LOYAL KEPADA ORG KAFIR

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 10

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Mā’idah : 51-53

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai walimu (teman setia-mu). Sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan tertimpa mara bahaya.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya sehingga mereka menyesali apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Orang-orang yang beriman (pada hari Kiamat) akan berkata, “Inikah orang yang dahulu bersumpah dengan (nama) Allah secara sungguh-sungguh (bahwa mereka muslim) ternyata mereka beserta kamu (wahai yahudi dan nashrani)?” maka segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi.(almaidah 51-53)

Berwali atau berwala’ kepada orang-orang kafir maknanya cinta, loyal dan setia kepada mereka, atau mengangkat mereka pemimpin.

Kalimat “Termasuk golongan mereka” dalam ayat ini maknanya bahwa dihari qiamat nanti ia dikumpulkan bersama mereka lalu dihancurkan amalan mereka.

Maka diantara tanda-tanda berwali kepada orang-orang kafir adalah :

# Memanggil mereka dengan panggilan kehormatan seperti, “tuan pulan” , atau segala macam ungkapan yang mengandung penghormatan, persahabatan atau kasih sayang, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”janganlah kamu memanggil sayyid (tuan) kepada orang-orang munafiq, sebab bila sampai mereka jadi tuan kamu maka kamu telah membuat Rabb- mu murka ” (Abu Daud 4325),

Dalam hadits ini, orang-orang munafiq saja tidak boleh dipanggil dengan panggilan kehormatan tentu terlebih lagi terhadap orang-orang kafir.

# Bermukim di wilayah mereka dalam keadaan mampu untuk pindah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Ibrāhim : 44-45

وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ
وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ

Berikanlah (Nabi Muhammad) peringatan kepada manusia tentang hari (ketika) azab datang kepada mereka. Maka, (ketika itu) orang-orang yang zalim berkata, “Ya Tuhan kami, tangguhkanlah ajal kami walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan,) “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan bergeser pendirian ?!

Dan kamu pun dulu tinggal di kediaman orang-orang yang menzalimi diri sendiri padahal telah nyata bagimu bagaimana Kami memperlakukan mereka dan telah Kami berikan (pula) kepadamu beberapa contoh?” (44-45)

Nabi Shollallahu alaihi wasallam bersabda “aku berlepas diri dari seorang Muslim yang tinggal bersama orang dholim karena tidak dapat dibedakan api mereka”

# Mempercayai mereka, memberi kepercayaan memegang jabatan-jabatan penting dan penasehat. Abu Musa menceritakan kepada Umar bin Khattab Gafarahullah tentang sekertarisnya orang Nasrani, maka Umar membentaknya dengan mengatakan, “ada apa denganmu, Allah mencelakakan kamu, tidakkah kamu mendengar firman Allah : “Hai orang orang yang beriman jangan kalian jadikan orang yahudi dan nasrani sebagai wali, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” Kenapa tidak mengangkat seorang hanif. Dia menjawab : “wahai amirul mu’minin, bagiku tulisannya dan baginya agamanya”. Umar berkata : “Aku tidak akan memuliakan mereka ketika Allah telah menghinakannya, aku tidak akan membela mereka ketika Allah telah mencampakkannya, dan aku tidak akan mendekatkan mereka ketika Allah telah menjauhkannya.”

# Menjadikan mereka teman dekat, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 118-120

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir.

Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman pada semua kitab. Apabila mereka berjumpa denganmu, mereka berkata, “Kami beriman.” Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu karena kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Adapun jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan membahayakan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mereka kerjakan. (118-120)

Nabi Shollallahu alaihi wasallam bersabda “seseorang itu berada diatas agama teman dekatnya, karena itu hendaknya setiap kalian memperhatikan siapa teman dekatnya”

# Ikut-ikutan pada hari raya mereka, ikut andil dalam pelaksanaanya, ikut mengucapkan selamat atas mereka, berdasarkan firman Allah, Al-Kāfirūn :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُد
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir,
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak akan menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.
Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

# Condong kepada mereka, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Hūd : 112-113

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(112-113)

Termasuk prilaku yg menunjukkan adanya kecondongan hati pada mereka seperti Mengutamakan mereka dari kaum Muslimin, mendahulukan mereka dari kaum Muslimin dalam pelayanan, memperjuangkan kepentingan mereka, mengidolakan mereka, memuji, menyanjung dan mengagumi mereka. dan lain-lain sebagainya.

Adapun firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah al mumtahanah ayat 8, bahwa Allah tidak melarang kita berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak mengusir dan tidak memerangi kita karena agama, maka berbuat baik dalam hal ini tidak dicampuri dengan perasaan kasih sayang, wala’ dan kecondongan kepada mereka yaitu bahwa hati tetap mengingkari kesesatan mereka.
wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar