GHULUW TERHADAP SAHABAT

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 22

Agar sahabat pembaca dapat mencerna pembahasan ini dg baik maka kami akan menguraikannya dalam beberapa point

#PERTAMA Meletakkan kalimat “radhiallahu anhu” dibelakang nama sahabat dan kalimat rahimahullah dibelakang nama selain sahabat.

Apa yang mereka (kaum Muslimin jaman ini) lakukan ini tentu saja tidak ada contoh dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan para khalifah.

Apakah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menyebutkan kalimat itu ketika menyebut nama salah seorang sahabat, begitu pula dengan para sahabat apakah menyebut kalimat itu ketika saling menyebut nama diantara mereka?!

Andai seseorang melakukannya ketika mereka masih hidup tentu mereka akan menghadapinya dengan kemarahan karena kalimat itu mengandung tazkiyah (sanjungan).

Perhatikanlah ketika ummul mu’minin ‘Aisyah Gafarahallah sakit, masuklah Ibnu Abbas Gafarahullah menjenguknya dan menyebutkan berbagai tazkiyah terhadapnya, ‘Aisyah berkata, “hentikan segala pujianmu wahai Abdullah, bahkan aku berharap seandainya aku hanyalah mahluk yang dilupakan”

Umar bin khatthab Gafarahullah, ketika ditimpa musibah yang mengantarkan ajal, masuklah seorang pemuda menjenguk lalu menyebutkan berbagai tazkiyah (beberapa kelebihan beliau), Umar berkata, “Bahkan dari semua itu aku hanya berharap inpas, tak ada untukku dan tak ada atasku”.

Karena itulah kaum Muslimin hendaknya merasa cukup dengan apa yg telah ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alqur’an surah al hasyr 10, yaitu mendoakan para sahabat dg memohonkan ampunan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Ḥasyr : 10

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Ansar) berdoa, “Ya Tuhan kami, ampunilah kami serta saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

Yaitu memohonkan ampunan buat mereka para sahabat Muhajirin dan Anshor dg ucapan Gafarahumullah (semoga Allah mengampuni dosa-dosa mereka semua).

Lalu, apakah sepeninggal mereka lantas dibolehkan menyebut kalimat itu dibelakang nama-nama mereka ?! sungguh hal ini merupakan kesesatan yang nyata.

#KEDUA Tidak membedakan diantara sahabat assabiqqunal awwalun dengan sahabat yang masuk Islam setelah fathu Makkah.

Atau mereka (kaum Muslimin jaman ini) beranggapan bahwa semua sahabat punya derajat dan keutamaan yang sama baik yang Islam sebelum fathu Makkah ataupun yang Islam setelahnya.

Aqidah semacam ini jelas bertentangan dengan Alqur’an dan Sunnah. Seorang muslim hendaknya merasa cukup dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala, Al-Ḥadid : 10

وَمَا لَكُمْ أَلَّا تُنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ لَا يَسْتَوِي مِنْكُمْ مَنْ أَنْفَقَ مِنْ قَبْلِ الْفَتْحِ وَقَاتَلَ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْظَمُ دَرَجَةً مِنَ الَّذِينَ أَنْفَقُوا مِنْ بَعْدُ وَقَاتَلُوا ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Mengapa kamu tidak menginfakkan (hartamu) di jalan Allah, padahal milik Allah semua pusaka langit dan bumi? Tidak sama orang yang menginfakkan (hartanya di jalan Allah) di antara kamu dan berperang sebelum penaklukan (Makkah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu (fathu Makkah). Terhadap masing-masing mereka Allah menjanjikan (balasan) yang baik. Allah Maha teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini memberi penjelasan bahwa sahabat gafarahumullah terdiri dari dua tingkatan, yaitu mereka yg masuk Islam sebelum fathu Makkah yaitu muhajirin dan anshor pada satu tingkatan dan mereka yang masuk Islam setelah fathu Makkah pada tingkatan yang lain, dan keduanya memiliki derajat dan keutamaan yang berbeda walau pada keduanya Allah janjikan kebaikan sebagaimana terhadap semua orang yang masuk Islam dan beriman dengan keimanan yang baik, mereka semua Allah janjikan kebaikan.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjelaskan ayat ini dengan sabdanya : “janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku, sesungguhnya andai kalian belanjakan dijalan Allah emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai 1 mud infaq mereka dan tidak pula setengahnya”.

Sahabat yang dimaksud dalam hadits ini adalah Muhajirin dan Anshor.

Adapun orang-orang yg masuk Islam setelah fathu Makkah termasuk saya dan anda diperintahkan mengikuti kaum Muhajirin dan Anshor sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah Al-Taubah, At-Taubah : 100

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Assabiqqunal awwalun (Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam)) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa keridhoan Allah dan Surga hanya diberikan pada 3 golongan yaitu kaum Muhajirin, kaum Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka secara baik.

Fathu Makkah merupakan batas, bahwa setelah fathu Makkah maka tidak ada lagi hijrah, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak ada lagi hijrah setelah fathu Makkah, yang ada hanya jihad dan niat, maka bila kalian diseru untuk berangkat berjihad maka berangkatlah” (muttafaq alaih) ,

Maka yg dimaksud dengan sahabat Muhajirin dan Anshor yaitu mereka yang masuk Islam sebelum fathu Makkah dan melakukan hijrah dan jihad bersama Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, merekalah yang Allah janjikan buat mereka keutamaan sebagaimana dalam ayat diatas (alhadid 10).

Karena itu, siapapun yang masuk Islam setelah Fathu Makkah maka kedudukannya sama dengan kita yaitu sebagai pengikut yang baik terhadap Muhajirin dan Anshor walaupun generasi mereka lebih baik dari generasi kita, karena generasi mereka lebih dekat dg masa kenabian.

Adapun ayat yang berbunyi, Āli ‘Imrān : 110

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ ۗ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ ۚ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

“kalian adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk (jadi teladan bagi) manusia, (karena) kalian memerintahkan kepada yang ma’ruf dan melarang dari kemungkaran dan beriman kepada Allah. Seandainya Ahlulkitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.

Yang dimaksud sebagai ummat terbaik dalam ayat ini adalah sahabat Muhajirin dan Anshor dan bukan keseluruhan sahabat.

Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh perkataan Jabir Gafarahullah yg meriwayatkan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, Jabir berkata : ”pada hari perjanjian Hudaibiyah Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada kami, “kalianlah sebaik-baik penghuni bumi” dan waktu itu jumlah kami berkisar seribu empat ratus orang, andai hari ini aku masih melihat niscaya kuperlihatkan pada kalian posisi pohon itu” (Bukhari 3839),

Karena semua keutamaan mereka kaum Muhajirin dan Anshor itulah maka kaum muslimin diwajibkan berteladan kepada mereka dan mengikuti mereka dengan cara yang baik, wallahul musta’an.

#KETIGA mencari-cari alasan pembenaran terhadap kesalahan para sahabat.


Perang jamal meletus sekitar tahun 36 Hijriyah, yaitu perang antara Ali bin Abi Tholib Gafarahullah sebagai seorang khalifah yang sah melawan ummul mu’minin Aisyah Gafarahallah dan orang-orang yang bersamanya, seperti Zubair bin awwam dan Tholhah bin Ubaidillah.

Disinyalir oleh sebagian orang bahwa perang jamal terjadi akibat kesalah fahaman yang terjadi diantara orang-orang jahil diantara dua kubu setelah terjadi kesepakatan damai (islah) antara keduanya, yang kemudian masing-masing kubu menyangka mendapat serangan dari lainnya sehingga terjadilah peperangan, inilah versi yg mereka (kaum Muslimin jaman ini) pegangi mengenai perang jamal.

Versi lain yaitu versi Ali bin Abi Tholib Gafarahullah, ia berkata mengenai Thalhah dan Azzubair, “keduanya membaiat kami di Madinah lalu menyelisihi kami di Bashrah, demi dzat yang jiwaku ditanganNya, andai seseorang mencabut baiatnya terhadap Abu Bakar dan Umar niscaya keduanya akan memeranginya”. Jadi menurut versi ini bahwa tak ada damai bagi kubu sebelah, pasukan jamal pantas diperangi. Versi ini selaras dengan versi Ahnaf bin Qais, A’isyah, dan juga Azzubair dalam satu riwayat darinya mengenai tafsir al anfal 25.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya akan terjadi hanaat dan hanaat (fitnah dan kekacauan), maka barang siapa yang ingin memecah urusan ummat ini sedang mereka telah bersatu maka bunuhlah ia siapapun orangnya”(Muslim 3442),

Mereka kaum Muslimin jaman ini tidak berani menyatakan salah terhadap kekeliruan yang dilakukan oleh para sahabat karena mereka menganggap para sahabat adalah mujtahid yg tetap mendapatkan pahala walaupun tersalah (lihat penjelasan ttg ijtihad dalam tema berbicara agama tanpa Ilmu)

Kami beriman bahwa A’isyah, Thalhah dan Azzubair gafarahumullah, ketiganya adalah sahabat yang mulia, telah berlalu bagi ketiganya kebaikan-kebaikan dimasa Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dimana kebaikan-kebaikan mereka takkan terhapus oleh kesalahan-kesalahan ataupun dosa-dosa yang mereka lakukan kemudian. Mereka adalah orang-orang yang telah dipastikan sebagai penghuni Surga melalui lisan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.

Namun kami memandang mereka sebagai manusia biasa yang tidak ma’shum, bisa saja mereka jatuh dalam kekeliruan dan dosa-dosa.
Karena itu ketika mereka jatuh dalam kesalahan dan dosa-dosa, maka kami tetapkan kesalahan itu sebagai kesalahan dan dosa itu sebagai dosa, tidak tertipu oleh kemuliaan mereka untuk kemudian mencari-cari alasan pembenaran terhadap penyimpangan yang mereka lakukan.

Inilah jalan kebenaran dimana setiap orang dinilai berdasarkan Alqur’an dan sunnah dan tidak berdasarkan hawa nafsu orang perorang.

Berseberangan dengan kaum ini yaitu sebagian dari kaum syi’ah rofidhah yang justru berbuat sebaliknya dengan mencela dan menuding sebagian besar sahabat hingga pun sahabat assabiqunal awwalun dari mereka, bahkan celaan dan tudingan dari sebagian syi’ah sampai pada tingkatan mengkafirkan, wallahul musta’an.

Dengan demikian maka kaum ini berada pada ujung timur dan rofidhah berada pada ujung baratnya, sedang kebenaran berada ditengah-tengah antara keduanya., Wallahul musta’an.

#KEEMPAT Penyimpangan berikutnya yaitu berlebihan dalam menyanjung para sahabat,


Mereka (kaum Muslimin jaman ini) berkata bahwa semua janji-janji yang ditujukan kepada sahabat mengena pada keseluruhan sahabat tanpa kecuali baik yang Islam sebelum fath Makkah maupun yang Islam setelahnya, contoh sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, “janganlah mencela sahabat-sahabatku karena andai kalian berinfaq sebesar gunung uhud emas takkan menyamai satu mud infaq mereka dan tidak pula setengahnya”,(Bukhari 3673), mereka berkata bahwa hadis ini ditujukan pada keseluruhan sahabat tanpa kecuali.

Maka ketika mereka membawakan sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mengenai orang-orang yang dihalau dari telaga, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam berteriak, “sahabatku..sahabatku..” lalu dikatakan padanya “engkau tidak tahu apa yang mereka lakukan sepeninggalmu”, maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “binasalah bagi orang-orang yang berubah sepeninggalku” (muttafaq ‘alaih).

Kata “sahabatku” dalam hadist ini berusaha mereka palingkan maknanya, berusaha mereka jauhkan dari makna asalnya agar selaras dengan akidah mereka yang batil, mereka berkata bahwa perkataan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam “sahabatku..sahabatku..” maksudnya bukan sahabat Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam tapi orang lain selain mereka, padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam jauh-jauh telah menerangkan makna sahabat dalam sebuah hadistnya, “betapa rindunya aku ingin bertemu dengan saudara-saudaraku” para sahabat berkata, “bukankah kami ini saudara-saudaramu ya rasulallah”, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “kalian adalah sahabat-sahabatku, saudara-saudaraku adalah orang-orang yang beriman kepadaku sedang mereka tak pernah melihatku” (Ahmad 12119),

lalu bagaimana mereka akan mengingkari makna kata sahabat-sahabatku dalam hadist ini ?!

#KEENAM membela sang perusak agama

Sikap berlebihan juga didapati ketika membicarakan sepak terjang Muawiyah bin abi sofyan.

Dimulai ketika enggan berbaiat kepada khalifah Ali bin abi tholib Gafarahullah, pecahnya perang Shiffin, hingga penyerahan kekuasaan oleh Khalifah Hasan bin Ali kepada Muawiyah bin abi sofyan lalu dirubahnya menjadi kepemimpinan kerajaan, Semua tingkah laku Mu’awiyah dalam hal ini di benarkan, didukung dan dibela oleh sebagian pemuka kaum muslimin.

Lebih dari pada itu mereka berusaha mencari-cari dalil mengenai keutamaannya dan mengumpulkannya agar dapat membebaskannya dari berbagai tudingan miring, Inilah sebagian kerja keras mereka dalam membela sang perusak agama.

Padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam telah menegaskan bahwa Muawiyah adalah seorang pemberontak dalam sabdanya, “kasihan Ammar, dia dibunuh oleh kelompok pemberontak, Ammar mengajak mereka kesurga sedang mereka mengajak Ammar ke neraka” (Bukhary 428, 2601),

Pada kenyataannya Ammar bin Yasir Gafarahullah meninggal ditangan pasukan Muawiyah dalam perang Shiffin.

Dengan berpegang pada hadist ini dan melihat kenyataan wafatnya Ammar, maka para sahabat yang tadinya menahan diri tidak ikut dalam pertempuran akhirnya sepakat bersama khalifah Ali bin Abi Thalib Gafarahullah memerangi Muawiyah setelah melihat kenyataan terbunuhnya Ammar Gafarahullah ditangan pasukan Muawiyah dan sepakat bersama khalifah Hasan Bin Ali Gafarahullah pada fase berikutnya.

Hasan bin Ali Gafarahullah menuturkan, “sesungguhnya batok orang-orang arab berada ditanganku yang siap memerangi orang-orang yang aku perangi dan siap berdamai dengan orang-orang yang aku inginkan, akan tetapi aku tinggalkan itu semua karena wajah Allah dan mencegah tertumpahnya darah ummat Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam”.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda diatas mimbar dihadapan para sahabat sebagai satu perintah dan komando dari pemimpin tertinggi mereka, “sesungguhnya akan terjadi hanaat dan hanaat (fitnah dan kekacauan), maka barang siapa yang ingin memecah urusan ummat ini sedang mereka telah bersatu maka bunuhlah ia siapapun orangnya” (Muslim 3442),

Artinya barang siapa yang ingin mengambil alih kepemimpinan dari khalifah yang sah yang telah kalian sepakati maka bunuhlah orang itu.

Dan ternyata tak ada orang yang ingin merebut kepemimpinan dari ahlinya dizaman sahabat selain Muawiyah bin abi sofyan, dialah seorang yang enggan berbaiat kepada khalifah Ali Gafarahullah dan melancarkan peperangan terhadapnya, maka perintah bunuh pada hadist diatas sesungguhnya ditujukan kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.

Pada kesempatan yang lain Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sesungguhnya akan ada sepeninggalku penguasa yang tidak menetapkan sunnah dengan sunnahku dan tidak menetapkan petunjuk dengan petunjukku, dan akan ada ditengah mereka laki-laki yang hatinya hati syaithan dalam rongga dada manusia” (Muslim 3435).

Bila laki-laki yang berhati iblis itu adalah Hajjaj bin Yusuf yang dengan kekejamannya ratusan ribu nyawa kaum muslimin melayang ditangannya, atau Ubaidillah bin ziyad pemimpin pasukan yang melakukan pembantaian terhadap Husain bin Ali Gafarahullah cucu kesayangan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam beserta sebagian keluarganya dipadang Karbalaa’ Irak, yang mana laki-laki ini adalah kaki tangan Yazid bin Mu’awiyah, maka siapakah yang dimaksud dengan kalimat “penguasa yang tidak menetapkan sunnah dengan sunnahku dan tidak menetapkan petunjuk dengan petunjukku ?”.

Maka alangkah tepatnya sabda Nabi Shollallahu alaihi wassalam “sesungguhnya manusia pertama yang akan merusak sunnahku adalah seorang lelaki dari bani Umayyah” (silsilah ahadits shahihah 1749)

Wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar