Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 20
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman, Muhammad : 24
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا
Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?
Marilah kita mendalami agama dg metode yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alqur’an yaitu tadabbur dan jauhkan diri dari metode taklid buta kepada pendahulu (salaf) karena ini adalah metode dari para penentang Rasul seperti diceritakan dalam banyak ayat dalam alqur’an. Diantaranya firman Allah Subhanahu Wata’ala menukil perkataan mereka Al-Mā’idah : 104
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti sesuatu yang Allah turunkan dan (mengikuti) Rasul,” mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati pada nenek moyang kami.” Apakah (mereka akan mengikuti nenek moyang mereka) walaupun mereka itu tidak mengetahui sesuatu pun dan tidak (pula) mendapat petunjuk.(almaidah 104)
Ketahuilah bahwa dalam perkara KETAATAN, aturan Islam sangatlah ketat, salah dalam memberi dan menempatkan ketaatan akan berakibat SYIRIK BESAR sebagaimana firman Allah Al-An’ām : 121
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ ۗ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ ۖ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ
Janganlah kamu memakan sesuatu dari (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah. Perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sungguh setan benar-benar selalu membisikkan kawan-kawannya agar mereka membantahmu. Jika kamu mentaati mereka, sungguh kamu benar-benar musyrik. (alan’am 121)
Oleh karenanya maka perkara KETAATAN ini diatur sedemikian rupa dalam alqur’an dan sunnah diantaranya
# Al-Qalam : 8-9
فَلَا تُطِعِ الْمُكَذِّبِينَ
وَدُّوا لَوْ تُدْهِنُ فَيُدْهِنُونَ
Maka, janganlah engkau mentaati orang-orang yang mendustakan (ayat-ayat Allah). Mereka menginginkan agar engkau bersikap lunak. Maka, mereka bersikap lunak (pula).
# Al-Qalam : 10-12
وَلَا تُطِعْ كُلَّ حَلَّافٍ مَهِينٍ
هَمَّازٍ مَشَّاءٍ بِنَمِيمٍ
مَنَّاعٍ لِلْخَيْرِ مُعْتَدٍ أَثِيمٍ
Janganlah engkau taati setiap orang yang suka bersumpah lagi berkepribadian hina, suka mencela, (berjalan) kian kemari menyebarkan fitnah (berita bohong). merintangi segala yang baik, melampaui batas dan banyak dosa.
# 76.Al-Insān : 24
فَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ وَلَا تُطِعْ مِنْهُمْ آثِمًا أَوْ كَفُورًا
Maka, bersabarlah untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu dan jangan taati pendosa dan orang yang sangat kufur di antara mereka.
# 33.Al-Ahzāb : 48
وَلَا تُطِعِ الْكَافِرِينَ وَالْمُنَافِقِينَ وَدَعْ أَذَاهُمْ وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا
Janganlah engkau (Nabi Muhammad) mentaati orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, biarkan (saja) gangguan mereka, dan bertawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai pelindung.
# 18.Al-Kahf : 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ ۖ وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا
Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya. Janganlah kedua matamu berpaling dari mereka karena mengharapkan perhiasan kehidupan dunia. Janganlah engkau mentaati orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.
Dan masih banyak dalil yg serupa dengan ini.
Maka orang-orang yg beriman tidak akan mengangkat jadi pemimpin orang dari selain kalangan mereka sendiri karena konsekwensinya adalah memberikan loyalitas dan ketaatan kepada mereka, hal ini sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala Āli ‘Imrān : 28
لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ ۖ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ إِلَّا أَنْ تَتَّقُوا مِنْهُمْ تُقَاةً ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ ۗ وَإِلَى اللَّهِ الْمَصِيرُ
Tidak pantas orang-orang mukmin menjadikan orang kafir sebagai pemimpin dengan mengesampingkan orang-orang mukmin. Siapa yang melakukan itu, maka tidak ada (hubungan dengan) Allah sedikitpun, kecuali takut dari sesuatu yang pantas kamu takuti dari mereka. Allah memperingatkan kamu tentang diri-Nya (siksa-Nya). Hanya kepada Allah tempat kembali.
Kalimat “kecuali takut pada mereka dengan sesuatu yg pantas ditakuti” (Ali Imran 28). Kalimat ini memberikan faedah bahwa pada dasarnya haram mentaati pemimpin yg tdk berhukum dg hukum Allah Subhanahu Wata’ala kecuali bila takut terjadi fitnah atau kerusakan yang timbul karena kemarahan penguasa, jadi dlm ayat ini ada RUKHSHOH, kaum Muslimin diberi keringanan atau rukhshoh mentaati mereka guna menghindari fitnah dan kekacauan sedang hati wajib mengingkari kesesatan mereka.
Yg wajib ditaati oleh kaum mu’minin sesungguhnya hanyalah Rasulullah Shollallahu ‘alaihi Wasallam dan khulafa’ rasyidin mahdiyyin berdasarkan hadits “wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah dg gigi geraham” (HR. Abu Daud)
Inilah sesungguhnya perbedaan mendasar antara penguasa duniawi dan ukhrawi atau khalifah, Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “pada hari kiamat Allah Subhanahu Wata’ala menggenggam bumi dan melipat langit dg tangan kanan sambil berkata “Akulah Raja, dimana itu para raja-raja duniawi” (muttafaq alaihi)
Maka penguasa duniawi adalah musuh Allah yg pertama kali dicari pada hari kiamat.
Syubhat yg mewajibkan mendengar dan taat terhadap penguasa duniawi diambil dari hadits berikut “wajib atas kalian mendengar dan taat walau ta’ammar atas kalian hamba dari negeri habsyi”
Disinilah sesungguhnya letak kekacauan dari sebagian ahli ilmu yaitu kekeliruan dalam memahami maksud kata “TAAMMAR” dari hadits ini, mereka memahaminya sebagai cara pengambil alihan kekuasaan dg cara yg tercela, seperti kudeta, atau melalui mekanisme demokrasi atau yg lainnya, Subhanallah..
Hadist ini sesungguhnya mengisyaratkan pada seseorang yg bernama Jahjah, seorang mawali atau bekas budak yg mengisi kekosongan kursi khilafah pasca mahlamatul kubra (perang besar ) atau perang dunia ke… menjelang turunnya Nabi Isa alaihi sholatu wassalam, ini berdasarkan sabda Nabi Shollallahu alaihi wassalam “akan memimpin ditengah kalian seorang dari kalangan mawali (budak yg berwali kepada orang yg memerdekakannya) yang bernama Jahjah” (Tirmidzy 2154, Muslim 5183)
Ta’ammar artinya meraih kepemimpinan secara paksa namun ta’ammar yg dibenarkan adalah saat seseorang mendapatkannya dg cara yg tdk tercela, Jahjah meraih kepemimpinan secara ta’ammar karena didorong oleh situasi dan kondisi yang mendesak saat itu, sama keadaannya seperti Khalid bin Walid gafarahullah dalam perang Mu’tah yang mengambil alih kepemimpinan karena didorong oleh situasi yang mendesak setelah terbunuhnya tiga orang yg telah ditunjuk oleh Nabi Shollallahu alaihi wassalam, yaitu Zaid, Ja’far, dan Abdullah gafarahumullah,
Nabi Shollallahu alaihi wassalam menyebut Khalid bin Walid sebagai salah satu pedang Allah Subhanahu Wata’ala, sebagai pembenaran atas prilaku Taammar yg dilakukannya guna menyelamatkan pasukan kaum Muslimin yg sedang terdesak.
Jadi kesimpulannya haram mentaati pemimpin atau penguasa kategori thogut kecuali ada rasa takut yang pantas dan dapat dipertanggung jawabkan dihadapan Allah Subhanahu kelak diakhirat nanti namun ketaatan itu harus diiringi dengan pengingkaran dalam hati.
wallahul musta’an.