Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 15
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Hūd : 116
فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ
“Sekiranya tidak ada dari generasi sebelum kamu orang-orang yang melarang berbuat kerusakan dibumi (niscaya Kami telah binasakan mereka) kecuali sedikit dari mereka yang Kami selamatkan, orang-orang dholim akan senantiasa mengikuti kesenangan hidup yang Kami letakkan padanya dan mereka adalah kaum pendosa” (Huud 116)
Dan berfirman Al-Wāqi’ah : 41
وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ
فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ
وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ
لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ
وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ
“golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, didalam neraka samum dan cairan yang mendidih, naungannya asap yang pekat, tak ada rasa dingin dan tak ada kemurahan, sungguh merekalah yang dahulu (didunia) hidup dalam kemewahan, mereka terus menerus hidup (didunia) dalam pelanggaran yang besar itu” (Alwaqi’ah 41-46).
Dan berfirman Al-Muzzammil : 11-14
وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا
إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًا
وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا
يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا
“biarkan Aku (sendiri yang bertindak) terhadap para pendusta yang hidup senang itu, dan biarkanlah mereka menikmatinya barang sebentar, sesungguhnya disisi Kami ada belenggu-belenggu dan neraka jahim, makanan yang menyumbat di leher dan adzab yang pedih. pada hari (ketika) bumi dan gunung-gunung berguncang keras dan gunung-gunung itu menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah. (Almuzammil 11-14).
Dan berfirman Al-Ahqāf : 20
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ
“dihari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (dikatakan pada mereka) “kamu telah menikmati pahala kebaikan-kebaikanmu di kehidupan dunia dan bersenang-senang dengannya maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan disebabkan apa (harta) yang kamu sombong dengannya dikehidupan dunia tanpa alasan yang benar dan apa (kedudukan) yang dengannya kamu berbuat fasiq” (al ahqof 20),
Cinta diri yang berlebihan atau egoisme adalah naluri manusia yang paling mendasar. Cinta diri yang berarti mencintai kebahagiaan dan kesenangan untuk dirinya sendiri serta membenci kesulitan hidup sakit dan penderitaan.
Cinta diri inilah yang mendorong manusia mempertahankan diri, mempertahankan hidup, mencari nafkah dan mengamankan kepentingan dan kebutuhan hidupnya.
Ketika jiwa itu hampa dari nilai-nilai agama sementara egoisme begitu dominan dalam dirinya, terdoronglah ia mengejar kebutuhan-kebutuhan hidupnya hingga mengeksploitasi sumber-sumber material yang ada, pada akhirnya merubah perinsipnya kearah materialisme.
Saat itu, dalam anggapannya kebahagiaan tak mungkin dicapai kecuali dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan materi untuk jangka waktu yang panjang, dengan begitu ia akan bekerja keras dan memanfaatkan segala yang ada untuk mengamankan kebutuhannya dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.
Ketika harta telah terkumpul dalam jumlah yang lebih, ia pun beranjak dari perinsip materialisme ke perinsip hedonisme, pada kondisi ini kesenangan dan kebahagiaan pribadilah yang akan menjadi prioritasnya dan tujuan hidupnya hanyalah sekedar mengejar kepuasan dan kenikmatan belaka.
Pergerakan jiwa manusia dari egoisme kearah materialisme dan dari materialisme kearah hedonisme tidaklah selalu sama pada setiap pribadi, pergerakan itu sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar dan dalam, terutama suntikan nilai-nilai moral dan spritual yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya.
Namun disadari atau tidak, egoisme, materialisme dan hedonisme, Ketiganya adalah media bagi tumbuh kembangnya penyakit-penyakit hati yang akan sering kali berbenturan dengan para pembawa petunjuk dan kebenaran, seperti sombong, bakhil, phobi, minder, ragu, benci pada kemiskinan dan penderitaan dan yang lainnya, yang kemudian menghasilkan perilaku-perilaku penentangan, pendustaan dan pelecehan terhadap kebenaran.
Bila kebebasan bagi mereka adalah jalan untuk mendapatkan segalanya, dan bila kebebasan adalah suatu kesenangan, maka segala hal yang akan mengekang kebebasan akan dianggap musuh dan penghalang yang pantas disingkirkan, maka agama bagi mereka hanyalah suatu doktrin yang ortodoks, kolot, kuno dan kaku, dianggapnya hanya akan mengekang kebebasan mereka dalam berbuat, berekspresi dan berperilaku, hanya menghambat kemajuan dan menghalangi perkembangan intelektualnya.
Bagi mereka kejahilan terhadap agama itu lebih menyenangkan dari kehidupan yang didikte oleh doktrin-doktrin yang mengekang kebebasan. Maka kejahilan terhadap agama menjadi simbol kebanggaan bagi mereka.
Karena itulah didalam Alqur’an tak jarang Allah Subhanahu Wata’ala menggandengkan antara perilaku hidup mewah dan pendustaan terhadap kebenaran dan hari akhir.
Kecenderungan manusia untuk hidup mewah itu merupakan indikasi minimnya iman terhadap kehidupan akhirat dan minimnya perhatian, upaya dan usaha pencerahan hati dengan agama.
Tapi bagaimana bila kecenderungan hidup mewah itu ada pada sebagian orang yang berhias ilmu?, Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan jawabannya, Al-A’rāf : 175-178
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِين
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“bacakanlah kepada mereka berita tentang seorang yang kami memberinya ayat-ayat kami lalu melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya, akhirnya ia termasuk orang-orang yang sesat. Andai kami menghendaki niscaya kami angkat derajatnya dengan ayat-ayat itu akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya, maka perumpamaannya adalah seperti anjing bila dihalau terengah menjulurkan lidahnya, dan bila dibiarkan iapun terengah menjulurkan lidahnya, itulah perumpamaan suatu kaum yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kisah ini semoga mereka mau memikirkan, alangkah buruknya perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami itu dan terhadap diri sendirilah mereka berbuat aniaya. Siapa saja yang Allah beri petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang Allah sesatkan, merekalah orang-orang yang merugi.” (al a’raf 175-178).
Ketika kebebasan dan kemerdekaan jadi acuan bagi semuanya, agama datang menafsirkan kebebasan dalam makna yang sebenarnya, bahwa kebebasan yang sebenarnya adalah kebebasan manusia dari segala sembahan selain Allah Subhanahu Wata’ala, dan kemerdekaan yang hakiki adalah merdekanya hamba dari segala penjajah yang akan merampas, mengaburkan dan memalingkan hakikat dirinya dihadapan penciptanya.
Ketika jiwa telah menyadari hakikat iman, maka hamba akan segera menjadikan keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai patokan dasar, tujuan akhir, cita-cita dan harapannya, maka segenap potensi akan dikerahkan padanya.
Inilah konsepsi kebebasan dan kemerdekaan yang akan membawa hamba kepada tujuan-tujuan mulia.
Ini tentu saja berbeda dengan kebebasan fiktif milik kaum hedonis, kebebasan atas konsep mereka pada akhirnya akan menjerumuskan mereka dalam Belenggu hawa nafsu yang buruk dan selera rendah kebinatangan, dan akhirnya menjebak mereka dalam rantai dan belenggu-belenggu malaikat Zabaniyah.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mengenai orang-orang yang berhasil mengatasi egonya, 59.Al-Ḥasyr : 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Barangsiapa yang dijaga dari kekikiran jiwanya (egoisme) itulah orang-orang yang beruntung.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda mengenai orang yang paling dekat dengannya, “sesungguhnya wali-wali yang paling dekat denganku adalah seorang mu’min yang keadaannya remeh (karena miskin), dia mengambil bagian yang banyak dalam sholat, memperbaiki ibadah kepada Rabbnya dan taat walau dalam kesendirian, dia tidak begitu dikenal manusia dan tidak diacungi jempol, rezkinya pas-pasan lalu sabar diatasnya, cepat kematiannya, tak banyak wanita yang menangisi kematiannya, dan sedikit harta warisannya” (Tirmidzy 2269, Ahmad 21173).
Dan bersabda mengenai orang yang paling mencintainya, ketika seseorang berkata, “ya rasulallah demi Allah aku mencintaimu” dijawab, “perhatikan ucapanmu”, lalu mengulanginya hingga tiga kali, nabipun mengulangi jawabannya hingga tiga kali lalu bersabda, “bila memang mencintaiku siapkanlah perlengkapan perang untuk orang-orang faqir, karena kefaqiran lebih cepat mendatangi orang-orang yang mencintaiku dari banjir yang mengalir keujung muaranya” (Tirmidzy 2273).
Ketiga dalil ini merupakan acuan bagi mereka yang menginginkan keberuntungan, kedekatan dan cinta. karena itu sudah sepantasnya disadari bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.
Uraian singkat ini semoga cukup menjadi renungan bagi semuanya khususnya bagi para da’i yang tampak banyak terjerumus dalam kehidupan glamour bahwa betapa penting bagi setiap jiwa mengevaluasi diri jangan sampai hanya mengeksploitasi kebenaran untuk mengejar kesenangan, wana’udzu billah minzalik.
Wallahul musta’an.