagi yang dapat diharapkan memikul tanggung jawab dalam mengemban sistem terbaik ini dan memperjuangkannya terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan ?!
Masyarakat kaum muslimin tidak hanya mengemban tugas memperjuangkan sistem ini tapi juga bertanggung jawab melindungi dan mempertahankan eksistensinya terlepas dari kecenderungan individual, kepentingan pribadi dan golongan.
Akhirnya semua kembali pada kesadaran pribadi setiap individu muslim akan hakikat diri dan tanggung jawab pribadi dihadapan penciptanya.
Satu contoh yang akan diangkat disini adalah mengenai kepemilikan pribadi. Kepemilikan pribadi termasuk diantara topik utama disemua sistem sosial.
Bila konsep kapitalisme memberikan kebebasan tanpa batas kepada setiap individu, kebebasan tanpa kontrol dan campur tangan penguasa, batasannya hanyalah selama tidak berbenturan dengan kepentingan orang lain.
Dengan begitu kapitalisme memberi ruang bagi setiap individu untuk mengejar kesenangan materi dan menimbun harta tanpa batasan hingga membolehkan konsentrasi kekayaan pada seorang individu.
Akibatnya, kesenjangan sosial antara sikaya dan simiskin tak dapat dihindari, begitu pula dengan persaingan individual, pembagian dan pertentangan kelas dan kasta, monopoli perdagangan dan bisnis, praktek riba dan bunga, eksploitasi kaum buruh oleh kaum konglomerat, dan berbagai praktek buruk dan transaksi-transaksi dhalim lainnya.
Kemudian ketika mereka telah punya kekayaan fantastic merekapun memiliki kemampuan membeli negara dan mengatur hukum, akibatnya negara dan hukum pada akhirnya jadi permainan orang-orang berharta.
Sebaliknya konsep sosialisme hendak mencabut kepemilikan pribadi dan menggantinya dengan kepemilikan kolektif, konsentrasi kekayaan hanya ditangan negara, dan manusia dipaksa bekerja untuk kepentingan kolektif dan mengabaikan kepentingan pribadinya, akibatnya manusia akan kehilangan semangat kerja dan semangat hidupnya.
Sebab tidak mungkin memaksa manusia mengalami penderitaan, kesulitan dan kesakitan secara sukarela tanpa imbalan kesenangan yang nyata darinya dengan hanya berdasar anggapan hendak menyenangkan orang lain.
Betapa sering terjadi dalam peristiwa pertentangan antara kepentingan pribadi dan kolektif manusia tetap kebingungan dan bertanya-tanya apakah ia harus menanggung kesulitan dan derita demi orang lain ataukah harus mengabaikan kepentingan kolektif itu lalu terbenam dalam kenikmatan dan keuntungan pribadi ?.
Dalam diri manusia sesungguhnya terdapat dua naluri yang bertentangan yaitu naluri cinta diri dan naluri pengorbanan.
Kapitalisme mendasarkan konsep-konsep mereka diatas naluri cinta diri, sementara sosialisme malah mendasarkan konsep mereka diatas naluri pengorbanan.
Dari sinilah Islam menunjukkan keunggulannya diatas kedua sistem ini, Islam merukunkan dua naluri ini dan memadukannya dalam konsep ilahi yang menyeimbangkan, melindungi, dan mengayomi.
Islam membolehkan kepemilikan pribadi, lalu memberikan batasan-batasan yang adil dan tidak membenarkan kosentrasi kekayaan pada seorang individu.
Islam memberi kewenangan pada khalifah memungut zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya pada orang-orang miskin.
Islam membebankan tanggung jawab penuh kepada khalifah dan orang-orang berharta atas rakyat yang melarat.
Semua kebijakan ini bertujuan menjamin tanggung jawab ekonomi dalam ketersediaannya sirkulasinya dan keamanannya pada keseluruhan lapisan masyarakat sekaligus merintis jalan bagi terhapusnya berbagai praktek buruk dan transaksi-transaksi dholim dalam masyarakat.
Islam membangkitkan jiwa pengorbanan yang sedang tidur dalam diri manusia melalui konsep-konsep ilahiyah.
Pada dasarnya manusia adalah makhluk yg dikuasai oleh naluri cinta diri, bila dibiarkan maka dorongan-dorongan individualnya dan egonya akan membuat jalannya sendiri.
Islamlah yang mengajarkannya mematuhi perintah-perintah ilahi,
Islamlah yang mendidiknya menghormati nilai-nilai moral dalam hubungan sosial dan kebersamaan sambil mengendalikan ego dan ambisi pribadinya.
Islam membentuk tabiat manusia sedemikian rupa sehingga menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam aljamaah.
Naluri cinta diri kadang mendorong seseorang merampas makanan dari orang lain ketika sedang lapar, sedang naluri pengorbanan mendorongnya memberikan makanannya kepada orang lain walau ia sendiri lapar.
Pada orang pertama mungkin naluri pengorbanannya masih terkalahkan sedang pada orang kedua telah bangkit oleh didikan Islami hingga mampu berbuat melebihi orang lain.
Dari sinilah Islam menampakkan keagungannya dalam mendidik jiwa-jiwa yang individualis menumbuhkannya menjadi jiwa muthmainnah nan penuh kasih, dengan menjadikan keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai patokan dasar, pedoman, dan tujuan akhir. Wallahul musta’an.