TAHRIFAT

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 23

Tahrif yaitu memalingkan makna suatu kata dari makna asalnya ke makna lain yang menyimpang. Dan ini termasuk perbuatan syirik besar yang dosanya tdk akan diampuni kecuali dengan taubat yang sungguh-sungguh.

Hasil dari prilaku tahrif inilah yang disebut TAHRIFAT.

Diantara Tahrifat yg telah merusak aqidah kaum Muslimin jaman ini adalah antara lain:

#PERTAMA perilaku tahrif terhadap firman Allah, 20.Ṭāhā : 5

الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ

(Dialah Allah) Yang Maha Pengasih yg bersemayam di atas ʻArasy.

lafadh “istawaa ‘alaa” (bersemayam) dalam ayat ini mereka (ulama jaman ini) artikan dengan, “tinggi, ada pula yg berkata terangkat”, atau berkata “tinggi sekaligus terangkat”, dan lain-lain.

Kata “istawa ‘alaa” dalam ayat ini diartikan bersemayam, maknanya adalah duduk dengan tenang tanpa rasa khawatir.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman az zukhruf 12-14

وَالَّذِي خَلَقَ الْأَزْوَاجَ كُلَّهَا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ
لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَتَقُولُوا سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَٰذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ
وَإِنَّا إِلَىٰ رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

(Dialah) yang menciptakan semua makhluk berpasang-pasangan dan menjadikan kapal laut untukmu serta hewan ternak untuk kamu tunggangi agar kamu dapat duduk di atas punggungnya. Kemudian, jika kamu sudah duduk (di atas punggung)-nya, kamu akan mengingat nikmat Tuhanmu dan mengucapkan, “Mahasuci Zat yang telah menundukkan (semua) ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami pasti akan kembali kepada Tuhan kami.”

Duduk dalam ayat ini menggunakan kata “istawa ‘ala”, sedang kapal dan binatang ternak keduanya bisa bergerak dan berpindah-pindah.

‘Arsy Allah adalah kursi yang dapat digerakkan dan dipindahkan karena ia tidak diletakkan pada tempat yang kokoh melainkan dipikul oleh 8 malaikat yang besar,

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Gafir : 7

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

(Para malaikat) yang memikul ʻArasy dan yang berada di sekelilingnya selalu bertasbih dengan memuji Tuhannya, beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan untuk orang-orang yang beriman. (Mereka berkata,) “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu. Maka, berikanlah ampunan kepada orang-orang yang bertobat serta mengikuti jalan-Mu dan lindungilah mereka dari azab (neraka) Jahim.

Berkaitan dengan duduknya Allah diatas ‘Arsy maka di katakan, “duduk adalah kata yang difahami
artinya dan maknanya, maka duduknya Allah adalah sesuai dengan kemuliaan Allah, mengimaninya adalah
wajib dan mempertanyakan bagaimananya adalah haram, sebab kaum Muslimin dilarang berthanattu’ dalam membahas tentang zat Allah Subhanahu Wata’ala.

Berthanattu’ artinya berdalam-dalam dalam mengkaji sesuatu, sehingga kaum muslimin mestinya merasa cukup dengan dalil-dalil yang ada.

Menafsirkan kata ‘istawaa ‘alaa dengan “tinggi dan terangkat” adalah penafsiran yang keliru terhadap makna-makna Alqur’an,
Hal ini perlu diluruskan untuk menjaga makna dari ayat-ayat alqur’an agar tetap sebagaimana mestinya.

Satu contoh yang membuktikan hal ini adalah firman Allah Subhanahu Wata’ala mengenai perahu nabi Nuh Alaihi Sholatu Wassalam yang berlabuh diatas gunung Judy, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Hūd : 44

وَقِيلَ يَا أَرْضُ ابْلَعِي مَاءَكِ وَيَا سَمَاءُ أَقْلِعِي وَغِيضَ الْمَاءُ وَقُضِيَ الْأَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِيِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Difirmankan (oleh Allah), “Wahai bumi, telanlah airmu dan wahai langit, berhentilah (mencurahkan hujan).” Air pun disurutkan dan urusan (pembinasaan para pendurhaka) pun diselesaikan dan (kapal itu pun) berlabuh di atas gunung Judiy, dan dikatakan, “Kebinasaanlah bagi kaum yang zalim.”

“was tawat ‘alal judy” (Huud 44), artinya lalu perahu itu berlabuh diatas gunung Judy,

Dalam ayat ini berlabuh menggunakan kata istawa
‘alaa, yang makna asalnya “duduk dengan tenang” artinya bahwa perahu itu terduduk dengan tenang diatas gunung Judy.

Bayangkanlah bila kata istawa ‘alaa dalam ayat ini diartikan dengan tinggi dan terangkat, apakah masuk akal bahwa perahu itu tinggi dan terangkat diatas gunung Judy dalam arti perahu itu berhenti diatas gunung Judy tanpa menyentuh gunung itu sedikitpun, ia terangkat tanpa sesuatu yang
mengangkatnya dan tergantung tanpa tali, apakah pengertian ini dapat diterima pikiran dan akal yang masih waras..!?, wallahul musta’an.

#KEDUA lafadh ‘Arsy mereka artikan dengan, “tempat pembaringan”.

Apakah Allah Subhanahu Wata’ala
butuh tempat pembaringan ?! sedang Ia mensifati diriNya dalam ayat kursi dengan tidak mengantuk, tidak tidur, tidak capek dan tidak butuh istirahat ..!! sungguh menciptakan sebuah tempat pembaringan untuk diriNya adalah suatu kesia-siaan, dan maha suci Allah dari menciptakan sesuatu yang sia-sia sebagaimana firmanNya Āli ‘Imrān : 191

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.

#KETIGA lafadh kursi dalam firman Allah, “luas kursiNya meliputi langit dan bumi…”(al baqorah 255) mereka artikan dengan “tempat meletakkan kedua telapak kaki”

Apakah pengertian ini dibenarkan oleh akal sehat, bahasa, dan urf, padahal Alqur’an diturunkan dalam bahasa arab yang nyata, maka lafadh-lafadhnya tentu tidak akan bertentangan dengan bahasa dan urf, maka dari manakah mereka mengenal kursi sebagai tempat meletakkan telapak kaki ?!

Kemudian, apakah Allah membutuhkan tempat untuk meletakkan telapak kaki sebagaimana makhluk..?, subhanallah,

Kedua tafsiran ini disandarkan pada Ibnu Abbas Gafarahullah.

Ibnu Abbas gafarahumallah adalah seorang sahabat ia tidak ma’shum dan perkataannya bukan dalil, tidak pantas mengikuti perkataannya tanpa keterangan yang jelas dari Alquran dan Sunnah.

Kursi dan ‘Arsy adalah dua kata untuk satu makna, kursi adalah ‘Arsy dan ‘Arsy adalah kursi.

‘Arsy yang bermakna tahta atau singgasana adalah tempat duduk seorang raja atau penguasa yang
menunjukkan kebesarannya ketika menjalankan roda pemerintahannya, menerima laporan-laporan pegawainya, tempat dia memerintah, melarang dan memutuskan perkara.

Allah Subhanahu Wata’ala memiliki ‘Arsy karena Dia memproklamirkan diri sebagai raja, raja manusia, raja alam semesta. Maka
sebagai konsekwensinya Ia menciptakan ‘Arsy walau sesungguhnya Ia tidak membutuhkannya, sebab Allah
Ganiyyun ‘Anil ‘Alamin atau maha kaya dari ketergantungan dan kebutuhan terhadap mahluk.

Kursi atau ‘Arsy Allah luasnya meliputi langit dan bumi sebagaimana disebutkan dalam surah al baqorah Al-Baqarah : 255

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahahidup lagi terus-menerus mengurus (makhluk-Nya). Dia tidak dilanda oleh kantuk dan tidak (pula) oleh tidur. Milik-Nyalah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Tidak ada yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya. Dia mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui sesuatu apa pun dari ilmu-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Luas Kursi-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dialah yang Mahatinggi lagi Maha agung.

‘Arsy Allah diatas seluruh mahluk, ia memiliki 8 kaki dan dipikul oleh 8 malaikat yang besar yang jarak
antara ujung telinga dan pundaknya sejauh 700 tahun perjalanan. Diatas ‘Arsy terdapat tulisan yang berbunyi, “rahmatku mengalahkan murkaku” atau “rahmatKu mendahului murkaKu” (muttafaq alaih).

Kursi dan ‘Arsy adalah dua kata yang difahami artinya dan diketahui maknanya, adapun terhadap kursi
Allah kita mengatakan, “lafadhnya diketahui dan maknanya difahami namun hakikatnya tidak diketahui,
maka mengimaninya adalah wajib dan mempertanyakan hakikatnya adalah haram dan bid’ah, kursi Allah tentu sesuai dengan kemuliaan Allah.

Kita mengimani segala berita-berita tentang Allah yang terdapat
dalam Al Quran dan Sunnah yang shahih dan penafsirannya kita kembalikan kepada Allah dan Rasul, Al Quran dan Sunnah yang shahih”.

Didalam Sunnah yang shahih juga terdapat dalil yang menunjukkan bahwa ‘Arsy dan kursi punya makna yang sama, misalnya kisah dibangkitkannya Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dari pingsan dipadang Mahsyar dan mendapati Nabi Musa Alaihi Sholatu Wassalam memeluk pada salah satu kaki ‘Arsy, pada riwayat ini menggunakan lafadh ‘Arsy (muttafaq alaih, Muslim 4377).

Kemudian kisah mengenai beberapa pemuda yang hijrah dari Habasyah ke Madinah, lalu menceritakan kepada Nabi
Shollallahu ‘Alaihi Wasallam kisah seorang nenek biarawati yang berjalan membawa gerabah dikepalanya yang berisi air, ketika berpapasan seorang pemuda lalu pemuda itu mendorongnya hingga tersungkur dan pecah gerabahnya, dia lalu teriak memaki pemuda itu dan mengingatkan ketika Allah meletakkan kursi-Nya dan mengumpulkan seluruh mahluk dipadang Mahsyar, saat itulah engkau akan mengetahui urusanku denganmu. Dalam riwayat ini menggunakan lafadh kursi, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “sungguh benar, sungguh benar, namun mengherankan, suatu kaum yang mengagungkan Allah namun
membiarkan kedholiman orang kuat mereka terhadap orang yang lemah” (Ibnu Majah 4000).

Adapun riwayat yang dipegangi mereka bahwa luas kursi dihadapan ‘arsy adalah seperti gelang yang diletakkan diatas padang pasir, lalu riwayat ini dishahihkan oleh seorang pakar senior mereka, ketahuilah
sesungguhnya riwayat itu tidak shahih dari nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, ia adalah riwayat ganjil yang tidak didapati penguat baginya sedikitpun, bahkan riwayat-riwayat yang shahih membantahnya, karena itu
janganlah tertipu. Wallahul musta’an.

#KEEMPAT Perkataan mereka, “Iman itu perkataan dan amalan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan”.


Darimanakah asalnya perkataan ini, apakah Allah dan Rasul pernah mengucapkannya ?! Ini adalah perkataan yang batil, bertentangan dengan Alqur’an dan Sunnah.

Perkataan mereka, “iman itu perkataan dan amalan” atau dalam ungkapan lain, “perkataan adalah iman dan amalan adalah iman” ini bertentangan dengan Alqur’an, sebab betapa banyak ayat Alqur’an yang memisahkan dan membedakan antara iman dan amalan, misalnya, 18.Al-Kahf : 107

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh memperoleh surga Firdaus sebagai tempat tinggal.

“103.Al-‘Aṣr : 1

وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ
إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dg kebenaran dan saling menasehati dg kesabaran.

Ayat semacam ini banyak dalam alqur’an, dimana Allah Subhanahu Wata’ala memisahkan dan membedakan antara iman dan amalan.

Andai perkataan dan amalan itu adalah iman maka kaum khawarij adalah manusia yang paling utama dalam hal ini, karena Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada para sahabat, “kalian merasa iri melihat sholat mereka dibanding sholat kalian, puasa mereka dibanding puasa kalian”, namun bersamaan dengan itu beliau menegaskan, “mereka terlepas dari agama sebagaimana anak panah menembus sasarannya, andai aku dapati mereka, niscaya aku perangi sebagaimana terhadap kaum ‘Aad” (muttafaq alaih).

Adapun sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, “iman itu punya tujupuluh sekian cabang, yang paling tinggi adalah kalimat la ilaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan pengganggu dijalan sedang malu termasuk cabang dari iman”(muttafaq alaih),

Cabang dari iman maknanya adalah penyempurnanya, dimana iman tidak bernilai tanpanya.

Iman dan amal sholeh adalah dua hal yang saling beriringan, saling membutuhkan, dan saling menyempurnakan, siapa yang mendatangkan amalan yang paling tinggi maka dia telah menyempurnakan imannya,

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “siapa yang mencinta karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan menahan karena Allah, maka telah sempurna imannya” (Abu Daud 4061),

Dan bersabda, “mu’min yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling baik dari mereka adalah yang lembut pada keluarganya”(Tirmidzy 1082).

Dalil-dalil ini dan yang semakna dengannya merupakan bukti hubungan yang kuat dan erat antara iman dan amal.

Namun iman bukanlah amal dan amal bukan iman, perhatikanlah sabda Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam yang diceritakan Khuzaifah Gafarahullah tentang kisah diangkatnya amanah, “..akhirnya orang-orang berjual beli dan hampir-hampir tidak didapati seorangpun yang menunaikan amanah, hingga dikabarkan bahwa di bani fulan ada seorang yang sangat amanah hingga orang-orang mengatakan tentangnya, betapa berakalnya ia, betapa sabarnya ia, betapa jujurnya ia, namun didadanya tidak ada iman walau sebesar biji sawi” (Ibnu Majah 4043).

#KELIMA Perkataan mereka, “bertambah karena ketaatan dan berkurang karena maksiat”, ini bertentangan dengan Alqur’an, dan tidak didapati satu dalilpun yang berbunyi demikian.

Iman itu bertambah dan berkurang bukan karena ketaatan dan bukan pula karena kemaksiatan, sungguh betapa banyak dari para sahabat yang melaksanakan ibadah-ibadah melebihi Abu bakar dan Umar, namun mereka tidak dapat melampauinya dari sisi keimanan.

Sebab itulah sebagian orang bijak mengatakan, “Abu bakar dan Umar tidak mengalahkan kalian dengan sholat dan puasa, tapi keduanya kalahkan kalian dengan sesuatu yang tersimpan dalam dada”.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Fāṭir : 28

وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَٰلِكَ ۗ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

(Demikian pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.

Takut dalam ayat ini menggunakan kata khasyah, yaitu perasaan takut yang disertai keyakinan tidak ada tempat berlindung dariNya kecuali kepadaNya, inilah tingkatan iman yang paling tinggi yang disebut juga attaqwa, al ihsan dan al yaqin, dan tingkatan ini hanya dicapai oleh orang yang berada pada tingkatan ilmu paling tinggi yaitu ‘ulama.

Maka iman itu bertambah dan berkurang adalah dengan ilmu, dan ilmu itu dapat diperoleh melalui banyak jalan, ta’allum (belajar), tadabbur (merenungkan), tafaqqur (berfikir), tafaqquh (mengkaji), tabayyun (mencari kejelasan masalah), tadzakkur (saling mengingatkan), menyaksikan bayyinah, tanda-tanda kebesaran Allah, ataupun kebenaran janjiNya, semua ini terkait dengan ilmu.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “mengapa ada kaum yang tidak menyukai keringanan yang aku berikan, Demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling berilmu tentang Allah diantara kalian dan yang paling khasyah (takut) kepadaNya”, (muttafaq alaih, Bukhary 5636, Muslim 4346).

Maka Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam adalah orang yang telah mencapai puncak dalam ilmu dan iman, wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar