TAQLID BUTA

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 24

Menyandarkan agama pada perkataan orang-orang yang tidak direkomendasikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala, atau Taqlid buta inilah sesungguhnya kesalahan terbesar ummat Islam jaman ini, mereka begitu percaya kepada ustadz dan ulama yg mereka idolakan, akibatnya sulit mengajak mereka kepada pandangan yg dianggap baru yg dibawa oleh mujaddid (pembaharu) jaman ini yg diutus oleh Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu Almahdy.

Sementara disisi lain, ustadz dan ulama jaman ini malah menyandarkan agama atau Taqlid kepada para pendahulu mereka yg dianggap sholeh.

Padahal prilaku seperti ini persis sama dengan prilaku para penentang Rasul dimasa yg lalu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Az-Zukhruf : 23

وَكَذَٰلِكَ مَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي قَرْيَةٍ مِنْ نَذِيرٍ إِلَّا قَالَ مُتْرَفُوهَا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُقْتَدُونَ
قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكُمْ بِأَهْدَىٰ مِمَّا وَجَدْتُمْ عَلَيْهِ آبَاءَكُمْ ۖ قَالُوا إِنَّا بِمَا أُرْسِلْتُمْ بِهِ كَافِرُونَ

Demikian pula tiada Kami mengutus seorang pemberi peringatan sebelum engkau (Nabi Muhammad) ke suatu negeri melainkan Orang-orang yang hidup mewah (di negeri itu) selalu berkata, “Sesungguhnya kami mendapati nenek moyang kami menganut suatu (agama) dan kami hanya mencontoh jejak mereka.”

Dia (sang Rasul) berkata, “Masihkah kamu (mengikuti jejak nenek moyangmu), meskipun aku membawa (agama) yang lebih baik panduannya daripada apa yang kamu peroleh dari nenek moyangmu itu?” Mereka menjawab, “Sesungguhnya kami (tetap) mengingkari kerasulanmu.”

Perlu disadari bahwa sesungguhnya Almahdy adalah rasul Allah Subhanahu Wata’ala yg diutus kepada orang-orang yang beriman sebagai karunia buat mereka, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Āli ‘Imrān : 164

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Sungguh, Allah benar-benar telah memberi karunia kepada orang-orang mukmin ketika (Dia) mengutus di tengah-tengah mereka seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab Suci (Al-Qur’an) dan hikmah. Sesungguhnya mereka sebelum itu benar-benar dalam kesesatan yang nyata.

Setelah sahabat pembaca mendalami pd artikel kami sebelumnya bahwa kebenaran, petunjuk dan agama yg sebenarnya hanya bersama dengan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, yg dizaman ini adalah Almahdy, namun demikian ada banyak penentangan terhadap dakwah yg beliau serukan, salah satunya adalah dari kaum yang berpenyakit Taqlid buta terhadap pendahulu mereka.

Kita dapati mereka (kaum Muslimin jaman ini) banyak bersandar pada perkataan para ulama pendahulu mereka sepanjang masa yg mereka istilahkan dg ulama salaf.

Mereka berkata “berpegang teguhlah karena kita berada diatas minhaj yang telah digariskan oleh para ‘ulama”, mereka menggunakan kalimat ini untuk saling berwasiat agar tetap kokoh diatas minhaj taklid ini.

Mereka berbuat demikian karena husnu dhon bahwa mereka (para ‘ulama terdahulu atau ulama salaf) lebih berilmu, mereka lebih faham, sehingga tidak perlu melakukan kritik terhadap perkataan mereka, lalu menelan mentah-mentah perkataan mereka walau bertentangan dengan dalil-dalil yang shahih. Sungguh yang demikian ini merupakan taklid yang nyata.

Atau mereka berkata, “ikutilah agama pendahulu kalian karena mereka lebih luas ilmunya dan lebih kuat dalam menyingkap hakikat”.

Atau berkata, “mengikutlah dan jangan membuat hal baru karena kalian telah tercukupi”, dan lain-lain dari berbagai doktrin taklid yang dicecarkan kepada mereka yang seakan-akan menafikan adanya orang-orang belakangan yang lebih faham dan lebih berilmu dari orang-orang terdahulu.

Padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “hendaknya orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir sebab bisa jadi orang yang mendengar darinya lebih faham dari orang yang menyampaikan” (muttafaq ‘alaih).

Dan bersabda, “semoga Allah menggembirakan orang yang mendengarkan dariku satu hadist lalu menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain karena bisa jadi seorang pembawa fiqhi tapi ia sendiri tidak faqih dan bisa jadi seorang pembawa fiqhi membawanya menuju kepada orang yang lebih mengerti darinya” (Ahmad 20608).

Dalam hadist ini tampak bahwa Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam tidak menafikan adanya orang lain yang lebih faham dan lebih berilmu dari para sahabat, tabi’in, atbauttabiin dan para ulama salaf.

#Indikasi Taqlid buta berikutnya adalah bahwa Mereka (ulama kaum muslimin jaman ini) juga menetapkan qaulul jumhur atau ijma’ sebagai salah satu asas dalam menetapkan hukum-hukum syariat disamping Alqur’an dan Sunnah, mereka menetapkan ini berdasar sebuah hadist maudhu’ (palsu) yang berbunyi : “Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat diatas kesesatan, bila kalian melihat perselisihan maka berpeganglah pada assawadul a’dham (kelompok yg terbanyak anggotanya)”. Hadits ini dalam sanadnya terdapat perawi bernama Abu Alkhalaf al a’maa,

Yahya ibnu ma’in berkata ttgnya, ”dia pendusta”, Asshindy dalam syarah sunan Ibnu Majah berkata, “hadist ini diriwayatkan dari beberapa jalan namun semuanya diperbincangkan (tidak ada yang shahih)” (Ibnu Majah 3940).

Apakah mereka tidak mengetahui bahwa Allah Subhanahu Wata’ala meletakkan kebenaran itu hanya pada satu orang disetiap ummat !?
sebagaimana halnya dengan seorang Nabi, kadang hanya seorang diri ditengah kaumnya, ini adalah perkara nyata yang tidak mungkin dipungkiri.

Demikian pula diummat ini, Allah Subhanahu Wata’ala meletakkan kebenaran itu hanya pada satu orang disetiap seratus tahun, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Allah akan mengutus disetiap penghulu seratus tahun seorang yg akan memperbaharui agamaNya” (Abu Daud 3740).

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-An’ām : 116

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Jika engkau mengikuti (kemauan) kebanyakan orang di bumi ini (dalam urusan agama), niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka hanya mengikuti persangkaan belaka dan mereka hanyalah membuat kebohongan.

Ayat ini sangat tegas dan jelas mengecam pendapat mayoritas atau ijma’ dalam perkara agama.

Didapati sebagian besar mereka membangun agamanya diatas pendapat mayoritas, mereka berkata “menurut pendapat yang paling kuat”, atau mengatakan “inilah pendapat mayoritas, qaulul jumhur, atau ijma’ ulama’”, dan lain-lain,

lihatlah betapa mereka membangun keyakinannya tidak diatas Alqur’an, sunnah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan sunnah khulafa’ rasydin mahdiyyin, tapi hanya diatas pendapat mayoritas, wallahul musta’an.

Tinggalkan Komentar