Bismillah
Assalamualaikum
Amrul Jahiliyah
Diantara prilaku syirik yg banyak kaum Muslimin terjerumus padanya adalah apa yg disebut Amrul Jahiliyah yaitu prilaku yang tidak berlandaskan Alquran dan Sunnah hanya berlandaskan kejahilan, kebiasaan masyarakat, tradisi, adat istiadat, dan semacamnya, diantaranya :
#. Mantera, jampi-jampi, rukyah yang mengandung syrik, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,”pelihatkan padaku rukyah kalian karena rukyah itu tidak mengapa selama tidak mengandung syirik” (Muslim 4079).
#. Mustika, adzimat (jimat), pusaka dan anggapan kekuatan dan kemampuan ghaib terhadap sesuatu.
#. Koleksi, seni, hobbi dan berbagai macam ketergantungan hati terhadap benda.
#. Mengundi nasib, misal ketika hendak bepergian ia mengundi berangkat atau tidak dengan jari jemari, atau mengusir burung bila burung terbang kekanan berarti jadi berangkat, dan lain-lain dari apa saja yang dikategorikan mengundi nasib.
#. Bersumpah dengan menyebut selain Allah Subhanahu Wata’ala.
#. Nadzar yang ditujukan kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala.
#. Perdukunan, sihir, sulap, ramalan, hipnotis, ilmu batin, ilmu hitam dan semacamnya.
#. Keyakinan tentang penyakit menular tanpa menyandarkannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala, bahwa tidak ada penyakit menular dengan sendirinya tanpa idzin Allah Subhanahu Wata’ala, maka hendaknya berkata “penyakit itu menular biidznillah”.
#. Tathayyur (Anggapan sial) atau mendatangkan sial, misal mengatakan angka 13 adalah angka sial. Yang disukai dalam hal ini hanyalah alfa’l yaitu kata-kata yang mengandung harapan kebaikan, seperti “semoga beruntung”, atau kata-kata baik untuk menghibur, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “tidak ada thiyaroh (anggapan sial) yang baik hanya al fa’l yaitu kata-kata baik yang didengar seseorang” (muttafaq alaih).
namun terkadang tathayyur merasuk kedalam hati tanpa disadari, maka obatnya adalah tawakkal atau mengucapkan
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ “. قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ ؟ قَالَ : ” أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمُ : اللَّهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ “.
“tak ada kebaikan melainkan dariMu, tak ada kesialan melainkan dariMu (taqdirMu), dan tak ada sembahan selain Engkau” (Ahmad 7045)
#. Menyembelih binatang ternak tanpa menyebut nama Allah Subhanahu Wata’ala, atau untuk selain Allah Subhanahu Wata’ala seperti untuk berhala, roh penjaga kuburan, sungai, lautan, kampung atau yang lainnya.
Menyembelih dengan menyebut nama selain nama Allah Subhanahu Wata’ala seperti sembelihan tukang sihir.
Menyembelih untuk hal-hal yang tidak dibenarkan dalam agama seperti sebelihan untuk jembatan, bangunan, rumah, kendaraan, dan lain-lain.
Menyembelih untuk hal-hal yang tidak disyariatkan dalam agama, seperti sembelihan untuk mayat, sembelihan untuk sunnatan, atau untuk ritual jahiliyah lainnya. Dan lain-lain dari berbagai sembelihan yang tidak ada tuntunannya dalam Alqur’an dan sunnah.
#. Keramat atau anggapan sakral terhadap sesuatu, baik benda, waktu maupun tempat tanpa berdasar tuntunan Alqur’an dan Sunnah. Keramat dalam bahasa Indonesia mencakup dua pengertian, yaitu :
Pertama perlakuan khusus berupa keharusan, pantangan, larangan atau yang lainnya, seperti ungkapan dilarang melakukan ini dan itu ditempat ini karena keramat (mulia), Contoh dalam syariat kalimat tanah haram, masjidil haram, bulan haram atau yang lainnya. kata haram menunjukkan adanya aturan-aturan khusus yang diberlakukan secara khusus pada tempat-tempat khusus yang ditunjukkan syariat untuk menunjukkan kemuliaannya, seperti pada tanah haram Makkah dan Madinah, maka disana dilarang melancarkan peperangan dilarang memungut barang hilang, dilarang mematahkan ranting dan dedaunan dan lain-lain, aturan seperti ini hanya berlaku berdasar tuntunan Alqur’an dan sunnah baik berkaitan dengan tempat, waktu dan aturan-aturannya.
Kedua keramat dalam makna angker, menakutkan, yaitu perasaan takut berlebihan terhadap hal-hal ghaib yang ditujukan kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala seperti pada arwah, kuburan, rumah tua, mahluk halus, hantu, roh penjaga pantai, penjaga sungai, kampung, atau yang lainnya. Ini adalah syirik yang nyata, apalagi bila rasa takut itu mengharuskan ritual-ritual jahiliyah seperti tolak bala, sesajen, cerak atau yang lainnya.
#. Tabarruk atau pengkultusan terhadap individu-individu tertentu tanpa keterangan yang jelas dalam Alqur’an dan Sunnah, seperti perbuatan mencari berkah padanya, atau prilaku ketaatan, penghormatan dan pembelaan yang berlebihan padanya atau yang semacamnya.
Anggapan berkah terhadap sesuatu tanpa keterangan yang jelas dari alqur’an dan sunnah, seperti sumur jodoh dan semacamnya.
#. Niyahah (meratap) baik dalam bentuk ungkapan atau kata-kata yang menunjukkan tidak ridha dan tidak sabar atas musibah yang menimpa, seperti teriakan, raungan atau yang lainnya.
Atau dalam bentuk prilaku seperti merobek saku baju, menampar pipi, atau yang lainnya. Atau dalam bentuk berkumpul dirumah kematian dengan menghidangkan makanan, atau acara apa saja yang ada kaitannya dengan kematian, seperti tahlilan, ta’ziyah seperti yang biasa dilakukan sebagian masyarakat dengan berkumpul dirumah kematian dengan hidangan.
Sebagian sahabat berkata “kami para shabat memandang bahwa berkumpul dirumah keluarga mayat dan menikmati hidangan adalah termasuk niyahah” (Ibnu Majah 1601).
Adapun ta’ziyah yang disyariatkan yaitu ungkapan kata-kata menghibur yang disampaikan kepada keluarga mayit dimana saja bertemu, dijalan, dipasar, dimesjid atau ditempat lainnya.
#. Ihdad (berkabung) yang melampaui batas ketentuan syariat dalam waktu dan prilaku, sebab syariat menganjurkan seorang wanita berkabung selama tiga hari bagi kematian kerabat, dan selama empat bulan sepuluh hari bagi istri yang kematian suaminya bagi yang tidak hamil, yaitu dengan tidak berhias, berfarfum, dan tidak keluar rumah selama masa berkabungnya.
Diceritakan dalam satu riwayat ketika seorang wanita ditinggal mati suaminya lalu ditimpa sakit mata, ibunya lalu minta ijinkan pada Nabi Shollallah alaihi Wasallam agar dibolehkan pakai celak, namun Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam melarangnya dengan tegas dua atau tiga kali (Bukhary 4920).
Larangan tegas ini memberi faedah wajib berihdad bagi para istri yang ditinggal mati suaminya.
Adapun penetapan masa ihdad sama dengan masa iddah ini ditegaskan dalam suatu riwayat yang shahih mengenai perdebatan seorang pria dan seorang wanita tentang iddah wanita yang ditinggal mati suaminya sedang ia dalam keadaan hamil tua, pria itu mengingkari perbuatannya berhias dalam masa ihdad, karena setelah melahirkan ia langsung berhias padahal belum habis masa empat bulan sepuluh hari atau baru melewati sekitar sepuluh hari dari kematian suaminya, namun Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam membenarkannya sebab memilih masa iddah yang paling dekat yaitu iddah wanita hamil (Bukhary 3691)
#. Tabarruj jahiliyah (berhias ala jahiliyah) yang terdiri dari jahiliyah pertama dan jahiliyah kedua.
PERTAMA yaitu jahiliyah sebelum Islam yaitu model berhias yang telah ada sebelum diutusnya Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam seperti tato, hinai (pacar), menyambung rambut, meratakan gigi, mencukur alis, merubah rambut lurus jadi keriting atau sebaliknya, dan lain-lain.
KEDUA yaitu jahiliyah setelah Islam yaitu model berhias yang tidak dikenal dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dan para sahabat, seperti konde, memberi hiasan mutiara pada gigi, kawat gigi dengan tujuan berhias, model rambut yang tinggi menyerupai punuk onta, dan lain-lain.
Diantara gaya berhias ini ada yang dibenarkan syariat seperti celak, hinai (hinai alam bukan cat kuku) bagi kuku, parfum bagi laki-laki, dan bedak sebagai parfum wanita yang disifati Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dengan baunya samar sedang warnanya menonjol, juga perhiasan perak bagi wanita.
#. Keyakinan terhadap pengaruh bintang-bintang terhadap hujan.
Atau menyandarkan segala hal yang terjadi dialam semesta pada hukum sebab akibat semata tanpa mengembalikannya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Mempercayai teori para ahli dunia dan meningalkan ajaran agamanya, contohnya seperti teori tentang meteor bahwa itu adalah bintang yang jatuh lalu terbakar karena bergesekan dengan udara atmosfer bumi,
Sedang agama mengajarkan bahwa itu adalah bintang yang digunakan malaikat penjaga langit untuk dilemparkan kepada para syaithan yang mencoba menguping pembicaraan malaikat mengenai hal-hal yang akan terjadi dimasa datang.
Maka dalam hal ini seorang Muslim dituntunkan mengimani ajaran agamanya dan jadikan teori para ahli bagai berita-berita israiliyat yang tidak dibenarkan dan tidak didustakan kecuali bila nyata dustanya.
#. Membanggakan suku, keturunan, kelompok, golongan, partai dan lain-lain dan membelanya dengan fanatik ashobiyah, cinta dan benci pun dibangun diatasnya.
Termasuk disini adalah adanya sebagian orang yang suka menambahkan pada namanya berupa nama kelompok, suku atau golongan, seperti fulan assalafy, fulan aljawi, albugisy, albanjary, fulan al atsary atau yang lainnya, merekalah orang-orang yang hatinya tidak akan dibersihkan dari dosa ini kecuali bila bertaubat dan meninggalkannya.
Wallahul Musta’an.
HIZBY DAN ASHOBY
Bismillah
Assalamualaikum
SYIRIK BESAR bagian 8
Hizby yaitu prilaku membanggakan kelompok, sekte, organisasi, membela, memperjuangkan dan membesarkannya.
Ashoby yaitu prilaku membanggakan keturunan, kebangsaan, negara, suku, daerah, dst. Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “tidak ada keutamaan bagi Arab begitu pula bagi non Arab kecuali dengan TAQWA, Semuanya berasal dari Adam sedang Adam berasal dari tanah”.
Bila mengamati fenomena kehidupan kaum Muslimin saat ini tampak bahwa orang-orang yang punya kepedulian pada agama berupaya mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, namun karena kejahilan yang merata hampir tak didapati satupun dari mereka bersih dari unsur-unsur jahiliyah terutama dalam masalah hizby dan ashoby, sebab mereka tak punya pemimpin yang mempersatukan disamping kejahilan yang payah mengenai unsur-unsur hizby.
Mereka yg terlanjur termakan doktrin kelompoknya memiliki sikap fanatik ekstrem dan sangat antipati terhadap orang orang yg diluar kelompoknya. Kebenaran hanya apa yg dipegangi oleh kelompoknya saja dan yg diajarkan oleh ustadznya, sehingga semua nasehat kebenaran yang dari luar kelompoknya akan ditolak mentah mentah dan dianggap syubhat yang menyesatkan.
Karena itu tak salah nasehat Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam kepada orang-orang yang tidak mendapati pemimpin bagi kaum Muslimin atau khalifah agar menjauhi segala firqoh dengan mengasingkan diri atau UZLAH dan menjauh dari masyarakat jahiliyah, karena tak satupun dari mereka yang mampu selamat dari unsur-unsur jahiliyah, hizby dan ashoby kecuali yang dirahmati Allah Subhanahu Wata’ala.
Sementara itu orang-orang jahilnya yang memang tak punya kepedulian pada agama, senantiasa dijurang kebinasaan, diambang batas kekafiran, bergelimang syirik, bid’ah, hurafat, takhayul, dan yg lainnya, ini menunjukkan bahwa ketika seorang berupaya komitmen pada agamanya namun tidak berada dalam lingkup aljamaah tidak pula beruzlah dari masyarakat jahiliyah, maka mereka tidak akan selamat dari unsur-unsur jahiliyah utamanya hizby dan ashobiyah kecuali orang-orang yang dirahmati dengan diberi ilmu yang benar, maka merekapun terjerumus padanya, membanggakannya, mencintainya, membelanya dan mengajak kepadanya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman 30.Ar-Rūm : 31
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(Hadapkanlah wajahmu) dalam keadaan kembali (bertobat) kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, laksanakanlah salat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik,
(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa berperang dibawah bendera ‘immiyah (orang awam yang jahil mengenai agama) bencinya diatas dasar ashobiyah, ajakannya kepada ashobiyah, dan menolong ashobiyah lalu mati maka matinya jahiliyah” (Muslim 3436)
Kedua dalil ini mengisahkan empat sikap dan sifat yang ada pada seseorang ketika bergabung pada suatu kelompok, golongan atau kepada suatu sistem kepemimpinan selain khilafah, yaitu berperang atau rela mati karena membelanya, cinta dan benci yang dibangun diatasnya, mengajak padanya dan menolongnya dengan mengorbankan harta, jiwa dan raga untuk membela dan membesarkannya.
Bila keempat sikap dan sifat ini atau salah satunya mereka berikan kepada suatu kelompok diantara banyak kelompok atau sekte, atau kepada suatu sistem selain khilafah maka mereka inilah yang disebut hizbiyyun dan ashobiyyun dan tak ada yang dapat menyelamatkan kaum Muslimin dari ancaman hizby dan ashobiyah selain bergabung dengan pemimpin kaum Muslimin (khalifah) dan berbaiat padanya.
Dengan mencermati perintah-perintah Allah dan Rasul agar taat kepada Allah, Rasul, dan pemimpin kaum Muslimin, menerima keputusan mereka dengan senang hati tanpa rasa susah dan sempit dada, akan tampak bahwa hikmah, sasaran dan tujuan yang diinginkan darinya adalah agar terbentuknya persatuan dan kesatuan, hilangnya fitnah dan perpecahan serta terpusatnya kekuatan pada satu komando, inilah keadaan kaum Muslimin ketika Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup, dan inilah aljamaah.
Orang-orang bijak telah menasehati dari generasi kegenerasi bahwa “ummat ini takkan pernah jadi baik kecuali dengan apa yang jadikan baik pendahulunya, ummat ini takkan berjaya kecuali dengan apa yang jadikan jaya pendahulunya, ummat ini takkan pernah terbebas dari kehinaan dan kekalahan kecuali dengan apa yang jadikan bebas pendahulunya”. Lalu apakah yang jadikan pendahulunya baik, jaya, dan terbebas dari kehinaan..? jawabannya cuma satu yaitu aljamaah yang dibangun diatas tauhid, yang bersih dari syirik dan ashobiyah, wallahul musta’an.
SYIRIK BESAR bagian 4
Bismillah
Assalamualaikum
BERSELISIH DAN BERPECAH BELAH
Allah subhanahu wata’ala berfirman Al-Anfāl : 63
وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ ۚ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ ۚ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Dia (Allah) mempersatukan hati mereka (orang yang beriman). Seandainya engkau menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya engkau tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha perkasa lagi Mahabijaksana.
Demikian inilah kondisi kaum mu’minin dizaman Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mereka dalam keadaan satu hati dan bersaudara.
Dan berfirman mengenai orang orang kafir dan munafik Al-Ḥasyr : 14
لَا يُقَاتِلُونَكُمْ جَمِيعًا إِلَّا فِي قُرًى مُحَصَّنَةٍ أَوْ مِنْ وَرَاءِ جُدُرٍ ۚ بَأْسُهُمْ بَيْنَهُمْ شَدِيدٌ ۚ تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَا يَعْقِلُونَ
Mereka tidak akan memerangi kamu (secara) bersama-sama, kecuali di negeri-negeri yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antar sesama mereka sangat hebat. Kamu mengira bahwa mereka itu bersatu, padahal hati mereka terpecah belah. Hal itu disebabkan mereka kaum yang tidak berakal.
Sahabat pembaca, kalian tentu telah memahami realitas kaum muslimin saat ini, mereka terpecah belah, bercerai berai, saling bermusuhan, tidak bersatu dan bersinergi, keadaan ini tentu saja membuat gelisah orang orang yg beriman termasuk anda.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, 4.An-Nisā : 65
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian tidak ada keberatan dalam jiwa mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.
Artinya, bila dua orang muslim berselisih maka keduanya berada dalam ancaman Allah yang disertai sumpah, “demi Rabbmu mereka tidak beriman”, terus menerus mereka dalam ancaman ini hingga mendatangi Rasul Allah agar beliau putuskan perkara keduanya dan hilangkan perselisihan keduanya, atau mendatangi penggantinya sepeninggal beliau yaitu khulafa’ rasyidin mahdiyyin atau mendatangi amir beliau.
Bila tidak didapati salah satu dari ketiganya hendaknya kaum Muslimin berusaha menjauhi perselisihan dan menghindarinya, dengan cara beruzlah (lihat artikel sebelumnya bertema aljamaah alfiroq dan Al-uzlah)
Sebab tidak pantas bagi kaum Muslimin menghadapkan perselisihan kepada hakim lain, hakim-hakim yang lain hanyalah orang-orang yang menjunjung thogut dan berhukum dengan hukumnya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, An-Nisā : 59
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا
وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا
Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulul amri (khalifah) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang mengaku telah beriman pada apa yang diturunkan kepadamu (Al-Qur’an) dan pada apa yang diturunkan sebelummu? Mereka hendak bertahkim kepada tagut, padahal mereka telah diperintahkan untuk mengingkarinya. Setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) kesesatan yang sangat jauh.
Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (patuh) pada apa yang telah diturunkan Allah dan (patuh) kepada Rasul,” engkau melihat orang-orang munafik benar-benar menghalangi mereka darimu.
Dan berfirman, 33.Al-Ahzāb : 36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.
Dari uraian ini semoga dapat difahami bahwa betapa pentingnya keberadaan seorang Rasul ataupun khalifah ditengah kaum muslimin dimana Allah subhanahu wata’ala telah menjadikan beliau sebagai satu satunya elemen pemersatu ummat, dan bahwa sekedar berselisih dalam perkara duniawi seorang muslim sudah berada dalam ancaman yg dapat menggugurkan status keimanan.
Khulafa’ rasyidin mahdiyyin adalah pewaris dalam memimpin ummat sepeninggal Nabi Shollallahu alaihi wassalam sebagaimana wasiat beliau “wajib atas kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin mahdiyyin sepeninggalku gigitlah dg gigi geraham”
Karena besarnya pahala menghindari perselisihan dan membina persaudaraan maka Pembuat syariat memberi jaminan surga bagi orang-orang yang meninggalkan pertikaian walau dia berhak menuntut, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “aku jamin dengan sebuah rumah ditepi surga bagi orang-orang yang meninggalkan pertikaian walau berhak, dan sebuah rumah dipertengahan surga bagi orang-orang yang meninggalkan dusta walau dalam bercanda, dan sebuah rumah dibagian atas surga bagi orang yang baik akhlaknya” (Abu Daud 4168).
Setelah memahami tentang
larangan berselisih dan berpecah belah, dan kewajiban membina dan mempertahankan persatuan dan persaudaraan serta ancaman Allah Subhanahu Wata’ala yang disertai sumpah terhadap kaum yang berselisih dan berpecah belah, maka menjadi kewajiban kita menjadi bersatu dan bersinergi sebagaimana yang diperintahkan Allah Subhanahu Wata’ala, Āli ‘Imrān : 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Berpegangteguhlah kamu pada tali (agama) Allah semuanya, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
Wallahul musta’an.
TTG NIAT
Bismillah
Assalamualaikum
Niat yaitu berbisik pada diri sendiri didalam hati ketika akan melaksanakan suatu amalan ketaatan, atau ketika sedang melakukan suatu kebaikan, atau meninggalkan suatu larangan, atau mengingkari suatu kemungkaran, dengan menyatukan tujuan kepada Allah saja.
Definisi ini disarikan dari beberapa hadist, diantaranya :
~> “barang siapa mati dan belum pernah berperang dan belum pernah berbisik pada dirinya sendiri untuk ikut berperang maka mati pada sebagian cabang dari kemunafikan” (Muslim 3533).
~> “Tidak ada lagi hijrah setelah fathu Makkah, yang ada hanyalah jihad dan niat (berjihad), maka bila kalian diajak untuk berangkat maka berangkatlah” (muttafaq alaih).
~> “setiap amalan tergantung pada niatnya, dan setiap orang mendapatkan (ganjaran) sesuai niatnya, barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul maka hijrahnya karena Allah dan Rasul, dan barang siapa hijrahnya karena dunia yang ingin didapatkannya atau wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu” (Bukhari 1)
~> “tiadalah engkau meninggalkan sesuatu karena takut pada Allah melainkan Allah akan memberi ganti dengan yang lebih baik” (Ahmad 19813)
~> “barang siapa yang melihat kemungkaran maka hendaklah merobah dengan tangannya, bila tidak sanggup maka dengan lisannya dan bila tidak sanggup maka dengan hatinya dan itulah selemah-lemah iman” (Muslim 70)
Maka ucapan seseorang didalam hati “aku melakukan ini karena Allah Subhanahu Wata’ala”, atau “aku meninggalkan ini karena Allah Subhanahu Wata’ala”, atau “aku mengingkari itu karena Allah Subhanahu Wata’ala” inilah yang disebut niat.
Berniat adalah suatu kekhususan bagi orang-orang yang beriman, karena merekalah yang menyembah Allah saja dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatupun.
Adapun orang lain selain orang-orang yg beriman, mereka tidak memiliki niat, mereka hanya memiliki al hamm ilal khair (keinginan-keinginan pada kebaikan), dan ini dimiliki oleh semua orang termasuk orang–orang kafir.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa yang berkeinginan pada kebaikan namun dia tidak melakukannya maka dicatat baginya satu kebaikan yang sempurna, dan bila melakukannya maka dicatat baginya 10 kebaikan hingga 700, dan hingga kelipatan-kelipatan yang banyak” (muttafaq ‘alaih).
Bagi orang-orang kafirpun dicatat bagi mereka pahala-pahala kebaikannya, namun diakhirat nanti setelah menghadap Allah dengan membawa amalannya, lalu tiba-tiba dihancurkan jadi debu yang berhamburan, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Furqān : 23
وَقَدِمْنَا إِلَىٰ مَا عَمِلُوا مِنْ عَمَلٍ فَجَعَلْنَاهُ هَبَاءً مَنْثُورًا
Kami perlihatkan segala amal yang mereka pernah kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan.
Adapun bagi orang yang beriman, keinginan-keinginan kepada kebaikan saja tidak cukup sehingga diniatkan, karena dapat dirusak oleh riya’, ujub, sum’ah dan berbagai ambisi-ambisi dunia.
Hal ini sebagaimana diceritakan dalam satu hadist mengenai tiga orang yang dihadapkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala seorang mujahid, seorang pembaca Al Quran, dan seorang dermawan, lalu ditanyakan kepada mereka nikmat-nikmat Allah, mereka pun mengakuinya, lalu ditanya, apa yang telah kalian lakukan dengan nikmat-nikmat itu ? mereka semua mengaku telah berbuat kebaikan karena Allah, namun mereka semua didustakan, dikatakan kepada mujahid : “kamu berdusta, bahkan kamu berperang dengan gagah berani agar dipanggil pemberani, dan kamu telah mendapatkannya”.
Dikatakan kepada pembaca Al Quran : “kamu berdusta, bahkan kamu membaca Al Quran agar dipanggil qori dan qoriah dan kamu telah mendapatkannya”.
Dan dikatakan kepada sidermawan ; “kamu berdusta, bahkan kamu menderma agar orang-orang memanggilmu sidermawan, dan kamu telah mendapatkannya” lalu diperintahkan agar mereka diseret dan dilemparkan ke Neraka (Muslim 3527).
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “yang paling aku takutkan pada kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’ “. Maka dalil-dalil ini menunjukkan betapa pentingnya niat dalam setiap amalan.
Wallahul musta’an.
SYIRIK BESAR bagian 3
Bismillah
Assalamualaikum
BERIBADAH KARENA MENGHARAPKAN BALASAN DUNIA
Hal ini bertentangan dengan keikhlasan dalam beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Seperti orang yang rajin sholat, dzikir, baca alqur’an karena berharap rezki lancar, urusan mudah, usaha sukses dan lain-lain.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Hūd : 15-16
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, pasti Kami berikan kepada mereka (balasan) perbuatan mereka di dalamnya dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Mereka itulah orang-orang yang tidak memperoleh (sesuatu) di akhirat kecuali neraka, sia-sialah apa yang telah mereka usahakan (di dunia), dan batallah apa yang dahulu selalu mereka kerjakan.
Dan berfirman, Al-Isrā : 18-22
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهُ فِيهَا مَا نَشَاءُ لِمَنْ نُرِيدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهُ جَهَنَّمَ يَصْلَاهَا مَذْمُومًا مَدْحُورًا
وَمَنْ أَرَادَ الْآخِرَةَ وَسَعَىٰ لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَشْكُورًا
كُلًّا نُمِدُّ هَٰؤُلَاءِ وَهَٰؤُلَاءِ مِنْ عَطَاءِ رَبِّكَ ۚ وَمَا كَانَ عَطَاءُ رَبِّكَ مَحْظُورًا
انْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ وَلَلْآخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَاتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَخْذُولًا
Siapa yang menghendaki kehidupan sekarang (duniawi) Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi siapa yang Kami kehendaki. Kemudian, Kami sediakan baginya (neraka) Jahanam. Dia akan memasukinya dalam keadaan tercela lagi terusir (dari rahmat Allah).
Siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, dan dia adalah mukmin, mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.
Tiap-tiap (golongan), baik (golongan) ini (yang menginginkan dunia) maupun (golongan) itu (yang menginginkan akhirat) Kami berikan anugerah dari kemurahan Tuhanmu dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.
Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian (yang lain). Sungguh kehidupan diakhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.
Janganlah engkau menjadikan tuhan yang lain bersama Allah (sebab) nanti engkau menjadi tercela lagi terhina. (Al isra 18-22)
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa yang menuntut ilmu, yang mestinya dituntut dengan ikhlas mengharap wajah Allah, namun ia menuntutnya untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka tidak akan mencium bau surga” (Abu Daud 3179, Ibnu Majah 248).
Beribadah karena mengharapkan balasan dunia ini termasuk perbuatan syirik yang banyak kaum muslimin tertipu atau ditipu padanya. Hal itu karena banyaknya syubhat dari sebagian ahli ilmu adanya orang-orang yang membolehkan kaum muslimin melaksanakan amalan-amalan akhirat untuk tujuan dunia bahkan mendorong dan menganjurkan.
Sebenarnya bagi siapapun yang mengamalkan amalan akhirat dengan ikhlas karena Allah semata maka Allah Subhanahu Wata’ala akan persiapkan baginya dua pahala sekaligus yaitu pahala dunia dan pahala akhirat yang mana dalam dalil-dalil kadang hanya menyebut pahala dunianya saja, kadang pahala akhiratnya saja dan kadang keduanya.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 173-174
الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
فَانْقَلَبُوا بِنِعْمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَفَضْلٍ لَمْ يَمْسَسْهُمْ سُوءٌ وَاتَّبَعُوا رِضْوَانَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَظِيمٍ
(yaitu) mereka yang (ketika ada) orang-orang mengatakan kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan (pasukan) untuk (menyerang) kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka,” ternyata (ucapan) itu menambah (kuat) iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia sebaik-baik pelindung.”
Maka mereka kembali (ke rumah) dengan (membawa) nikmat dan karunia dari Allah. Mereka tidak ditimpa suatu kejelekan pun dan mereka hanya mengikuti (jalan) rida Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.
Dan berfirman, Āli ‘Imrān : 146-148
وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ
وَمَا كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَنْ قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
فَآتَاهُمُ اللَّهُ ثَوَابَ الدُّنْيَا وَحُسْنَ ثَوَابِ الْآخِرَةِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(-nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat, dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah mencintai orang-orang yang sabar.
Tidak lain ucapan mereka kecuali doa, “Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan dalam urusan kami, kokohkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”
Maka, Allah menganugerahi mereka balasan (di) dunia dan pahala yang baik (di) akhirat. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. (Ali Imran 146-148)
Dan berfirman, An-Naḥl : 97
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“barang siapa yang beramal sholih pria atau wanita sedang dia beriman niscaya kami hidupkan mereka (didunia) dalam kehidupan yang baik dan akan kami balas pahala mereka diakhirat dengan sebaik-baiknya daripada yang telah mereka upayakan” (annahl 97).
wallahul musta’an.
SYIRIK BESAR bagian 2
Bismillah
Assalamualaikum
Prilaku syirik besar bagian 2 yg wajib diwaspadai adalah antara lain :
3. Menjadikan bagi Allah tandingan atau saingan, ini banyak dilakukan masyarakat awam kaum Muslimin, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Baqarah : 165
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah.
Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal)”.
Kadar cinta yang sama kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada selainnya akan menjatuhkan pelakunya kedalam syirik ini.
Seperti perkataan orang-orang yang tempatkan dunia dan akhirat pada kadar yang sama dengan anggapan “carilah dunia seakan-akan kamu akan hidup selamanya, dan carilah akhirat seakan-akan esok kamu akan mati”, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Qaṣaṣ : 77
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Termasuk juga orang-orang yang punya sesuatu yang dicintainya, menarik hatinya dan sangat mengkhawatirkannya, seperti kendaraan yang selalu dirawat, kebun-kebun atau sawah, rumah indah yang menyenangkan, dan lain-lain dari apa saja yang begitu diperhatikan, dikhawatirkan, dan begitu bernilai baginya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 92
لَنْ تَنَالُوا الْبِرَّ حَتَّىٰ تُنْفِقُوا مِمَّا تُحِبُّونَ ۚ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ شَيْءٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ
Kamu sekali-kali tidak akan memperoleh kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menginfakkan harta yang kamu cintai. Apa pun yang kamu infakkan, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui tentangnya.
Dalam ayat ini Allah Subhanahu Wata’ala menuntunkan terhadap harta yang begitu dicintai agar di infaqkan dijalan Allah, hal ini untuk membersihkan hati dari cinta kepada selain Allah Subhanahu Wata’ala sekaligus membuktikan bahwa cinta hamba hanya semata kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Termasuk juga dalam syirik ini adalah ketika rasa takut hamba kepada Allah Subhanahu Wata’ala sama dengan takutnya kepada selainNya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, An-Nisā : 77
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً ۚ وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ ۗ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَىٰ وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, “Tahanlah tanganmu (dari berperang), tegakkanlah salat, dan tunaikanlah zakat!” Ketika mereka diwajibkan berperang, tiba-tiba segolongan mereka takut kepada manusia (musuh) seperti ketakutan mereka kepada Allah, bahkan lebih takut daripada itu. Mereka berkata, “Wahai Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami beberapa waktu lagi?” Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanyalah sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.”
Dan berfirman, At-Taubah : 18
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Semoga mereka itulah yang termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
Sehingga dapat difahami bahwa rasa takut berlebihan pada sesuatu selain Allah dapat menjatuhkan pada Syirik ini seperti takut mati yg menghalanginya berjihad, takut miskin, takut hantu, takut pada boss sehingga rela tinggalkan sholat atau kewajiban agama yg lain, dan tentu masih banyak contoh lainnya, wallahul musta’an.
4. Memperturutkan hawa nafsu, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Jāṡiyah : 23
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
“apakah kamu tidak perhatikan orang-orang yang jadikan hawa nafsunya sebagai sembahan, dan Allah sesatkan ia diatas ilmu, dan Allah segel pendengarannya dan hatinya, dan Allah beri tutup pada penglihatannya, maka siapakah yang dapat menunjukinya setelah Allah sesatkan..?, apakah kalian tidak dapat mengambil pelajaran..!” (al jatsiyah 23)
Kalimat “Allah sesatkan ia diatas ilmu” artinya ilmu telah sampai dan mereka telah mengetahuinya namun hawa nafsu menghalangi mereka mengikutinya, hal ini seperti yang terjadi pada Yahudi dan Nasrani dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mereka menolak kebenaran karena kecongkakan, hasad dan dengki yang bersarang dalam dada.
Dan berfirman, At-Taubah : 24
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah, “Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, pasangan-pasanganmu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, dan perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, serta tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan daripada berjihad di jalan-Nya, tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
Wallahul musta’an.
SYIRIK BESAR bagian 1
Bismillah
Assalamualaikum
Termasuk dari kesempurnaan tauhid seorang Muslim adalah dg memahami tentang Syirik dan menjaga diri darinya.
Syirik termasuk diantara perbuatan dosa besar yang paling besar, pelakunya diancam akan dihancurkan amal shalehnya dan dimasukkan dalam Neraka, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Az-Zumar : 65
وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Sungguh, benar-benar telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang (para nabi) sebelummu, “Sungguh, jika engkau mempersekutukan (Allah), niscaya akan gugurlah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang-orang yang rugi. Oleh karena itu, sembahlah Allah (saja) dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersyukur.”
Syirik yang terjadi pada manusia dibagi pada empat tingkatan, yaitu syirik besar, syirik kecil, syirik khafy dan wasilah kepada syirik.
SYIRIK BESAR yaitu syirik yang bila seseorang terjatuh padanya ia diancam hancur amalnya, batal imannya, tidak diampuni dosa-dosanya, diharamkan dari surga, kekal dalam neraka, dan lain-lain.
Syirik besar dalam pembahasannya dapat dibagi pada beberapa keadaan diantaranya :
1. Menyembah selain Allah Subhanahu Wata’ala, seperti yang dilakukan kaum musyrikin dari agama-agama ardhiyah, seperti hindu, budha, majusi dan yg lainnya.
2. Menyembah bersama Allah, seperti yang banyak dilakukan oleh orang-orang jahil dari kaum Muslimin, mereka menyembah Allah Subhanahu Wata’ala namun bersamaan dengan itu mereka juga mendatangi tempat-tempat keramat untuk menghamba kepadanya, mereka meletakkan sesaji dalam ritual mengagungkan roh sembahannya.
Atau mereka percaya kepada kekuasaan Allah dan berdo’a kepadaNya dalam setiap hajatnya tapi bersamaan dengan itu mereka juga mendatangi dukun, tukang ramal, orang pintar dalam setiap hajatnya.
Atau menyimpan jimat, pusaka, benda aneh yg dipercaya dapat mendatangkan kebaikan atau menolak bahaya.
Atau syirik dalam tawassul dan syafaat, yaitu mereka yang mendatangi kuburan orang-orang sholeh dengan keyakinan bahwa orang sholeh tersebut punya kedekatan dengan Allah, mereka berkata, “kami memanfaatkan kedekatan mereka untuk menyampaikan hajat kami kepada Allah”, ini adalah syirik yang nyata sebagaimana dijelaskan Allah dalam Yūnus : 18
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِنْدَ اللَّهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
“mereka meyembah selain Allah apa yang tidak dapat memberi bahaya tidak juga manfaat bagi mereka sambil berkata, “mereka itu pemberi syafaat kami disisi Allah”, katakan (pada mereka), “apakah kalian hendak memberitakan pada Allah (melalui mereka) apa yang tidak diketahuiNya dilangit dan bumi, maha suci Allah dan maha tinggi dari apa yang mereka sekutukanNya”.
Dalam hal ini tawasshul yang dibenarkan hanyalah tawasshul kepada orang-orang sholih yang masih hidup dengan mendatanginya dan minta kepadanya agar mendoakan kita kebaikan seperti yang banyak dilakukan oleh para sahabat ketika Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam masih hidup.
Atau syirik dalam do’a, ketika berlebihan terhadap Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, bukan hanya dalam pujian dan sanjungan tapi juga dalam perkara do’a dan ibadah, Seperti perkataan mereka ya rasulallah..!, atau ya khaira khalqillah…!, atau ya habibie ya muhammad..! ini adalah syirik dalam do’a.
Atau perkataan mereka bismillah wabijahi muhammad, atau ya robbi bil musthofa, atau yang semacamnya yang menggandengkan nama Allah dengan nama nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam berdo’a, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Jinn : 18
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
“sesungguhnya mesjid mesjid adalah milik Allah maka janganlah kalian berdo’a bersama Allah seorangpun”.
wallahul musta’an.
Asma’ul Husna
Bismillah
Assalamualaikum
Dgn memahami tentang asma’ul husna, nama-nama dan sifat Alloh Subhanahu Wata’ala yg agung akan lebih mendekatkan hamba dg PenciptaNya, hamba akan memahami jati dirinya dan hakikat penciptaan dirinya dikehidupan ini.
Apakah ada makhluk Allah selain anda yg menghimpun dua sifat yg bertentangan !? Berbuat salah lalu bertaubat, melampaui batas dan minta diampuni, kikir tapi mau juga berkorban, dan yg paling ganjil adalah manusia adalah makhluk sesat yg selalu mencari Tuhan.
Asma’ul husna artinya nama-nama yang paling indah, Allah Subhanahu Wata’ala memiliki 99 asma’ul husna, dan satu ismul a’dham atau nama Agung.
Asma’ul husna adalah bagian yang tidak terpisahkan dari tiga pembagian tauhid yang telah diterangkan sebelumnya yg dengan asma’ul husna itulah Allah berhak sebagai satu-satunya pemelihara, raja dan sembahan.
Dari 99 itu, 33 adalah lawazim dari sifat rububiyahNya, 33 lagi adalah lawazim dari sifat uluhiyahNya dan 33 lainnya adalah lawazim dari sifat mulkiyahNya.
Bila anda menghitung asma’ul husna akan didapati nama-nama dan sifat itu terkait erat dengan tiga pembagian tauhid tersebut atau merupakan lawazimnya atau konsekwensinya, misalkan anda menyebut nama dan sifat Allah alkhallaq, arrazzaq, alganiy, almushawwir, albaari dan seterusnya, maka nama-nama dan sifat ini adalah bagian yang tidak terpisahkan atau konsekwensi dari sifat rububiyahNya.
Juga bila anda menyebutkan al qoodir, al jabbar, alqohhar, syadidul ‘iqob, ‘azizun zuntiqom, fa’aalun limaa yuried, yahkumu ma yuried dan seterusnya, maka ini adalah bagian yang tidak terpisahkan atau konsekwensi dari sifat mulkiyahNya.
Begitu pula bila anda menyebut alhayyul qoyyum, al ahad, asshomad, Alghoffar, attawwab, assyakur, almu’min, dan seterusnya, ini adalah bagian yang tidak terpisahkan atau konsekwensi dari sifat uluhiyahNya.
Dengan demikian menjadi jelas bahwa asma’ul husna bagi Allah Subhanahu Wata’ala adalah bagian yang tidak terpisahkan atau konsekwensi dari tiga bagian tauhid tersebut.
Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Ḥasyr : 24
هُوَ اللَّهُ الْخَالِقُ الْبَارِئُ الْمُصَوِّرُ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ يُسَبِّحُ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dialah Allah Yang Maha Pencipta (alkholiq), Yang Mewujudkan dari tiada (albaari’), dan Yang Membentuk rupa (almushawwir). Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi senantiasa bertasbih kepada-Nya. Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Dan berfirman Al-Isrā : 110
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ ۖ أَيًّا مَا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَاتِكَ وَلَا تُخَافِتْ بِهَا وَابْتَغِ بَيْنَ ذَٰلِكَ سَبِيلًا
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Serulah ‘Allah’ atau serulah ‘Ar-Raḥmān’! Nama mana saja yang kamu seru, (maka itu baik) karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik (Asmaulhusna). Janganlah engkau mengeraskan (bacaan) salatmu dan janganlah (pula) merendahkannya. Usahakan jalan (tengah) di antara (kedua)-nya!”
Wallahul musta’an.
Kerancuan Tauhid asma’ washifat
Bismillah
Assalamualaikum
Dalam artikel sebelumnya telah di terangkan tentang tauhid Rububiyah, tauhid Mulkiyah dan Tauhid Uluhiyah, Ketiga tauhid ini ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah an nass 1-3.
Adapun tentang tauhid asma’ wa shifat adalah tidak ditetapkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dalam Alqur’an tidak pula oleh Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam sunnahnya.
Tauhid merupakan perkara pokok, perkara utama dan paling dasar dalam agama Islam, maka penetapannya haruslah dg dalil yg tegas dan jelas.
Bila penetapannya tanpa didasari dalil maka tentu penetapannya hanya melalui mekanisme takwil dan tahrif, sedang perlu anda ketahui bahwa kedua mekanisme ini adalah tercela, mentakwil dan mentahrif dalil adalah prilaku Yahudi dalam merusak agama dan prilaku orang yg berpenyakit hati dalam merekayasa kekacauan atau fitnah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Āli ‘Imrān : 7
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Dialah (Allah) yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Nabi Muhammad). Di antara ayat-ayatnya ada yang muḥkamāt, itulah pokok-pokok isi Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyābihāt, Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyābihāt untuk menimbulkan fitnah (kekacauan dan keraguan) dan untuk mencari-cari takwilnya. Padahal, tidak ada yang mengetahui takwilnya, kecuali Allah. Orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran, kecuali orang yang berakal sehat.
Dan berfirman An-Nisā : 46
مِنَ الَّذِينَ هَادُوا يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ
Di antara orang-orang Yahudi ada yang mengubah perkataan dari tempat-tempatnya (tahrif).
Tauhid menurut bahasa artinya menjadikan sesuatu jadi satu, tauhidullah artinya menetapkan Allah satu-satunya tak ada sekutu bagiNya, tak ada tandingan dan tak ada yang sama denganNya.
Hukum tauhidullah hanya berlaku pada tiga hal, yaitu pada rububiyah, mulkiyah dan uluhiyah sebagaimana telah diterangkan, tapi apakah dalam hal asma’ wa shifat juga berlaku hukum tauhidullah ?! mari kita bahas..
Asma’ artinya nama-nama, nama-nama bagi Allah menggambarkan sifatNya sebab nama-namaNya berasal dari sifatNya, bila Allah menamakan diri dengan Arrahman dan Arrahim yang berarti pengasih dan penyayang, maka nama ini menggambarkan sifatNya dimana Allah telah melimpahkan kasih dan sayangnya kepada segenap mahluk secara umum dan kepada manusia secara khusus dengan menurunkan kitabNya sebagai petunjuk dan mengutus RasulNya sebagai teladan, semua ini adalah atsar (jejak) yang menunjukkan kasih dan sayangNya.
Bila anda telah mengerti pengertian tauhid, selanjutnya apakah Allah Subhanahu Wata’ala bersendiri dari sisi nama dan sifat, dalam arti apakah Allah Subhanahu Wata’ala tidak punya sekutu atau tidak bersekutu dengan siapapun dalam hal nama dan sifat ?!.
Bila anda membaca Alqur’an maka didapati Allah Subhanahu Wata’ala memberi nama matahari dengan syams, bulan dengan qomar, bintang-bintang dengan nujum, jadi apakah pantas menetapkan bahwa Allah bersendiri dari sisi nama-nama ? dari sisi ini saja telah tampak batilnya tauhid ini.
Adapun dari sisi sifat maka Allah Subhanahu Wata’ala telah mensifati NabiNya Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dengan rauf dan rahim, sebagaimana Ia telah mensifati diriNya dengan sifat yang sama, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, At-Taubah : 128
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ
Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.
Lihatlah, ini adalah dua hujjah yang membantah bahwa Allah Subhanahu Wata’ala tidak bersendiri dari sisi asma’ wa shifat, sehingga menetapkan tauhid asma’ washifat dalam Islam adalah perkara yg batil, bid’ah dan mungkar.
Wallahul musta’an.
Tauhid Mulkiyah
Bismillah
Assalamualaikum
Artinya menetapkan dan mengakui Allah satu-satunya RAJA, pemilik kerajaan langit dan bumi pemilik kekuasaan dilangit dan bumi, yang berhak memperlakukan mahluk sesuai kehendaknya, yang berhak memerintah dan melarang, yg berhak menetapkan keputusan dan hukum, Allah satu satunya dan tidak ada sekutu baginya dalam hal ini.
Sistem kepemimpinan Allah atas mahlukNya adalah kerajaan, sebagai raja maka Allah memiliki arsy yang agung, tak ada sekutu baginya dalam kerajaanNya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Mu’minūn : 115-116
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ
Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Mahatinggi Allah, Raja yang sebenarnya. Tidak ada tuhan selain Dia, pemilik ‘Arasy yang mulia.
Dan berfirman, Al-Mā’idah : 120
لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا فِيهِنَّ ۚ وَهُوَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi serta apa pun yang ada di dalamnya. Dia Maha kuasa atas segala sesuatu.
Dan berfirman, Al-Isrā : 111
وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا
Katakanlah, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengangkat seorang anak, tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya, dan tidak memerlukan penolong dari kehinaan! Agungkanlah Dia setinggi-tingginya!”
Dan berfirman, Al-An’ām : 73
وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ ۖ وَيَوْمَ يَقُولُ كُنْ فَيَكُونُ ۚ قَوْلُهُ الْحَقُّ ۚ وَلَهُ الْمُلْكُ يَوْمَ يُنْفَخُ فِي الصُّورِ ۚ عَالِمُ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan hak (benar). (Sungguh benar ketetapan-Nya) pada hari (ketika) Dia berkata, “Jadilah!” Maka jadilah sesuatu itu. Firman-Nya adalah benar, dan milik-Nyalah segala kerajaan pada waktu sangkakala ditiup. Dia mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Mahabijaksana lagi Maha memberitakan.
Dan berfirman, Gafir : 16
يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ ۖ لَا يَخْفَىٰ عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ ۚ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ۖ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ
(Yaitu) pada hari (ketika) mereka tampak dengan jelas (di hadapan Tuhan-Nya), tidak (ada) satupun dari mereka yang tersembunyi di sisi Allah. (Allah berfirman,) “Milik siapakah kerajaan pada hari ini?” (Lalu, dijawab,) “Milik Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan.”
dan masih banyak lagi dalil ttg hal ini.
Menetapkan tauhidullah fil mulk adalah perkara yang jelas dan gamblang dalam Alqur’an dan sunnah, dan sebagai konsekwensi dari penetapan ini adalah beriman bahwa Allah satu-satunya raja manusia sebagaimana disebutkan dalam surah annass, maka manusia tidak pantas punya raja selain Allah Subhanahu Wata’ala, siapa yang mengakui adanya raja selain Allah dan memberikan wala’ dan loyalitas kepadanya maka jatuh dalam syirik besar.
Orang yang membolehkan diri memiliki raja selain Allah berkonsekwensi membolehkan dirinya berhukum dengan selain hukum Allah, padahal mereka telah diancam dgn firman Allah Subhanahu Wata’ala, Al-Mā’idah : 44
إِنَّا أَنْزَلْنَا التَّوْرَاةَ فِيهَا هُدًى وَنُورٌ ۚ يَحْكُمُ بِهَا النَّبِيُّونَ الَّذِينَ أَسْلَمُوا لِلَّذِينَ هَادُوا وَالرَّبَّانِيُّونَ وَالْأَحْبَارُ بِمَا اسْتُحْفِظُوا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ وَكَانُوا عَلَيْهِ شُهَدَاءَ ۚ فَلَا تَخْشَوُا النَّاسَ وَاخْشَوْنِ وَلَا تَشْتَرُوا بِآيَاتِي ثَمَنًا قَلِيلًا ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
Sesungguhnya Kami telah menurunkan Taurat. Di dalamnya ada petunjuk dan cahaya. Dengannya para nabi, yang berserah diri (kepada Allah), memberi putusan atas perkara orang Yahudi. Demikian pula para rabi dan ulama-ulama mereka (juga memberi putusan) sebab mereka diperintahkan (oleh Allah untuk) menjaga kitab Allah dan mereka merupakan saksi-saksi terhadapnya. Oleh karena itu, janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. Janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang murah. Siapa yang tidak memutuskan (suatu urusan) menurut ketentuan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.
Allah satu-satunya penetap hukum bagi manusia, dan tak ada satupun mahluk yang ikut campur dalam keputusan Allah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, 18.Al-Kahf : 26
قُلِ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا لَبِثُوا ۖ لَهُ غَيْبُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ أَبْصِرْ بِهِ وَأَسْمِعْ ۚ مَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا يُشْرِكُ فِي حُكْمِهِ أَحَدًا
Katakanlah, “Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua). Milik-Nya semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terang penglihatan-Nya dan alangkah tajam pendengaran-Nya. Tidak ada seorang pelindung pun bagi mereka selain Dia dan Dia tidak mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan hukum.”
Tidak ada hukum bagi manusia selain hukum Allah Subhanahu Wata’ala, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, 12.Yūsuf : 40
مَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا أَسْمَاءً سَمَّيْتُمُوهَا أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ بِهَا مِنْ سُلْطَانٍ ۚ إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۚ أَمَرَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
Apa yang kamu sembah selain Dia hanyalah nama-nama (berhala) yang kamu dan nenek moyangmu buat sendiri. Allah tidak menurunkan suatu keterangan apa pun yang pasti tentang hal (nama-nama) itu. Ketetapan hukum itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Wallahul musta’an.