Bismillah
Assalamualaikum
Sebagai muallaf tentu kita membutuhkan pengetahuan yg lurus ttg Islam, membutuhkan pendampingan dan bimbingan dari tokoh yg rekomended, namun sayang sekali, umumnya para muallaf mendapatkan bimbingan dari ustadz, kyai, ulama, syekh, yg notabene adalah seorang sektarian, dan pada akhirnya sang muallaf akan menjadi anggota dari sekte, aliran, madzhab ataupun kelompok dari pembimbingnya.
Karena itu maka seorang muallaf tak boleh berhenti sampai disitu, namun ia harus mencari kebenaran sejati dalam Islam.
Sebagaimana telah dijelaskan pada beberapa artikel sebelumnya, bahwa kebenaran, Hidayah dan agama yang benar hanya dianugerahkan kepada Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, dan Rasul Allah yg dinantikan saat ini adalah Almahdy. Pemahaman inilah yg harus dibenamkan dalam sanubari kita, sehingga tidak mudah terbawa oleh doktrin sesat kaum sektarian.
ALJAMAAH artinya bersatu dan bersinergi dibawah kepemimpinan pemimpin tertinggi kaum Muslimin dimasa anda hidup, apakah Almahdy atau khalifah pengganti beliau sepeninggalnya.
Aljamaah diwajibkan bagi kaum Muslimin ketika Rasul-Nya ada dizaman mereka hidup, atau pengganti beliau yaitu khulafa’ rasydin mahdiyyin. Dimasa itulah dalil-dalil tentang aljamaah berlaku seperti sabda Nabi Shollallahu alaihi wassalam “barang siapa yg meninggalkan aljamaah satu jengkal saja lalu mati maka matinya diatas jahiliyah”, demikianlah pengertian dan hukum aljamaah.
AL-UZLAH artinya memisahkan diri, atau mengasingkan diri. Aljamaah dan Al-uzlah, keduanya merupakan syariat Islam yg wajib bagi kaum Muslimin pada waktu yang berbeda.
Adapun Al-uzlah, maka Al-uzlah diwajibkan pada kaum Muslimin ketika Nabi, Rasul ataupun Khalifah mereka tidak ada dimasa itu, Zaman ini disebut zaman fatrah, zaman kekosongan dari Rasul Allah Subhanahu Wata’ala.
Maka dizaman ini tidak ada aljamaah akan tetapi Yg ada hanya kelompok-kelompok atau firqoh yg berpecah belah, bertikai, dan berselisih.
Dimasa seperti ini berlaku perintah Nabi Shollallahu alaihi wassalam “beruzlah lah kamu dari semua kelompok-kelompok yang ada walaupun kamu harus menggigit pokok pohon hingga maut menjemputmu dan engkau dalam kondisi demikian”
Tentang hal ini Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “telah dekat masanya dimana harta yang paling berharga bagi seorang Muslim adalah kambing yang digembalakan digunung dan lembah karena menyelamatkan agamanya dari kerusakan”
Dan bersabda “selamatnya seseorang dari fitnah (kerusakan pada agamanya) adalah dengan menetap di rumahnya”
Oleh karena kedua syariat Islam ini diwajibkan pada zaman yg berbeda maka dikenallah dalam Islam dua zaman, zaman aljamaah dan zaman Al-uzlah, demikianlah hukum dan pengertian dari Al-uzlah.
ALFIROQ atau al iftiroq Yg artinya perpecahan, Allah Subhanahu Wata’ala melarang dari perpecahan dalam agama, orang-orang yang berpecah belah dalam agama dimasukkan ke dalam golongan kaum musyrikin, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Ar-Rūm : 31
مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ
(Hadapkanlah wajahmu) dalam keadaan kembali (bertobat) kepada-Nya. Bertakwalah kepada-Nya, laksanakanlah salat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik,
(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.
Mereka juga tidak dianggap sebagai ummat Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-An’ām : 159
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ
Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun engkau (Nabi Muhammad) tidak termasuk golongan mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) hanya kepada Allah. Kemudian, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat.
Dan mereka diancam dgn adzab yang besar, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Āli ‘Imrān : 105
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ ۚ وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah sampai kepada mereka keterangan yang jelas. Mereka itulah orang-orang yang mendapat azab yang sangat berat.
Seorang yg baru masuk Islam terkadang mendapati pilihan yg mengarah kepada kelompok tertentu, madzhab tertentu, sekte tertentu, aliran tertentu, organisasi tertentu ataupun yayasan tertentu, maka fahamilah dg baik bahwa semua itu mengarahkan kepada alfiroq atau perpecahan.
Zaman sekarang ini adalah zaman fatrah, zaman kekosongan dari Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, sekaligus sebagai zaman penantian diutusnya Almahdy, maka kewajiban kaum Muslimin zaman ini adalah Al-uzlah bukan aljamaah, tapi ironisnya, semua sekte dan kelompok-kelompok itu mengklaim diri dg aljamaah, paling mengamalkan aljamaah dan paling mengamalkan sunnah, dg slogan mereka “ahlussunnah waljamaah”.
Maka pemahaman Islam yg lurus perlu dibangun agar tidak terjebak dalam dogma sesat kaum sektarian.
Wallahul musta’an.
TAUHID RUBUBIYAH
Bismillah
Assalamualaikum
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-A’rāf : 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَنْ تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
(Ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari tulang punggung anak cucu Adam, keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksiannya terhadap diri mereka sendiri (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami melakukannya) agar di hari Kiamat kamu (tidak) mengatakan, “Sesungguhnya kami lalai terhadap hal ini.”
Konsekwensi dari perjanjian ini mentauhidkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam rububiyah, mulkiyah, dan uluhiyah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Nās : 1-3
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاس
مَلِكِ النَّاس
إِلَٰهِ النَّاسِ
Katakanlah aku berlindung kepada pemelihara manusia, Raja manusia, sembahan manusia.
Mentauhidkan Allah dalam rububiyah artinya mengakui dan menetapkan Allah satu-satunya Pencipta, pengatur, dan pengelola alam semesta, Allah Subhanahu Wata’ala menciptakan manusia. Juga segala yang ada dilangit dan bumi di alam nyata dan di alam ghaib Allah menciptakannya, memeliharanya dan menundukkannya untuk manusia dikehidupan dunia.
Begitupula segala nikmatNya Allah curahkan buat manusia lahir dan batin, agar manusia menyadari hal itu semua lalu beribadah kepadaNya saja dan tidak mensekutukanNya dengan sesuatupun, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, 2.Al-Baqarah : 29
هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Dialah (Allah) yang menciptakan segala yang ada di bumi untukmu, kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia meratakannya menjadi tujuh langit. Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Dan berfirman, Al-Baqarah : 21
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Wahai manusia, sembahlah Rabb kamu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Dan berfirman, 31.Luqmān : 20
أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُمْ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً ۗ وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يُجَادِلُ فِي اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَلَا هُدًى وَلَا كِتَابٍ مُنِيرٍ
Tidakkah kamu memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah telah menundukkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi untukmu. Dia (juga) menyempurnakan nikmat-nikmat-Nya yang lahir dan batin untukmu. Akan tetapi, di antara manusia ada yang membantah (keesaan) Allah tanpa (berdasarkan) ilmu, petunjuk, dan kitab suci yang menerangi.
Dan lain-lain dari ayat-ayat yang menunjukkan rububiyah Allah terhadap segala mahluk secara umum dan terhadap manusia secara khusus.
Mentauhidkan Allah dari sisi rububiyah mengharuskan peribadatan hanya kepadaNya saja dan tidak boleh memalingkan peribadatan itu kepada selainNya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Maryam : 65
رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ ۚ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا
“Allah pemelihara langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya maka sembahlah Ia dan kuatkan kesabaranmu ibadah kepadaNya, apakah engkau mengetahui ada yang sama denganNya ?!”.
Wallahul musta’an.
TAUHID ULUHIYAH
Bismillah
Assalamualaikum
Tauhidullah fil uluhiyah disebut juga dengan tauhidullah fil ‘ibadah artinya menetapkan Allah sebagai satu-satunya yang disembah, yang manusia beribadah kepadaNya saja, tak ada sekutu baginya, dan mengingkari segala sembahan selainNya dan segala peribadatan yang ditujukan kepada selainNya, barang siapa yang menyembah selainNya ia telah jatuh dalam syirik yang besar.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Luqmān : 22
وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ ۗ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ
“barang siapa yang menyerahkan diri kepada Allah sedang dia berbuat baik maka ia telah berpegang teguh pada pegangan yang kokoh dan kepada Allah kesudahan segala perkara” (Luqman 22).
Dan berfirman, An-Nisā : 125
وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا ۗ وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا
Siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah, sedangkan dia muhsin (orang yang berbuat kebaikan) dan mengikuti agama Ibrahim yang hanif? Dan Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih(-Nya). (annisaa 125).
Kalimat “menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat baik” artinya beribadah, maknanya siapakah yang lebih baik agamanya dari orang yang menjadikan hidup dan matinya untuk ibadah kepada Allah sedang dia berpegang pada agama nabi Ibrahim yaitu agama Islam.
Agama Islam disandarkan Allah Subhanahu Wata’ala kepada nabi Ibrahim Alaihi Sholatu Wassalam dan tidak disandarkan kepada siapapun selainnya.
Kalimat “menyerahkan diri kepada Allah”, ini adalah perbuatan hati yang terdiri dari delapan bagian, yaitu khasyah (takut), raja’ (harap), tawakkal (menyerah), khudhu’ (merendahkan diri), ikhlas, shidq (jujur), cinta dan ridho.
Inilah delapan perasaan yang menghiasi hati ketika sedang beribadah bila kesemuanya diserahkan kepada Allah Subhanahu Wata’ala ketika sedang melaksanakan amalan-amalan ketaatan baik ketika melaksanakan perintah atau menjauhi larangan maka inilah yang disebut beribadah.
Kalimat “dan dia berbuat baik”, ini adalah perbuatan anggota badan, berbuat baik dalam hal ini dinilai berdasar tuntunan Alqur’an dan sunnah baik dalam hal ibadah mahdhoh (semata-mata ibadah) seperti sholat, puasa, dzikir, haji, baca Alqur’an, atau ibadah gairu mahdhoh seperti bakti kepada orang tua, silaturahim, menjenguk orang sakit, memberi nasehat, zakat, sedekah, dan lain-lain.
Maka orang yang paling baik agamanya hanyalah mereka yang jadikan hidup dan matinya untuk ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, atau menghabiskan hidupnya untuk berserah diri kepada Allah sembari melaksanakan amalan-amalan ketaatan, dialah yang telah mewujudkan hakikat penciptaan manusia di alam semesta, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala Al-Mu’minūn : 115
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
Apakah kamu mengira bahwa Kami menciptakan kamu main-main (tanpa ada maksud) dan kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?
Dan berfirman, Aż-Żāriyāt : 56-58
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku. Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.
wallahul musta’an.
Berpecah Belah itu Adzab
Bismillah
Assalamu’alaikum
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, An-Nūr : 63
فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
“hendaklah takut orang-orang yang menyelisihi perintahnya, jangan sampai ditimpa fitnah atau ditimpa adzab yang pedih” (an nur 63).
Fitnah dalam ayat ini maknanya perpecahan yang sampai pada tingkat meresahkan, sedang adzab yang pedih maknanya adzab di dunia, ini sebagaimana diterangkan Allah Subhanahu Wata’ala dalam firmanNya, Al-An’ām : 65
قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ
“katakanlah, dia kuasa mendatangkan pada kalian adzab dari atas atau dari bawah tapak kaki kalian atau menjadikan kalian berkelompok-kelompok hingga sebagian merasakan keganasan dari yang lain, Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahaminya” (al an’am 65).
Kalimat “mendatangkan pada kalian adzab dari atas atau dari bawah tapak kaki kalian” merupakan tafsiran dari adzab yang pedih,
sedang kalimat “menjadikan kalian berkelompok-kelompok hingga sebagian merasakan keganasan dari yang lain” merupakan tafsiran dari fitnah.
Kalimat “hingga sebagian merasakan keganasan dari yang lain” inlah konsekwensi dari perpecahan, keganasan yang paling ringan adalah ketika mereka saling membelakangi satu sama lain, tidak saling sapa dan tidak saling peduli, ketika mereka saling tahdzir, saling hajr, saling mempermalukan,
Padahal Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam mengingatkan. “ janganlah kalian saling dendam, saling dengki, saling membelakangi, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara, dan tidak halal bagi seorang membelakangi saudaranya lebih dari tiga hari” (muttafaq alaih, Bukhari 5612).
Dan yang paling berat adalah ketika mereka saling penggal leher satu atas yang lain, saling menghalalkan darah, harta, nyawa, kehormatan, anak anak, dan wanita.
Maka perselisihanlah yang menyebabKan Allah Subhanahu Wata’ala mengangkat berkah dari persaudaraan, kasih sayang dan tolong menolong yang dahulu menghiasi ummat ini hingga Seorang sahabat pernah berkata, “dahulu aku dapati manusia lebih mencintai saudaranya dari hartanya, namun kini aku dapati manusia lebih mementingkan harta dari saudaranya”.
Fenomena yang menghiasi dunia Islam saat ini dimana mereka bekerja sendiri sendiri dalam menghadapi musuh masing-masing tanpa dapat mengharapkan bantuan dari saudaranya seiman, sehingga wajar bila kaum Muslimin dimana-mana lemah, kalah dan hina hingga menjadi bulan-bulanan musuh musuhnya.
Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “telah dekat masanya dimana ummat ummat akan berdatangan memperebutkan kalian seperti memperebutkan makanan diatas meja. Apakah karena jumlah kami sedikit?
Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak tapi kalian bagai buih yg dibawa banjir,Telah dicabut rasa gentar musuh terhadap kalian, dan dihati kalian dicampakkan penyakit wahn, yaitu cinta dunia dan takut mati.
Berpecah belahnya ummat merupakan fitnah dan adzab yang Allah turunkan kepada ummat ini karena perbuatan durhaka atau meyelisihi tuntunan Allah dan Rasul-Nya, mereka hanya berpegang atau bertaqlid buta pd fatwa-fatwa ulama, ustadz, kyai, syekh dan semacamnya.
wallahul musta’an.
MAKNA ISLAM
Bismillah
Assalamualaikum
Islam berasal dari kata aslim yaitu perintah Allah Subhanahu Wata’ala kepada nabi Ibrahim alaihi sholatu wassalam Al-Baqarah : 131
إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ
(Ingatlah) ketika Tuhan berfirman kepadanya (Ibrahim), “Berserahdirilah!” Dia menjawab, “Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam.”
Oleh karena itu pengikutnya disebut sebagai Muslimin Al-Ḥajj : 78
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ ۚ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ ۚ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ ۚ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَٰذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ ۚ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ ۖ فَنِعْمَ الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Berjuanglah kamu pada (jalan) Allah dengan sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesulitan untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, yaitu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan (begitu pula) dalam (kitab) ini (Al-Qur’an) agar Rasul (Nabi Muhammad) menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka, tegakkanlah salat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada (ajaran) Allah. Dia adalah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.
Dan agama mereka disebut Islam (lihat surah almaidah 3)
“Aku berserah diri kepada Tuhan seluruh alam semesta.” inilah jawaban nabi Ibrahim alaihi sholatu wassalam, jawaban ini mengandung tiga konsekuensi yaitu mendengar, taat dan ridho.
Dahulu ketika seorang muallaf masuk Islam maka ia terlebih dahulu diminta berbaiat kepada pemimpin tertinggi kaum Muslimin yaitu nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam, dan inti dari kalimat baiat itu adalah “kami berbaiat untuk mendengar dan taat dalam susah maupun senang, dalam sempit maupun lapang, dan tidak akan keluar dari ketaatan apapun yang terjadi”
Maka seorang Muslim terikat dengan ikrar dan sumpahnya kepada Allah dan RasulNya.
Baiat ini tentu bukan sekadar formalitas ataupun basa basi belaka, tetapi harus terwujud dalam prilaku dan tindakan, Allah Subhanahu Wata’ala memperingatkan An-Nūr : 51-52
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Sesungguhnya yang merupakan ucapan orang-orang mukmin, apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar ia memutuskan (perkara) di antara mereka hanyalah, “Kami mendengar dan kami taat.” Mereka itulah orang-orang beruntung.
Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.
Dan berfirman Al-Ahzāb : 36
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا
Tidaklah pantas bagi mukmin dan mukminat, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan, akan ada pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang nyata.
Adapun orang yg mempermainkan sumpahnya kepada Allah dan RasulNya akan dicampakkan kederajat yang paling rendah, Al-Anfāl : 20-22
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُونَ
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لَا يَسْمَعُونَ
إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِّ عِنْدَ اللَّهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, padahal kamu mendengar (perintah dan larangan-Nya).
Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata, “Kami mendengar.” Padahal, mereka tidak mendengar (tidak mengamalkannya).
Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk dalam pandangan Allah yang bergerak di atas bumi ialah mereka yang tuli dan bisu (tidak mau mendengar dan tidak mau mengatakan kebenaran), yaitu orang-orang yang tidak berakal.
Konsekuensi yg ketiga yaitu Ridho.
Hamba yang ridho kepada Allah Subhanahu Wata’ala yaitu Hamba yg siap menerima apapun perintah dan larangan-Nya tanpa sesak didada, menerima dg senang hati, suka rela, tulus dan ikhlas, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Nisā : 65
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Demi Rabbmu, mereka tidak beriman hingga bertahkim kepadamu (Nabi Muhammad) dalam perkara yang diperselisihkan di antara mereka. Kemudian tidak ada keberatan dalam jiwa mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka terima dengan sepenuhnya.
Artinya keimanan seorang Muslim dipertaruhkan manakala masih ada perasaan beratt hati atas ketetapan Rasul-Nya.
Maka ridho inilah yg menjadi ukuran dari pengabdian seorang Muslim akan diterima dan dilipat gandakannya pahala atau tidak.
Wallahul musta’an.
KEHIDUPAN ISLAMI
Bismillah
Assalamualaikum
Sahabat pembaca, Memiliki seorang pemimpin yang mempersatukan kaum Muslimin atau bersatunya kaum Muslimin pada seorang pemimpin itulah sesungguhnya kehidupan diatas Islam, kehidupan diatas Aljamaah, dan kehidupan kaum Muslimin.
Sebaliknya, tanpa pemimpin maka manusia hidup dalam kelompok-kelompok dan berpecah belah, itulah sesungguhnya kehidupan jahiliyah.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman Āli ‘Imrān : 103
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ۚ وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَىٰ شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
”Berpegang teguhlah pada tali Allah semuanya dan janganlah kalian berpecah belah, Dan ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika kalian masih bermusuhan lalu Allah satukan hati-hati kalian maka jadilah kalian dengan nikmatNya bersaudara, dan kalian berada ditepi jurang Neraka lalu Allah selamatkan kalian darinya, demikianlah Allah terangkan pada kalian ayat-ayatNya agar kalian mendapatkan petunjuk ” (ali
Imron 103).
Dalam ayat ini terkandung tiga rahasia kekuatan dan kesuksesan kaum Muslimin yaitu berpegang teguh pada tali Allah semuanya, membina dan menjaga persaudaraan diantara mereka dan menghindari perpecahan, hal ini tidak akan terwujud tanpa adanya seorang pemimpin yang mempersatukan.
Mengingat kondisi kaum Muslimin saat ini, mereka hidup dalam keadaan berkelompok-kelompok dan berpecah belah, berselisih dan bercerai berai, tak ada persatuan, kekompakan, persaudaraan, sehingga perlu kiranya menumbuhkan kesadaran akan pentingnya kehidupan aljamaah.
Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Barang siapa yang mengiginkan tengah-tengah Surga hendaklah ia menetapi aljamaah” (Tirmidzy 2091),
Dan bersabda, “tiga hal yang tiadalah hati seorang muslim terikat padanya melainkan masuk Surga yaitu ikhlas beramal karena Allah, memberi nasehat kepada pemimpin, dan menetapi aljamaah” (Addarimi 231),
Dan bersabda, “demi yang jiwa Muhammad ditanganNya ummat ini akan pecah jadi 73 firqoh satu diSurga dan 72 diNeraka, siapakah mereka (yang di Surga) ? yaitu aljamaah (Ibnu Majah 3982).
Dalil-dalil ini menunjukkan betapa pentingnya kehidupan Aljamaah,
agar kaum Muslimin kembali menjadi Ummatan wahidah yang bersatu lahir dan bathin dibawah komando seorang pemimpin yang ditaati, Itulah kaum Muslimin yang Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah, dan itulah Islam, agama yang tidak berpecah belah dan ummat yang bersatu pada seorang pemimpin.
Wallahul musta’an.
Klaim Ahlussunnah Waljamaah
Bismillah
Assalamualaikum
Klaim Ahlussunnah Waljamaah
Dalam mengamati fenomena Islam masa kini didapati klaim ahlussunnah waljamaah seakan telah mendarah daging pada sebagian kaum Muslimin, seolah bagi mereka Islam itu adalah ahlussunnah wal jamaah kalau bukan maka bukan Islam, atau Sesat dan bid’ah.
Menyanjung diri sendiri termasuk prilaku yang tercela, Allah Subhanahu Wata’ala melarang dari prilaku ini.
Yahudi dan Nasrani telah menyanjung diri sendiri dg mengatakan, “kamilah anak-anak Allah, dan orang-orang yang dicintai Allah”,
Dan mengatakan “tidak ada yang pantas masuk Surga selain Yahudi dan Nasrani”. Maka Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan hal ini pelajaran bagi kaum Muslimin dengan Firman-Nya, An-Nisā : 49-50
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ ۚ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
انْظُرْ كَيْفَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ ۖ وَكَفَىٰ بِهِ إِثْمًا مُبِينًا
“Tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang menyanjung diri mereka, bahkan Allah memuji siapa yang dikehendaki dan mereka tidak dianiaya sedikitpun, perhatikanlah, betapa mereka telah mengadakan dusta atas Allah, dan cukuplah itu sebagai dosa yang nyata” (An-Nisa 49-50).
Demikianlah tingkah Yahudi dan Nasroni yang dianggap kedustaan atas Allah dan perbuatan dosa yang nyata.
Kaum ahlussunnah wal jamaah datang dengan slogan, kami diatas Sunnah, kami diatas aljamaah, seolah berkata kamilah yang berada diatas kebenaran, kamilah yang pantas masuk Surga, apakah ungkapan seperti ini benar dan dapat dibenarkan ?!
Yang namanya diatas Sunnah adalah bila seseorang berada diatas Al jamaah, dan yg namanya diatas Aljamaah adalah bila seseorang bersatu dengan pemimpinnya atau punya pemimpin yang mempersatukan mereka, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda “Barang siapa yang meninggalkan aljamaah satu jengkal saja ia telah memutuskan kalung Islam yang ada dilehernya ” (Tirmidzy 2790).
“Aljamaah” artinya kaum Muslimin beserta pemimpinnya yaitu Almahdy atau khalifah, Bila tidak ada pemimpin maka tidak ada Aljamaah, yang ada hanya kelompok-kelompok yang berpecah belah.
sedang “kalung Islam” yang disebutkan dalam hadist ini maknanya adalah baiat, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa yang mati sedang dilehernya tidak ada baiat dia mati diatas jahiliyah” (Muslim 3441)
Bila anda perhatikan kaum Muslimin saat ini, apakah mereka punya pemimpin yang mempersatukan ?!, jawabnya, tidak, bahkan mereka berada diatas perpecahan, maka apakah kaum Muslimin saat ini dapat dikatakan diatas Sunnah?!
Namun betapa aneh dan ganjil tatkala mereka mengklaim diri diatas Sunnah dan berada diatas Aljamaah dengan slogan “ahlussunnah waljamaah”, wallahul musta’an.
Dalam perkembangannya entitas ini mengalami pergolakan yg ekstrem, tumbuhlah diatasnya berbagai firqoh, sekte dan aliran, yg masing masing dg klaim kebenaran mutlak saling berebut pengakuan sebagai pemilik entitas dan menuding kelompok lain telah keluar dari ahlussunnah wal jamaah.
Wallahul musta’an.
Hakikat Mati
Bismillah..
Hai brother, assalamu alaikum, apa kabar nih, semoga baik-baik aja.
Begini bro, aku hanya ingin mengingatkan satu hal.
Broo…keselamatan diakhirat itu bukanlah untung- untungan bukan pula taruhan, melainkan harga mati, jadi jangan pernah engkau berjudi dengan hidupmu.
Almahdy
Pernahkah kamu merasakan dibakar api ? kalau belum cobalah untuk merasakannya, cobalah dekatkan ujung jarimu ke api dan cobalah bertahan selama beberapa detik, agar engkau tahu betapa sakitnya..
Lalu bayangkan bila dirimu dilemparkan kedalam api neraka, sedang engkau tak dapat menebus diri walau memiliki harta sepenuh bumi dua kali, dua kali bro..!,
Saat itu, engkau tak peduli lagi dengan orang tua, sahabat, istri dan anak-anakmu, bahkan saat itu engkau berangan-angan seandainya bisa menjadikan mereka tebusan, atau menjadikan mereka menggantikan dirimu didalam api, bayangkan bro..
betapa sakitnya, betapa menderitanya.
Kematian, jangan pernah engkau sangka sebagai akhir dari segalanya, bahkan dia adalah awal dari segalanya, awal dari segalanya broo..!
Mungkin engkau pernah berfikir bila kematian akan mengakhiri deritamu, atau akan menyelesaikan masalahmu, tidak, sekali lagi tidak bro, bahkan kematian itu mengerikan, iii..mengerikan..!!.
Bayangkan, ketika tubuhmu diletakkan di liang lahat, lalu orang-orangpun pergi meninggalkanmu seorang diri, mulailah binatang itu mendekati tubuhmu, belum lagi yang berasal dari dalam perutmu, mereka berlomba menggigit tubuhmu, menghisap cairanmu, mengoyak perutmu, mencungkil matamu, mencabit-cabit dagingmu, ooow…, betapa sakit, betapa mengerikan..
Belum lagi dengan adzab kubur yang dijanjikan dan martil malaikat Mungkar dan Nakir jika engkau termasuk orang celaka, sungguh ini bukan main-main.
Tahukah kamu, bila dalam tubuh kita tidak hanya mengandung satu roh melainkan banyak, bila tidak percaya baca aja disini (annur 24, yasin 65) dan disini (al isra 36).
Orang tidur dan orang mati itu sama-sama dikatakan wafat dalam alqur’an, bila tidak percaya baca aja disini (azzumar 42),
sama-sama dicabut rohnya, tapi lain roh yang dicabut saat tidur, dan lain pula saat mati, artinya tidak semua roh itu dicabut ada yang dicabut dan ada yang tetap dibiarkan berada ditubuh kita,
Begitupula saat kita didalam kubur ada sebagian dari roh yang telah dicabut dikembalikan lagi ketubuh kita, diantaranya seperti roh yang mengendalikan pendengaran, penglihatan, akal, indra peraba dan perasa.
Lalu bagaimana dengan roh yang mengendalikan aktifitas tubuh, apakah dikembalikan..? pikirin aja sendiri bro.., karena dengan berfikir engkau akan tahu betapa mengerikannya kehidupan di alam kubur, karena itu jangan sekali-kali engkau berjudi dengan hidupmu..
Percayalah bro, kalau nggak percaya silakan aja berjudi tapi yakin engkau takkan pernah keluar sebagai pemenang, seriuss..?! yaa, tentu saja aku serius mengingatkanmu, tujuanku Cuma satu “AGAR MATI TAK SIA-SIA”
Satukan hati bersama ALMAHDY
Post berikutnya ⏬⏬⏬
https://rijaluddin.family.blog/2022/01/22/ketaatan-yg-salah-tempat/
Harapan Islam Di Pundakmu
Bismillah
Assalamualaikum
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Mā’idah : 54
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan datang dengan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin dan bersikap tegas terhadap orang-orang kafir. Mereka berjihad di jalan Allah dan tidak takut pada celaan orang yang mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.
Bacalah dan renungkan makna yg dikandung ayat diatas, Allah Subhanahu Wata’ala memperingatkan orang-orang yg beriman “barang siapa diantara kalian yang murtad dari agamanya”, ini adalah indikator bahwa akan datang masanya orang-orang beriman banyak yg murtad, disaat itulah Allah Subhanahu Wata’ala meninggalkan orang-orang itu dan memilih orang lain untuk memperjuangkan Islam, yaitu kalian wahai kaum muallaf.
Bagaimana mungkin seorang yg beriman bisa murtad ?!
Perlu disadari bahwa kita hidup disuatu zaman yg sudah terlampau jauh dari zaman Nabi Shollallahu alaihi wassalam. Dizaman inilah kita dapati hakikat terbolak balik, kebenaran disangka kebatilan, petunjuk dianggap sesat, Kesesatan disangka petunjuk, kebenaran dan kebatilan tercampur aduk satu sama lain, dan lain-lain.
Maka bisa jadi seseorang yang bersungguh-sungguh dalam ibadah namun tanpa sadar dirinya dinyatakan sesat oleh Allah Subhanahu Wata’ala, perhatikan ayat berikut Al-Kahf : 103-104
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Katakanlah “maukah kami beri tahukan kalian ttg orang-orang yang paling rugi perbuatannya ?”
(Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa diri mereka berbuat yg sebaik-baiknya.
Orang-orang beriman dalam ayat ini dikatakan murtad bukan karena mereka berpindah agama, tetapi karena mereka beragama tidak berdasarkan firman Allah dan sabda Rasul, melainkan hanya berdasarkan fatwa-fatwa alim ulama, ustadz dan kyai.
Sama persis dengan Yahudi dan Nasrani dimana agamanya diatur oleh para pendeta, rahib, pastor dan semacamnya.
Kalimat “Allah akan datang bersama suatu kaum yang Allah cintai” ini adalah isyarat bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan membangkitkan kembali agama yg benar ini melalui orang-orang pilihanNya dan memerangi kaum murtad itu bersama Rasul Allah yaitu Almahdy dan pengikutnya, kecuali mereka yg mau gabung bersama Rasul Allah Almahdy.
Ciri-ciri pengikut Almahdy yg disebutkan dalam ayat ini persis sama dengan ciri sahabat Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam dalam Al-Fath : 29
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Nabi Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kuffar, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari keutamaan Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Itu adalah sifat-sifat mereka dalam Taurat. Sedang dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu makin kuat, lalu menjadi besar dan kokoh di atas batangnya. Tanaman itu menyenangkan hati orang yang menanamnya. Keadaan mereka membuat geram orang-orang kuffar. Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.
Wallahul musta’an.
SYIRIK BESAR bagian 8
Bismillah
Assalamualaikum
Ketaatan Yg Salah Tempat
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman At-Taubah : 30-31
وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ۖ ذَٰلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ ۖ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ ۚ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ ۚ أَنَّىٰ يُؤْفَكُونَ
اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ
Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair putra Allah,” dan orang-orang Nasrani berkata, “Al-Masih putra Allah.” Itulah ucapan mereka dengan mulut-mulut mereka. Mereka meniru ucapan orang-orang yang kufur sebelumnya. Allah melaknat mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?
Mereka menjadikan para rabi (Yahudi) dan para rahib (Nasrani) sebagai tuhan-tuhan selain Allah serta Al-Masih putra Maryam. Padahal, mereka tidak diperintah, kecuali untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada tuhan selain Dia. Mahasuci Dia dari apa yang mereka persekutukan.
Dengan merenungkan ayat diatas dan memikirkan jawaban atas pertanyaannya “bagaimanakah hingga mereka itu berpaling dari kebenaran?
Yahudi dan Nasrani dahulunya mereka adalah ummat dari Nabi dan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, mereka dahulunya mendapatkan bimbingan langsung dari Allah Subhanahu Wata’ala melalui RasulNya.
Namun apa yang terjadi setelah para nabi dan rasul itu meninggal?
Mungkin generasi pertama dari mereka masih lurus jalannya, tapi apakah ada jaminan bagi generasi berikutnya?
Ayat diatas memberikan kita gambaran akan perjalanan suatu ummat beragama sepeninggal Nabi mereka, beransur ansur mereka akan semakin jauh dari petunjuk.
Menjadikan bagi Allah Subhanahu Wata’ala seorang anak, atau menobatkan seseorang sebagai anak Tuhan, ini adalah bentuk kesesatan terberat dan terjauh, bagaimana bisa mereka ikut membenarkannya, sedang ayat ayat dari kitab suci masih sering mereka baca dan dengar ?!
Siapakah pelakunya ?
Pelakunya tentu saja adalah orang-orang yg dianggap sebagai pemuka agama, semacam pendeta, rahib, pastor, paus, atau yang lainnya.
Maka berdosalah para pelaku yg telah sesat dan menyesatkan orang banyak, dan berdosa pula para pengikutnya yg mengikuti dan membenarkan fatwa-fatwa sesatnya, mereka dianggap telah menjadikan rahib dan pendeta itu sebagai Tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu Wata’ala, wallahul musta’an.
Ini adalah pelajaran bagi kaum Muslimin, keadaan mereka tentu tidak jauh berbeda dengan keadaan kaum Muslimin sepeninggal Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wassalam. Semakin jauh jarak zaman dari Nabi tentu akan semakin jauh pula mereka dari petunjuk dan kebenaran, hingga Nabi Shollallahu alaihi wassalam pernah menggambarkan bahwa bangsa Arab suatu hari nanti akan kembali menyembah berhala lata dan uzza.
Dari sini kiranya patut kita pertanyakan, apakah pantas bagi kaum Muslimin menyandarkan agama kepada para ulama, ustadz, kyai, syekh, dan semacamnya ?
Apakah mereka adalah pemilik petunjuk dan agama yang benar, sebagaimana Nabi dan Rasul ?
Apakah tidak berdosa bagi kaum Muslimin mentaati mereka, atau malah kita justru dianggap menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah Subhanahu Wata’ala ?
Toh pada kenyataannya mereka tak lebih dari sekedar corong dari sekte yg mereka ikuti, tak lebih dari sekedar da’i yg mengajak kepada kelompok mereka masing-masing.
Dari sinilah, maka patut bagi kaum Muslimin merenungkan dan menyadari bahwa petunjuk, Hidayah dan agama yang benar hanya bersama dengan Rasul Allah Subhanahu Wata’ala, sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya dg judul Alhidayah hidayatan,
wallahul musta’an.