HIJRAH, Jangan Berontak

Bismillah
Assalamualaikum

Sahabat pembaca, dalam beberapa artikel sebelum ini kami telah terangkan ttg prinsip kaum muslimin dalam bermuamalah dg penguasa thagut, nah untuk melengkapi khasanah dan wawasan anda maka jangan sampai artikel kali ini terlewatkan.

Ketahuilah sesungguhnya agama Islam adalah agama hikmah, agama yang mengedepankan kelembutan dan kasih sayang, agama yang memperjuangkan kedamaian, persatuan dan persaudaraan sambil memerangi fitnah, perpecahan dan kekacauan, Ini adalah minhaj yang jelas dan prinsip paling dasar dalam agama ini, Karena itu sepatutnya kita nyatakan berlepas diri dari orang-orang yang menyimpang dari minhaj ini, baik dalam lafadh dan ungkapan, apalagi dalam sikap, perbuatan dan prinsip.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ

Tidak pantas orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, maka tidak ada (hubungan dengan) Allah sedikitpun, kecuali takut dari sesuatu yang pantas kamu takuti dari mereka. Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya kepada Allah tempat kembali.

Kalimat “kecuali takut pada mereka dengan sesuatu yg pantas ditakuti” Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala memberikan rukhshoh kepada kaum mu’minin untuk mentaati pemimpin thogut apabila ada kekhawatiran padanya dari bahayanya, kedholiman, arogansi, atau yg lainnya.

Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “Nanti setelah aku akan ada seorang pemimpin yang tidak menjalankan petunjukku dan tidak pula melaksanakan sunnahku. Dan akan ada di tengah-tengah mereka orang-orang yang hatinya adalah hati setan, namun jasadnya adalah jasad manusia. “

Seseorang berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku lakukan jika aku menemui zaman seperti itu?” Beliau bersabda, ”Dengarlah dan ta’at kepada pemimpin, walaupun mereka menyiksa punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan ta’at kepada mereka.” (HR. Muslim).

Dan bersabda:
“Akan berkuasa atas kalian banyak pemimpin-pemimpin lalu kalian kenal mereka dan kalian ingkari, maka siapa yang benci dia telah berlepas diri, dan siapa yang mengingkari diapun telah selamat, tapi siapa yang Ridho dan ikut (dialah binasa bersama mereka), para sahabat bertanya, “apakah kita tidak memerangi mereka?” dijawab, “tidak, selama mereka sholat” (Muslim 3445).

Andaipun penguasa itu telah jelas kafirnya lalu diiringi dengan perbuatan dholim terhadap kaum muslimin, maka memberontak padanya bukanlah jalan yang dibenarkan bahkan bukan dari agama sedikitpun. Tetapi jalan yang dituntunkan dalam Alqur’an dan sunnah adalah hijrah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Ibrāhim : 45

وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ وَقَدْ مَكَرُوا مَكْرَهُمْ وَعِنْدَ اللَّهِ مَكْرُهُمْ وَإِنْ كَانَ مَكْرُهُمْ لِتَزُولَ مِنْهُ الْجِبَالُ

(Bukankah) kamu pun dulu tinggal di tempat kediaman orang-orang yang menzalimi diri sendiri dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan (pula) kepadamu beberapa perumpamaan?”

Sungguh, mereka telah membuat tipu daya padahal Allah (mengetahui dan akan membalas) tipu daya mereka. Sekali-kali tipu daya mereka tidak akan mampu melenyapkan gunung-gunung.

Dan berfirman,An-Nisā : 75

وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ نَصِيرًا

“mengapa kalian tidak berperang dijalan Allah sedang orang-orang lemah dari laki-laki, wanita dan anak-anak sudah pada berdo’a, “wahai Rabb kami keluarkanlah kami dari negeri yang penduduknya dholim, dan jadikanlah bagi kami pemimpin dan jadikanlah bagi kami penolong” (annisa 75).

Kedua ayat ini memberi faedah bahwa orang-orang yang punya kemampuan dituntunkan hijrah dari negeri yang dholim atau kafir, sedang orang yang lemah dan tidak punya kemampuan dituntunkan berdoa kepada Allah agar memberi kemampuan untuk keluar dari negeri dholim itu kenegeri yang aman, atau dari negeri kafir kenegeri muslim.

Maka syariat hijrah ini berlaku bagi semua kalangan, orang yang lemah dan yang kuat, lelaki dan wanita, anak-anak dan orang tua, tak satupun dari mereka yang dikecualikan. Hanya saja Allah maha pemaaf bagi orang-orang yang memang tidak punya kemampuan dan penuntun.

Adapun hadist yang sering dilangsir orang-orang dalam melegalkan pemberontakan, yaitu, “kecuali bila kalian melihat kekafiran nyata yang kalian punya bukti disisi Allah” (muttafaq alaih). Kalimat ini adalah penggalan dari hadist Ubadah Bin Asshomit Gafarahullah yang menerangkan isi baiat aqobah pertama.

Sesungguhnya penggalan kalimat ini tidak dapat dikatakan shohih dari Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam walaupun diriwayatkan Bukhari dan Muslim sebab penggalan yang tergolong ganjil karena menyelisihi riwayat-riwayat yang masyhur.

Hadist Ubadah bin Asshomit Gafarahullah yang mengisahkan baiat aqobah pertama cukup banyak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadist sehingga termasuk dalam daftar hadist-hadist masyhur, namun pada umumnya tanpa penggalan ini, contohnya pada Bukhary 6660, Muslim 3426, Annasaai 4080-4084, Ibnu Majah 2857, dan masih banyak lagi ditempat-tempat yang lain.

Karena itu Sofyan bin Uyainah Gafarahullah ketika mendapati hadist-hadist ini sampai padanya tanpa tambahan ini, iapun berkata, “sebagian manusia menambahkan lafadh, “kecuali melihat kekafiran yang nyata” (Ahmad 21623), ini mengisyaratkan bahwa tambahan ini meragukan atau tidak shahih.

wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar