DALAM SISTEM THOGUT

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 16

Keyakinan kaum muslimin terhadap agamanya sesungguhnya telah berakar kuat dalam sanubari mereka, kaum muslimin telah yakin bahwa Islam adalah agama yang paling benar dari semua agama, ajaran yang paling selaras dengan fitrah manusia dan qodratnya dari semua ajaran, dan sistem sosial yang paling menjamin dari semua sistem, hanya saja patut disayangkan, mereka telah banyak tertipu oleh beragam syubuhat dan syahwat yang disuntikkan kedalamnya dari berbagai arah,

kaum muslimin umumnya telah terbiasa dengan kehidupan yang sesungguhnya bertentangan dengan perinsip Islam yang benar dan bahkan sebagian mereka menganggap bahwa apa yang mereka pegangi itu sebagai ajaran Islam yang sebenarnya.

Syubuhat, syahwat dan perpecahan yang sudah dianggap biasa dan seolah mendapatkan pembenaran telah sedemikian rupa meracuni kepribadian sebagian individu muslim berakibat menjatuhkan martabatnya ketempat yang begitu rendah hingga hampir-hampir mereka kehilangan kepribadiannya, peri kemanusiaannya, daya kemauannya, kemampuan berfikirnya, rasa moralnya, dan kepekaan sosialnya.

Alloh Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Baqarah : 256

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Tidak ada paksaan dalam (menganut) agama (Islam). Sungguh, telah jelas jalan yang benar dari jalan yang sesat. Siapa yang ingkar kepada thaghut dan beriman kepada Allah sungguh telah berpegang teguh pada tali yang sangat kuat yang tidak akan putus. Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Mengamati kondisi sosial kaum muslimin yang umumnya hidup dalam kelompok-kelompok, sekte, Hizb dan firqoh dimana setiap kelompok membanggakan kelompoknya dan menganggap kebenaran hanya dipihaknya, sementara disisi lain anggota masyarakatnya telah terbiasa dengan kehidupan individualis, Materialis dan hedonis.

Karena belitan syubhat dan syahwat yang telah sedemikian rupa sehingga mungkin sebagian dari mereka telah menganggap sehat sistem yang berlaku saat ini, sehingga sulit diharapkan mereka akan mendukung Almahdy yg mengusung suatu sistem yang lebih baik yg berdasarkan alqur’an dan sunnah, apalagi berjuang bersamanya.

Agama dan sekaligus sebagai sistem sosial Islam dg minhaj aljamaahnya tentu berbeda dengan sistem sosial yang saat ini sedang berkuasa, bila sistem sosial yang berlaku saat ini tidak punya tanggung jawab moril dan sprituil terhadap individu dan kolektif, juga tak mampu memberi jaminan keamanan dari segala sisinya bagi keseluruhan masyarakat, maka sistem Islam dapat mengisi semua kekurangan ini.

Hanya saja, cukupkah keyakinan kaum muslimin terhadap agamanya ini dapat dijadikan modal dasar dan kekuatan ekstra untuk mendukung almahdy memenangkan sistem sosialnya diatas semua sistem,..?!

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman At-Taubah : 33

هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya atas semua agama walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.

Suatu sistem sosial tentu membutuhkan masyarakat dengan segala keberagamannya untuk menunjukkan keunggulannya dengan sistem sosial lainnya, seunggul apapun suatu sistem bila tanpa kepercayaan dan keterlibatan masyarakat pendukungnya tentu tidak akan berarti apa-apa.

Keikhlasan mutlak dibutuhkan sebagai asas dalam memperjuangkan sistem ini dan membangun struktur anggunnya. Bila motif pribadi, egoisme dan sentimen kelompok masih menghiasi individu kaum muslimin tentu akan sulit diharapkan untuk dapat bersikap realistis, jujur dan adil, sebab orang seperti ini akan selalu mencari dalih pembenaran atas kepentingan pribadi dan kelompok.

Bila kaum muslimin belum bisa mengembangkan sikap sami’na wa atho’na terhadap khalifah, sinergitas, persaudaraan, jujur, dan adil maka siapa lagi yang dapat diharapkan memikul tanggung jawab dalam mengemban sistem terbaik ini dan memperjuangkannya terlepas dari kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan ?!

Masyarakat kaum muslimin tidak hanya mengemban tugas memperjuangkan sistem ini tapi juga bertanggung jawab melindungi dan mempertahankan eksistensinya terlepas dari kecenderungan individual, kepentingan pribadi dan golongan.

Akhirnya semua kembali pada kesadaran pribadi setiap individu muslim akan hakikat diri dan tanggung jawab pribadi dihadapan penciptanya.

Satu contoh yang akan diangkat disini adalah mengenai kepemilikan pribadi. Kepemilikan pribadi termasuk diantara topik utama disemua sistem sosial.

Bila konsep kapitalisme memberikan kebebasan tanpa batas kepada setiap individu, kebebasan tanpa kontrol dan campur tangan penguasa, batasannya hanyalah selama tidak berbenturan dengan kepentingan orang lain.

Dengan begitu kapitalisme memberi ruang bagi setiap individu untuk mengejar kesenangan materi dan menimbun harta tanpa batasan hingga membolehkan konsentrasi kekayaan pada seorang individu.

Akibatnya, kesenjangan sosial antara sikaya dan simiskin tak dapat dihindari, begitu pula dengan persaingan individual, pembagian dan pertentangan kelas dan kasta, monopoli perdagangan dan bisnis, praktek riba dan bunga, eksploitasi kaum buruh oleh kaum konglomerat, dan berbagai praktek buruk dan transaksi-transaksi dhalim lainnya.

Kemudian ketika mereka telah punya kekayaan fantastic merekapun memiliki kemampuan membeli negara dan mengatur hukum, akibatnya negara dan hukum pada akhirnya jadi permainan orang-orang berharta.

Sebaliknya konsep sosialisme hendak mencabut kepemilikan pribadi dan menggantinya dengan kepemilikan kolektif, konsentrasi kekayaan hanya ditangan negara, dan manusia dipaksa bekerja untuk kepentingan kolektif dan mengabaikan kepentingan pribadinya, akibatnya manusia akan kehilangan semangat kerja dan semangat hidupnya.

Sebab tidak mungkin memaksa manusia mengalami penderitaan, kesulitan dan kesakitan secara sukarela tanpa imbalan kesenangan yang nyata darinya dengan hanya berdasar anggapan hendak menyenangkan orang lain.

Betapa sering terjadi dalam peristiwa pertentangan antara kepentingan pribadi dan kolektif manusia tetap kebingungan dan bertanya-tanya apakah ia harus menanggung kesulitan dan derita demi orang lain ataukah harus mengabaikan kepentingan kolektif itu lalu terbenam dalam kenikmatan dan keuntungan pribadi ?.

Dalam diri manusia sesungguhnya terdapat dua naluri yang bertentangan yaitu naluri cinta diri dan naluri pengorbanan.

Kapitalisme mendasarkan konsep-konsep mereka diatas naluri cinta diri, sementara sosialisme malah mendasarkan konsep mereka diatas naluri pengorbanan.

Dari sinilah Islam menunjukkan keunggulannya diatas kedua sistem ini, Islam merukunkan dua naluri ini dan memadukannya dalam konsep ilahi yang menyeimbangkan, melindungi, dan mengayomi.

Islam membolehkan kepemilikan pribadi, lalu memberikan batasan-batasan yang adil dan tidak membenarkan kosentrasi kekayaan pada seorang individu.

Islam memberi kewenangan pada khalifah memungut zakat dari orang-orang kaya dan menyalurkannya pada orang-orang miskin.

Islam membebankan tanggung jawab penuh kepada khalifah dan orang-orang berharta atas rakyat yang melarat.

Semua kebijakan ini bertujuan menjamin tanggung jawab ekonomi dalam ketersediaannya sirkulasinya dan keamanannya pada keseluruhan lapisan masyarakat sekaligus merintis jalan bagi terhapusnya berbagai praktek buruk dan transaksi-transaksi dholim dalam masyarakat.

Islam membangkitkan jiwa pengorbanan yang sedang tidur dalam diri manusia melalui konsep-konsep ilahiyah.

Pada dasarnya manusia adalah makhluk yg dikuasai oleh naluri cinta diri, bila dibiarkan maka dorongan-dorongan individualnya dan egonya akan membuat jalannya sendiri.

Islamlah yang mengajarkannya mematuhi perintah-perintah ilahi,

Islamlah yang mendidiknya menghormati nilai-nilai moral dalam hubungan sosial dan kebersamaan sambil mengendalikan ego dan ambisi pribadinya.

Islam membentuk tabiat manusia sedemikian rupa sehingga menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam aljamaah.

Naluri cinta diri kadang mendorong seseorang merampas makanan dari orang lain ketika sedang lapar, sedang naluri pengorbanan mendorongnya memberikan makanannya kepada orang lain walau ia sendiri lapar.

Pada orang pertama mungkin naluri pengorbanannya masih terkalahkan sedang pada orang kedua telah bangkit oleh didikan Islami hingga mampu berbuat melebihi orang lain.

Dari sinilah Islam menampakkan keagungannya dalam mendidik jiwa-jiwa yang individualis menumbuhkannya menjadi jiwa muthmainnah nan penuh kasih, dengan menjadikan keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai patokan dasar, pedoman, dan tujuan akhir. Wallahul musta’an.

HIDUP MEWAH

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 15

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Hūd : 116

فَلَوْلَا كَانَ مِنَ الْقُرُونِ مِنْ قَبْلِكُمْ أُولُو بَقِيَّةٍ يَنْهَوْنَ عَنِ الْفَسَادِ فِي الْأَرْضِ إِلَّا قَلِيلًا مِمَّنْ أَنْجَيْنَا مِنْهُمْ ۗ وَاتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا مَا أُتْرِفُوا فِيهِ وَكَانُوا مُجْرِمِينَ

“Sekiranya tidak ada dari generasi sebelum kamu orang-orang yang melarang berbuat kerusakan dibumi (niscaya Kami telah binasakan mereka) kecuali sedikit dari mereka yang Kami selamatkan, orang-orang dholim akan senantiasa mengikuti kesenangan hidup yang Kami letakkan padanya dan mereka adalah kaum pendosa” (Huud 116)

Dan berfirman Al-Wāqi’ah : 41

وَأَصْحَابُ الشِّمَالِ مَا أَصْحَابُ الشِّمَالِ
فِي سَمُومٍ وَحَمِيمٍ
وَظِلٍّ مِنْ يَحْمُومٍ
لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ
إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُتْرَفِينَ
وَكَانُوا يُصِرُّونَ عَلَى الْحِنْثِ الْعَظِيمِ

“golongan kiri, alangkah sengsaranya golongan kiri itu, didalam neraka samum dan cairan yang mendidih, naungannya asap yang pekat, tak ada rasa dingin dan tak ada kemurahan, sungguh merekalah yang dahulu (didunia) hidup dalam kemewahan, mereka terus menerus hidup (didunia) dalam pelanggaran yang besar itu” (Alwaqi’ah 41-46).

Dan berfirman Al-Muzzammil : 11-14

وَذَرْنِي وَالْمُكَذِّبِينَ أُولِي النَّعْمَةِ وَمَهِّلْهُمْ قَلِيلًا
إِنَّ لَدَيْنَا أَنْكَالًا وَجَحِيمًا
وَطَعَامًا ذَا غُصَّةٍ وَعَذَابًا أَلِيمًا
يَوْمَ تَرْجُفُ الْأَرْضُ وَالْجِبَالُ وَكَانَتِ الْجِبَالُ كَثِيبًا مَهِيلًا

“biarkan Aku (sendiri yang bertindak) terhadap para pendusta yang hidup senang itu, dan biarkanlah mereka menikmatinya barang sebentar, sesungguhnya disisi Kami ada belenggu-belenggu dan neraka jahim, makanan yang menyumbat di leher dan adzab yang pedih. pada hari (ketika) bumi dan gunung-gunung berguncang keras dan gunung-gunung itu menjadi seperti onggokan pasir yang tercurah. (Almuzammil 11-14).

Dan berfirman Al-Ahqāf : 20

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

“dihari ketika orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (dikatakan pada mereka) “kamu telah menikmati pahala kebaikan-kebaikanmu di kehidupan dunia dan bersenang-senang dengannya maka pada hari ini kamu dibalas dengan adzab yang menghinakan disebabkan apa (harta) yang kamu sombong dengannya dikehidupan dunia tanpa alasan yang benar dan apa (kedudukan) yang dengannya kamu berbuat fasiq” (al ahqof 20),

Cinta diri yang berlebihan atau egoisme adalah naluri manusia yang paling mendasar. Cinta diri yang berarti mencintai kebahagiaan dan kesenangan untuk dirinya sendiri serta membenci kesulitan hidup sakit dan penderitaan.

Cinta diri inilah yang mendorong manusia mempertahankan diri, mempertahankan hidup, mencari nafkah dan mengamankan kepentingan dan kebutuhan hidupnya.

Ketika jiwa itu hampa dari nilai-nilai agama sementara egoisme begitu dominan dalam dirinya, terdoronglah ia mengejar kebutuhan-kebutuhan hidupnya hingga mengeksploitasi sumber-sumber material yang ada, pada akhirnya merubah perinsipnya kearah materialisme.

Saat itu, dalam anggapannya kebahagiaan tak mungkin dicapai kecuali dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan materi untuk jangka waktu yang panjang, dengan begitu ia akan bekerja keras dan memanfaatkan segala yang ada untuk mengamankan kebutuhannya dan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya.

Ketika harta telah terkumpul dalam jumlah yang lebih, ia pun beranjak dari perinsip materialisme ke perinsip hedonisme, pada kondisi ini kesenangan dan kebahagiaan pribadilah yang akan menjadi prioritasnya dan tujuan hidupnya hanyalah sekedar mengejar kepuasan dan kenikmatan belaka.

Pergerakan jiwa manusia dari egoisme kearah materialisme dan dari materialisme kearah hedonisme tidaklah selalu sama pada setiap pribadi, pergerakan itu sedikit banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor luar dan dalam, terutama suntikan nilai-nilai moral dan spritual yang didapatkan dari lingkungan sekitarnya.

Namun disadari atau tidak, egoisme, materialisme dan hedonisme, Ketiganya adalah media bagi tumbuh kembangnya penyakit-penyakit hati yang akan sering kali berbenturan dengan para pembawa petunjuk dan kebenaran, seperti sombong, bakhil, phobi, minder, ragu, benci pada kemiskinan dan penderitaan dan yang lainnya, yang kemudian menghasilkan perilaku-perilaku penentangan, pendustaan dan pelecehan terhadap kebenaran.

Bila kebebasan bagi mereka adalah jalan untuk mendapatkan segalanya, dan bila kebebasan adalah suatu kesenangan, maka segala hal yang akan mengekang kebebasan akan dianggap musuh dan penghalang yang pantas disingkirkan, maka agama bagi mereka hanyalah suatu doktrin yang ortodoks, kolot, kuno dan kaku, dianggapnya hanya akan mengekang kebebasan mereka dalam berbuat, berekspresi dan berperilaku, hanya menghambat kemajuan dan menghalangi perkembangan intelektualnya.

Bagi mereka kejahilan terhadap agama itu lebih menyenangkan dari kehidupan yang didikte oleh doktrin-doktrin yang mengekang kebebasan. Maka kejahilan terhadap agama menjadi simbol kebanggaan bagi mereka.

Karena itulah didalam Alqur’an tak jarang Allah Subhanahu Wata’ala menggandengkan antara perilaku hidup mewah dan pendustaan terhadap kebenaran dan hari akhir.

Kecenderungan manusia untuk hidup mewah itu merupakan indikasi minimnya iman terhadap kehidupan akhirat dan minimnya perhatian, upaya dan usaha pencerahan hati dengan agama.

Tapi bagaimana bila kecenderungan hidup mewah itu ada pada sebagian orang yang berhias ilmu?, Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan jawabannya, Al-A’rāf : 175-178

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِين
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَاهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُ أَخْلَدَ إِلَى الْأَرْضِ وَاتَّبَعَ هَوَاهُ ۚ فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَثْ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنْفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي ۖ وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“bacakanlah kepada mereka berita tentang seorang yang kami memberinya ayat-ayat kami lalu melepaskan diri darinya maka syaitan mengikutinya, akhirnya ia termasuk orang-orang yang sesat. Andai kami menghendaki niscaya kami angkat derajatnya dengan ayat-ayat itu akan tetapi dia cenderung kepada dunia dan memperturutkan hawa nafsunya, maka perumpamaannya adalah seperti anjing bila dihalau terengah menjulurkan lidahnya, dan bila dibiarkan iapun terengah menjulurkan lidahnya, itulah perumpamaan suatu kaum yang mendustakan ayat-ayat kami, maka ceritakanlah kisah ini semoga mereka mau memikirkan, alangkah buruknya perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami itu dan terhadap diri sendirilah mereka berbuat aniaya. Siapa saja yang Allah beri petunjuk, dialah yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang Allah sesatkan, merekalah orang-orang yang merugi.” (al a’raf 175-178).

Ketika kebebasan dan kemerdekaan jadi acuan bagi semuanya, agama datang menafsirkan kebebasan dalam makna yang sebenarnya, bahwa kebebasan yang sebenarnya adalah kebebasan manusia dari segala sembahan selain Allah Subhanahu Wata’ala, dan kemerdekaan yang hakiki adalah merdekanya hamba dari segala penjajah yang akan merampas, mengaburkan dan memalingkan hakikat dirinya dihadapan penciptanya.

Ketika jiwa telah menyadari hakikat iman, maka hamba akan segera menjadikan keridhoan Allah Subhanahu Wata’ala sebagai patokan dasar, tujuan akhir, cita-cita dan harapannya, maka segenap potensi akan dikerahkan padanya.

Inilah konsepsi kebebasan dan kemerdekaan yang akan membawa hamba kepada tujuan-tujuan mulia.

Ini tentu saja berbeda dengan kebebasan fiktif milik kaum hedonis, kebebasan atas konsep mereka pada akhirnya akan menjerumuskan mereka dalam Belenggu hawa nafsu yang buruk dan selera rendah kebinatangan, dan akhirnya menjebak mereka dalam rantai dan belenggu-belenggu malaikat Zabaniyah.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman mengenai orang-orang yang berhasil mengatasi egonya, 59.Al-Ḥasyr : 9

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah ke (tempat) mereka. Mereka tidak mendapatkan keinginan di dalam hatinya terhadap apa yang diberikan (kepada Muhajirin). Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak. Barangsiapa yang dijaga dari kekikiran jiwanya (egoisme) itulah orang-orang yang beruntung.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda mengenai orang yang paling dekat dengannya, “sesungguhnya wali-wali yang paling dekat denganku adalah seorang mu’min yang keadaannya remeh (karena miskin), dia mengambil bagian yang banyak dalam sholat, memperbaiki ibadah kepada Rabbnya dan taat walau dalam kesendirian, dia tidak begitu dikenal manusia dan tidak diacungi jempol, rezkinya pas-pasan lalu sabar diatasnya, cepat kematiannya, tak banyak wanita yang menangisi kematiannya, dan sedikit harta warisannya” (Tirmidzy 2269, Ahmad 21173).

Dan bersabda mengenai orang yang paling mencintainya, ketika seseorang berkata, “ya rasulallah demi Allah aku mencintaimu” dijawab, “perhatikan ucapanmu”, lalu mengulanginya hingga tiga kali, nabipun mengulangi jawabannya hingga tiga kali lalu bersabda, “bila memang mencintaiku siapkanlah perlengkapan perang untuk orang-orang faqir, karena kefaqiran lebih cepat mendatangi orang-orang yang mencintaiku dari banjir yang mengalir keujung muaranya” (Tirmidzy 2273).

Ketiga dalil ini merupakan acuan bagi mereka yang menginginkan keberuntungan, kedekatan dan cinta. karena itu sudah sepantasnya disadari bahwa kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang menipu.

Uraian singkat ini semoga cukup menjadi renungan bagi semuanya khususnya bagi para da’i yang tampak banyak terjerumus dalam kehidupan glamour bahwa betapa penting bagi setiap jiwa mengevaluasi diri jangan sampai hanya mengeksploitasi kebenaran untuk mengejar kesenangan, wana’udzu billah minzalik.
Wallahul musta’an.

DALAM BELENGGU KEPALSUAN

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 14

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Kahf : 103

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا
الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا
ذَٰلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا

Katakanlah, “Apakah perlu kami beri tahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya ?”

(Yaitu) orang-orang yang sia-sia usahanya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira bahwa mereka telah melakukan yg terbaik.

Mereka itu adalah orang-orang yang kufur terhadap ayat-ayat Tuhannya dan (kufur pula terhadap) pertemuan dengan-Nya. Maka, amal mereka sia-sia dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari Kiamat.

Itulah balasan mereka (berupa neraka) Jahanam karena mereka telah kufur serta menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasulKu sebagai olok-olokan. (103-107)

Membebaskan diri dari ketertipuan atau belenggu kepalsuan tentunya dimulai dari memahami hakikat kebenaran dan membebaskan alam pikiran dari beragam kepalsuan yang telah mencekoki otak dan hati.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam menjalankan dakwah ilallah selama lebih kurang tiga belas tahun di Makkah, ketika itu ka’bah diliputi dengan sejumlah berhala dari yang kecil hingga yang besar jumlahnya tak kurang dari 360 berhala. Meski demikian, beliau tetap melaksanakan sholat disisi ka’bah dan tetap tawaf disekelilingnya sementara patung-patung itu ada disana. Beliau dan para sahabat tidak berfikir untuk menyerang dan menghancurkan berhala-berhala itu, sekiranya dilakukan tentu akan berakibat kebinasaan, karena belum ada perimbangan kekuatan, disamping itu tindakan demikian tidak akan menghentikan dengan segera penyembahan terhadap berhala, para penyembahnya akan segera membuat lagi berhala-berhala lain dihari berikutya dengan cara memahatnya atau membelinya, sebab penyembahan berhala itu telah tegak dalam alam pikiran mereka, telah menyatu dg hati dan jiwa mereka sebelum berhala-berhala itu dibuat, dibentuk dan disembah.

Bila anda mulai berfikir tentang apa yang ada dihati mereka, dipikiran mereka, dan apa yang melandasi semua aktivitas mereka mungkin anda akan terarah pada makna kepalsuan yang kami maksud dalam bahasan ini, kepalsuan itu ada dibenak, hati dan pikiran ummat manusia, kepalsuan itu adalah ego, kejahilan dan syubuhat.

Tiada arti bagi seseorang berjalan dimuka bumi dengan santai tanpa memanfaatkan pikiran dan daya nalarnya, ia mendengarkan beragam peristiwa, membaca dari beragam sumber pengetahuan, dan menyaksikan bekas dan jejak peninggalan ummat-ummat terdahulu tanpa mencoba memikirkan dan memahaminya.

Akan tetapi yang terpenting baginya adalah mengamati dengan mata dan telinga, memikirkan dengan otak dan memahami dengan hatinya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Ḥajj : 45

فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَىٰ عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

Betapa banyak negeri yang telah Kami binasakan karena (penduduk)-nya dalam keadaan zalim sehingga bangunan-bangunannya runtuh dan (betapa banyak pula) sumur yang ditelantarkan serta istana tinggi (yang ditinggalkan).

Tidakkah mereka berjalan di bumi sehingga hati mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada dalam dada. (46-47).

Sejarah adalah cermin masa depan, dan asas bagi strukturnya, didalamnya terdapat sunnatullah yang berlaku secara umum, hanya suatu kaum yang berakar kuat pada sejarahnya yang dapat menata masa depannya dengan penuh optimisme, Islamlah satu-satunya agama yang berakar kuat pada sejarah masa lalunya, karena itu kaum muslimin mestinya senantiasa mengambil pelajaran dari ummat-ummat terdahulu dalam hal baik dan buruknya dan menjadikannya landasan bagi kehidupan selanjutnya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman,3.Āli ‘Imrān : 137

قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِكُمْ سُنَنٌ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

“sungguh telah berlalu sebelum kalian banyak sunah-sunnah, maka berjalanlah berkeliling bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan dari orang-orang yang mendustakan” (ali Imron 137).

Dan berfirman, 35.Fāṭir : 42

وَأَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ لَئِنْ جَاءَهُمْ نَذِيرٌ لَيَكُونُنَّ أَهْدَىٰ مِنْ إِحْدَى الْأُمَمِ ۖ فَلَمَّا جَاءَهُمْ نَذِيرٌ مَا زَادَهُمْ إِلَّا نُفُورًا
اسْتِكْبَارًا فِي الْأَرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ ۚ وَلَا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلَّا بِأَهْلِهِ ۚ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلَّا سُنَّتَ الْأَوَّلِينَ ۚ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَبْدِيلًا ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّتِ اللَّهِ تَحْوِيلًا
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَكَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُعْجِزَهُ مِنْ شَيْءٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَلِيمًا قَدِيرًا
وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِمَا كَسَبُوا مَا تَرَكَ عَلَىٰ ظَهْرِهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَٰكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى ۖ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِعِبَادِهِ بَصِيرًا

“mereka bersumpah serius, ”andai datang kepada kami seorang pemberi peringatan niscaya kami akan jadi kaum yang lebih kuat berpegang pada petunjuk dari kaum yang lain”, ketika peringatan itu datang ternyata tidak menambah bagi mereka selain semakin lari darinya, mereka berlaku sombong di bumi dan mempersiapkan makar-makar keji, makar keji itu tidak akan menimpa (dosanya) selain diri mereka sendiri, maka apalagi yang mereka tunggu selain sunnah-sunnah (seperti) yang menimpa ummat terdahulu, sunnah-sunnah Allah tidak akan kamu dapati berubah dan tidak akan kamu dapati bergeser.

Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan rasul), padahal orang-orang itu lebih besar kekuatannya dari mereka? Tidak ada sesuatu pun yang dapat melemahkan Allah, baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Mahakuasa.

Sekiranya Allah menghukum manusia disebabkan apa yang telah mereka perbuat, niscaya Dia tidak akan menyisakan satu makhluk pun yang bergerak dan bernyawa di bumi ini. Akan tetapi, Dia menangguhkan (hukuman)-nya sampai waktu yang sudah ditentukan. Maka, apabila datang ajal (waktu ditimpakannya hukuman atas) mereka, sesungguhnya Allah hanya Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya.” (fathir, 42-45).

Demikianlah sunnah- sunnah Allah dibumi ini yang berlaku secara umum, karakternya akan selalu sama. Ia berlaku pada keseluruhan manusia tanpa memandang agama, ras, suku dan golongan. Masyarakat manapun yang menyimpang dari kebenaran pasti akan mendapatkan hukuman atas penyimpangannya walaupun ia masyarakat para sahabat didikan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam,

Coba renungkan pada apa yang menimpa para sahabat dalam perang Uhud, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 165

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“mengapa ketika kalian ditimpa musibah (kekalahan dalam perang uhud) padahal kalian telah timpakan musibah pada mereka dua kali lipat (dalam perang badar), kalian berkata, “dari manakah datangnya kekalahan ini ?”, jawablah, “itu dari diri kalian sendiri”, sesungguhnya Allah maha kuasa atas segala sesuatu” (ali Imron 165).

Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan sebab-sebab kekalahan itu dengan firmannya, Āli ‘Imrān : 152

وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ ۚ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآخِرَةَ ۚ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ ۖ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

“sungguh Allah telah penuhi janjiNya pada kalian ketika kalian membunuh mereka dengan izinNya, hingga, ketika kalian melemah dan berselisih pada sesuatu hal, kalian mengabaikan perintah Nabi kala diperlihatkan pada kalian apa yang disukai, sebagian kalian ada yg menginginkan dunia dan yang lain menginginkan akhirat, kemudian hal itu melalaikan kalian dari mereka hingga menimpakan bala pada kalian, sungguh Allah telah memaafkan kalian atas kesalahan itu, dan Allah mempunyai keutamaan lebih buat orang-orang yang beriman” (ali Imron 152).

Tanpa mengenal petunjuk dan Islam yang haq, tanpa bergabung dengan RasulNya almahdy, Tanpa berdiri diatas aljamaah, diri ini hanyalah mahluk sesat yang bodoh dan rentan dibodohi, hanya binatang melata yang larut dalam godaan ego, syubhat dan syahwat yang membinasakan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Furqān : 43

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

“tidakkah engkau perhatikan orang-orang yang jadikan hawa nafsunya sebagai sembahan, apakah kamu ingin jadi pemimpin bagi mereka..!?, apakah kamu sangka bahwa kebanyakan mereka mendengar atau berakal ..!?, bahkan mereka hanyalah seperti binatang ternak bahkan lebih buruk darinya” (alfurqon 43-44),.

Dan berfirman, Al-Mulk : 6-11

وَلِلَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ ۖ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ إِذَا أُلْقُوا فِيهَا سَمِعُوا لَهَا شَهِيقًا وَهِيَ تَفُورُ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِ ۖ كُلَّمَا أُلْقِيَ فِيهَا فَوْجٌ سَأَلَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيرٌ قَالُوا بَلَىٰ قَدْ جَاءَنَا نَذِيرٌ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللَّهُ مِنْ شَيْءٍ إِنْ أَنْتُمْ إِلَّا فِي ضَلَالٍ كَبِيرٍ وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ فَاعْتَرَفُوا بِذَنْبِهِمْ فَسُحْقًا لِأَصْحَابِ السَّعِيرِ

“bagi orang-orang yang ingkar pada rabbnya disediakan adzab jahannam itulah seburuk buruk tempat kembali, apabila mereka dilemparkan kedalamnya terdengarlah suara jeritan pilu yang sangat sedang neraka mengelegar dengan dahsyat (karena marah), hampir saja neraka pecah karena amarah, tiap kali dilemparkan kedalamnya sekumpulan dari mereka bertanyalah penjaganya apakah belum pernah datang pada kalian seorang yang memperingatkan ?, dijawab, benar, telah datang kepada kami (ketika didunia) seorang pemberi peringatan namun kami mendustakannya sambil berkata “Allah tidak menurunkan sesuatupun, kamu hanyalah seorang yang berada dalam kesesatan yang besar”, mereka berkata “andai kami (ketika didunia) termasuk orang yang MENDENGAR dan termasuk orang yang BERAKAL niscaya kami tidak jadi penghuni neraka syair”, merekapun mengakui dosa-dosanya maka alangkah celaka para penghuni neraka syair itu” (al mulk 6-11)

Karena itu dalam Alqur’an betapa Allah senantiasa merangsang manusia agar menggunakan akalnya dan daya nalarnya, memikirkan apa yang akan menimpa dirinya dialam dunia, alam barzakh dan di akhirat nanti, memikirkan apa yang telah dialami ummat-ummat terdahulu, memikirkan Alqur’an dan mentadabburinya, karena inilah satu satunya jalan membebaskan diri dari belenggu ego, syubuhat dan kepalsuan yang menipu akalnya, Wallahul musta’an.

BERLEBIHAN DLM CINTA RASUL

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 13

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
“Tidak beriman seorang dari kalian hingga jadikan Allah dan Rasulnya lebih dicintai dari selain keduanya.

Tidak beriman seorang dari kalian hingga dilemparkan kedalam api lebih disukai dari kembali pada kekafiran setelah Allah selamatkan dia darinya.

Tidak beriman seorang dari kalian hingga lebih mencintai aku dari anaknya orang tuanya dan manusia semuanya” (Ahmad 12672)

Mencintai Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam adalah salah satu prinsip dasar dari agama ini maka tidak dianggap beriman orang yang tidak menjadikan Rasulullah Muhammad Shollallahu ‘Alaihi Wasallam lebih dicintai dari dirinya sendiri, anak anaknya, orang tuanya, dan manusia semuanya.

Artinya mencintai Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam termasuk diantara kewajiban agama yang paling utama. Oleh karena itu seorang muslim dalam mewujudkannya harus memahami aturan-aturan syariat terlebih dahulu sehingga terhindar dari prilaku ghuluw atau kaku.

Nah diantara prilaku ghuluw (berlebihan) yg banyak kaum Muslimin terjatuh padanya adalah antara lain ;

# Allah Subhanahu Wata’ala berfirman 58.Al-Mujādalah : 8

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا اللَّهُ بِمَا نَقُولُ ۚ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا ۖ فَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yg dilarang berbisik, lalu kembali melakukannya lagi, mereka membisikkan dosa, permusuhan dan maksiat kepada Rasul, bila mendatangimu mereka ucapkan kata-kata penghormatan padamu yg Allah tidak lakukan padamu, sambil membatin “kenapa Allah tidak mengadzab kita dengan kata kata ini”. Cukup NERAKA jahanam buat mereka dan itulah seburuk buruk tempat kembali” (almujadalah 8)

Ayat ini menuntunkan agar jangan mengungkapkan kata-kata penghormatan terhadap Rasulullah Shollallahu Alaihi Wasallam apa yang Allah Subhanahu Wata’ala tidak menggunakannya. Seperti ungkapan mereka sayyidina, mawlaana, habibana, khairana, ibnu khairana, khaira maulud, khaira khalqillah, dan yg semacamnya.

Seorang berkata kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam “wahai Muhammad, wahai sayyidina, wahai anak sayyidina, wahai orang terbaik kami, wahai anak orang terbaik kami” maka Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda “wahai sekalian manusia, berpegang teguhlah pada ketaqwaan dan jangan mau disesatkan oleh syetan, Aku adalah Muhammad bin Abdullah hamba Allah dan Rasul Nya, Demi Allah aku tidak suka bila kalian menyanjungku melebihi kedudukanku yang diberikan Allah azza wajalla padaku” (Ahmad 12573)

Hadits ini menuntunkan agar jangan mengungkapkan kata sayyidina atau yang semacamnya dan hendaknya kaum Muslimin merasa cukup dengan ungkapan HAMBA ALLAH DAN RASULNYA.

# Begitu pula dengan sanjungan yang berlebihan terhadap Nabi Shollallahu alaihi wasallam contohnya seperti dalam kitab barzanji Anta syamsun, anta badrun, anta nurun fauqa nurin, anta misbahussudur dan seterusnya.

Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam bersabda “Janganlah kalian berlebihan menyanjung aku sebagaimana orang-orang nasrani berlebihan menyanjung Isa putra Maryam, aku tiada lain hanya hamba Allah dan RasulNya maka katakan saja HambaNya dan Rasul-Nya” (Bukhari 3261).

# Dan bersabda “Allah melaknat Yahudi dan Nasrani karena mereka menjadikan kuburan Nabi-nabi mereka sebagai tempat sujud” (Bukhari 425 Muslim 531)

Hadits ini menuntunkan agar jangan menjadikan kuburan Nabi, kuburan wali, kuburan orang shaleh, atau yang lainnya sebagai tempat ibadah.

# Seorang berkata kepada Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam “sesuai kehendak Allah dan kehendakmu” maka Nabi Shollallahu Alaihi Wasallam membantahnya “apakah engkau samakan aku dengan Allah? Seharusnya kamu berkata “sesuai kehendak Allah semata” (Ahmad 2561)

# Keyakinan sebagian orang tentang cahaya Muhammad Shollallahu alaihi wassalam, bahwa cahaya muhammad adalah yg pertama diciptakan berdasarkan riwayat maudhu (palsu) “yg pertama kali diciptakan oleh Allah adalah cahaya nabimu wahai Jabir”

Riwayat yg shahih berbunyi “sesungguhnya yg pertama kali diciptakan oleh Allah adalah pena kemudian diperintahkan padanya mencatat segala sesuatu yang akan terjadi” (silsilah asshahihah 133/257)

# Memperingati hari maulud Nabi Shollallahu alaihi wasallam dg seremonial, ritual, jamuan dan makan-makan, sebagai wujud cinta Rasul adalah merupakan perkara yg tdk ada landasannya dalam alqur’an dan sunnah,

Apalagi bahwa hari kelahiran Nabi Shollallahu alaihi wasallam adalah bertepatan dengan hari wafat beliau, sehingga bergembira dihari wafatnya adalah termasuk bentuk penghinaan.

Yg dilakukan oleh Nabi shollallahu alaihi Wasallam dihari kelahiran beliau adalah berpuasa yaitu hari senin, bertepatan dg hari diangkatnya pahala anak manusia, Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda “saya pingin agar saat diangkat amalku aku sedang berpuasa” (Annasai 2358)
Jadi alasan dibalik sunnah berpuasa dihari senin bukan karena itu adalah hari kelahiran beliau Shollallahu alaihi Wasallam.

# Dewasa ini banyak ditemukan sholawat terhadap Nabi Shollallahu alaihi wasallam hasil gubahan yg di jadikan nyanyian dg beragam variasi kata, gaya lantunan dan irama, nyanyian merdu bernuansa sholawat ini dinyanyikan saat perayaan hari-hari besar, acara keluarga dan yg lainnya,

Kaum Muslimin hendaknya menyadari prilaku menyimpang, dan pelanggaran besar ini, Sungguh ironis bahwa mereka melakukan semua hal ini sambil berharap kebaikan dan pahala yg besar, semoga kaum Muslimin segera sadar dan meninggalkan prilaku buruk ini, wallahul musta’an.

MENYERUPAI ORG KAFIR

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 12

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “barang siapa yang tasyabbuh ( menyerupai ) dengan suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (Abu Daud 3512)

“Termasuk golongan mereka” maknanya bahwa dihari qiamat nanti ia dikumpulkan bersama kaum itu lalu amalan mereka dihancurkan. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Mā’idah : 53

وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

“orang-orang yang beriman (dipadang mahsyar) berkata, “bukankah orang ini yang dahulu (ketika didunia) bersumpah dengan sungguh-sungguh (bahwa mereka muslim) ternyata mereka dikumpulkan bersama kalian (wahai orang-orang yahudi), maka hancurlah amal-amal mereka dan jadilah mereka golongan orang-orang yang rugi” (al maidah 53).

Mengenai prilaku tasyabbuh dapat dilihat berikut ini dimana seseorang tidak dibenarkan menetapkan suatu perkara sebagai tasyabbuh kecuali dengan dalil.

# Membiarkan uban dengan tidak menyemirnya, membiarkan kumis dengan tidak menguntingnya, dan tidak membiarkan jenggot.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda kepada orang-orang tua yang jenggotnya telah putih, “merahkan atau kuningkan uban-uban kalian, dan bedakan diri dengan ahli kitab”

Mereka : “ahli kitab memakai celana dan tidak memakai sarung”

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam : “pakailah celana dan pakailah sarung, bedakan diri kalian dengan ahli kitab”

Mereka : “ahli kitab memakai sepatu dan tidak memakai sandal”

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam : “pakailah sepatu dan pakailah sandal, bedakan diri kalian dengan Ahli kitab”

Mereka : “ahli kitab membiarkan kumis mereka dan mencukur jenggot mereka”

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam : “guntinglah kumis dan biarkan jenggot, bedakan diri kalian dengan ahli kitab” (Ahmad 21252),

# Sholat dengan tidak mengenakan sendal atau sepatu, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “bedakanlah diri kalian dengan yahudi karena mereka tidak sholat dengan sendal dan sepatu” (Abu Daud 556)

# Memakai pakaian berwarna merah bagi laki-laki, suatu hari Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam melihat seorang sahabat berpakaian warna merah beliau bersabda, “ini adalah pakaian orang-orang kafir, janganlah mengenakannya” (Muslim 3872).

Abdullah bin Amr bin Ash Gafarahullah menceritakan, “suatu hari saat kami kembali dari Tsaniyah Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam memandang padaku sedang aku memakai raithah yang dicelup dengan Usfur, beliau berkata “pakaian apa yang kau pakai ini”, aku lihat beliau tak suka maka aku datangi keluargaku saat mereka sedang membakar tungkunya, lalu aku masukkan padanya.

Keesokan hari aku bertemu nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam lalu bertanya padaku, “kau apakan raithahmu”, aku bakar jawabku, beliau bersabda, “mengapa tidak diberikan pada sebagian keluargamu, pakaian itu sebenarnya tidak mengapa bagi wanita” (Abu Daud 3544)

Raithah yaitu pakaian dari kain yang lembut, sedang usfur yaitu sejenis tanaman yang biasa digunakan mewarnai kain dengan warna merah. Ini adalah dua dalil yang sangat tegas melarang lelaki memakai pakaian berwarna merah dan membolehkannya bagi wanita.

# Liang lahad, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “liang lahad itu untuk kita dan liang tengah itu untuk selain kita” (Tirmidzy 966)

Hadist ini dianggap cukup dalam menyikapi segala bentuk dan cara penguburan yang banyak ditiru kaum Muslimin saat ini, seperti cara penguburan dengan liang tengah, atau dengan peti jenazah yang diturunkan ke kubur dengan menggunakan tali, atau yang lainnya.

Maka hendaknya kaum Muslimin mengerti Sunnah yang telah ditetapkan Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam dalam menguburkan jenazah kaum Muslimin yaitu liang lahad.

Liang lahad yaitu suatu liang yang memanjang seperti parit yang khusus dibuat menjorok kearah kiblat sebagai tempat meletakkan jenazah, hal ini telah dikenal secara umum oleh kaum Muslimin.

Adapun segala macam cara penguburan selain liang lahad adalah syi’ar bagi kaum lain selain Islam yang sepatutnya dihindari agar tidak digolongkan kedalam golongan mereka, Wallahul musta’an.

FATTAN, Pelaku Fitnah

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 11

Fitnah termasuk salah satu dari adzab Allah Subhanahu Wata’ala yg akan ditimpakan kepada suatu kaum yg enggan berpegang teguh pada ketetapan Rasul-Nya Allah Subhanahu Wata’ala berfirman An-Nūr : 63

لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا ۚ قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا ۚ فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Janganlah kamu menjadikan panggilan Rasul (Nabi Muhammad) di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sungguh, Allah mengetahui orang-orang yang keluar (secara) sembunyi-sembunyi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya). Maka, hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul-Nya takut akan mendapat fitnah atau ditimpa azab yang pedih.

Allah Subhanahu Wata’ala menerangkan ttg fitnah dan adzab yg pedih dalam firmanNya 6.Al-An’ām : 65

قُلْ هُوَ الْقَادِرُ عَلَىٰ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عَذَابًا مِنْ فَوْقِكُمْ أَوْ مِنْ تَحْتِ أَرْجُلِكُمْ أَوْ يَلْبِسَكُمْ شِيَعًا وَيُذِيقَ بَعْضَكُمْ بَأْسَ بَعْضٍ ۗ انْظُرْ كَيْفَ نُصَرِّفُ الْآيَاتِ لَعَلَّهُمْ يَفْقَهُونَ

Katakanlah, “Dia Allah Yang Mahakuasa mengirimkan azab kepadamu, dari atas atau dari bawah kakimu atau Dia memecah belah kamu menjadi golongan-golongan (yang saling bertentangan) dan merasakan kepada sebagian kamu keganasan sebagian yang lain.” Perhatikanlah, bagaimana Kami menjelaskan berulang-ulang tanda-tanda (kekuasaan Kami) agar mereka memahami(-nya).

FITNAH dalam bahasan ini adalah kerusakan pada agama, ketika kaum Muslimin kacau dalam permasalahan agama akibat dari tidak mengembalikan permasalahan agama pada ahlinya, meremehkan RasulNya atau tidak percaya sepenuhnya kepada ketetapan Rasul Allah dalam perkara agama, merasa masih ada pilihan lain atau masih boleh pilah pilih diantara perkataan ulama, ustadz, syeikh dan semacamnya, maka timbullah perbedaan pandangan, ikhtilaf dan khilafiyah dalam perkara agama yg berujung pada perselisihan, cekcok hingga sebagian arogan kepada yg lain.

Keganasan paling ringan adalah ketika mereka saling tahdzir saling hajr, saling boikot, saling tuding, saling ghibah mengghibah, saling mempermalukan dg mengumbar aib masing masing ditengah khalayak. Dan yang paling berat adalah ketika mereka saling penggal leher, saling menghalalkan darah, harta, nyawa, kehormatan dan wanita.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman 8.Al-Anfāl : 24-25

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ
وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً ۖ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul apabila menyerumu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepadamu! Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.

Dan jagalah dirimu dari fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah Mahakeras hukuman-Nya.

Artinya hendaklah takut dan menjaga diri jangan sampai kalian yg jadi penyebab atau pemicu fitnah yg bila terjadi maka akibatnya tidak hanya menimpa orang yg berbuat saja atau pelakunya saja tapi akibatnya atau hukumannya dirasakan oleh semua kaum Muslimin.

Pelaku dari fitnah ini disebut FATTAN, yaitu mereka yg merusak agama dg ijtihad dan fatwa-fatwa sesatnya, merusak hubungan sosial diantara sesama manusia, merusak hubungan keluarga, merusak persatuan dan kesatuan ummat, membuat kekacauan ditengah masyarakat, menyebarkan provokasi agar ummat saling bermusuhan, saling benci dan saling menyerang, dan dosanya termasuk diantara dosa terbesar.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Baqarah : 217

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الشَّهْرِ الْحَرَامِ قِتَالٍ فِيهِ ۖ قُلْ قِتَالٌ فِيهِ كَبِيرٌ ۖ وَصَدٌّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَكُفْرٌ بِهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَإِخْرَاجُ أَهْلِهِ مِنْهُ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَكْبَرُ مِنَ الْقَتْلِ ۗ وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّىٰ يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا ۚ وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَٰئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ۖ وَأُولَٰئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Mereka bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, “Berperang di bulan itu adalah (dosa) besar. Namun, menghalangi (orang) dari jalan Allah, ingkar kepada-Nya, (menghalangi orang masuk) Masjidilharam, dan mengusir penduduk dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) dalam pandangan Allah, Fitnah lebih besar daripada pembunuhan. Mereka tidak akan berhenti memerangi kamu sampai kamu murtad (keluar) dari agamamu jika mereka sanggup. Siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya lalu dia mati dalam kekafiran, sia-sialah amal mereka di dunia dan akhirat. Mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.”

Dan berfirman Al-Baqarah : 191

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ ۚ وَالْفِتْنَةُ أَشَدُّ مِنَ الْقَتْلِ ۚ وَلَا تُقَاتِلُوهُمْ عِنْدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ حَتَّىٰ يُقَاتِلُوكُمْ فِيهِ ۖ فَإِنْ قَاتَلُوكُمْ فَاقْتُلُوهُمْ ۗ كَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْكَافِرِينَ

Bunuhlah mereka (yang memerangimu) di mana pun kamu jumpai dan usirlah mereka dari tempat mereka mengusirmu. Karena fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. Lalu janganlah kamu perangi mereka di Masjidilharam, kecuali jika mereka memerangimu di tempat itu. Jika mereka memerangimu, maka perangilah mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.

Oleh karena besarnya dosa dari prilaku ini maka Allah Subhanahu Wata’ala juga menetapkan hukuman yg berat atas pelakunya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Mā’idah : 33

إِنَّمَا جَزَاءُ الَّذِينَ يُحَارِبُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَسْعَوْنَ فِي الْأَرْضِ فَسَادًا أَنْ يُقَتَّلُوا أَوْ يُصَلَّبُوا أَوْ تُقَطَّعَ أَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ مِنْ خِلَافٍ أَوْ يُنْفَوْا مِنَ الْأَرْضِ ۚ ذَٰلِكَ لَهُمْ خِزْيٌ فِي الدُّنْيَا ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan rasul-Nya serta membuat kerusakan di bumi hanyalah dibunuh, disalib, dipotong tangan dan kaki mereka secara silang, atau diasingkan dari tempat kediamannya. Yang demikian itu merupakan kehinaan bagi mereka di dunia, dan di akhirat (kelak) mereka akan mendapat azab yang sangat berat.

Kata qottalu, shollabu dan tuqotta’a dalam ayat ini adalah fi’il musyaddadah yg mengandung makna mubalaghoh, artinya bunuh lebih dari sekedar dibunuh, bisa dgn dijatuhkan dari tempat yang tinggi, atau ditenggelamkan atau yang lainnya, salib lebih dari sekedar disalib bisa dgn disalib lalu dilempari batu hingga mati, begitu pula dipotong tangan dan kaki bersilang lalu dijemur hingga mati.

Bahkan pelaku fitnah atau fattan manakala dilakukan dengan berkelompok dg pola terorganisir adalah termasuk dari orang orang yg diperintahkan untuk diperangi, seperti komplotan perampok dan semacamnya, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Al-Anfāl : 38

قُلْ لِلَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَنْتَهُوا يُغْفَرْ لَهُمْ مَا قَدْ سَلَفَ وَإِنْ يَعُودُوا فَقَدْ مَضَتْ سُنَّتُ الْأَوَّلِينَ
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلَّهِ ۚ فَإِنِ انْتَهَوْا فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
وَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَوْلَاكُمْ ۚ نِعْم الْمَوْلَىٰ وَنِعْمَ النَّصِيرُ

Katakanlah kepada orang-orang yang kufur itu, “Jika mereka berhenti (dari kekafirannya dan masuk Islam), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu. Jika mereka kembali lagi (memerangi Nabi), sungguh berlaku (kepada mereka) sunah (ketetapan Allah seperti yg menimpa) orang-orang terdahulu.”

Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah dan agama hanya bagi Allah. Jika mereka berhenti (memerangi kamu), sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.

Jika mereka berpaling (keras kepala), ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. (38-40)

Mengamati fenomena dakwah ditengah kaum Muslimin dg kondisi yang berpecah belah dan berkelompok kelompok, da’i dari masing-masing firqoh tampil mengelu-elukan kelompoknya sambil menjatuhkan kelompok lain, tampak mereka saling mengumbar aib, saling tuding, saling mempermalukan, mencerminkan bahwa sebagian orang yg terlibat dalam dakwah ini adalah orang-orang yg tidak mengerti tentang adab, akhlak, dan minhaj.

Yg paling mengherankan adalah justru prilaku seperti ini banyak juga dilakoni oleh ulama yg dianggap sebagai ulama senior mereka.

Apakah mereka belum sadar mengapa kaum Muslimin saat ini senantiasa dalam kehinaan dan kekalahan, Allah Subhanahu Wata’ala tak sudi menolong mereka dan tidak mendengarkan do’a mereka, hal itu tiada lain karena ditengah-tengah kaum Muslimin masih banyak pelaku fitnah atau fattan, ini menjadi tanggung jawab bagi para ahli ilmu untuk memberikan nasehat.

Prilaku fattan ini telah menciptakan fitnah dan kerusakan, telah membuat satu lobang besar pada perahu kaum Muslimin yg bisa berakibat menenggelamkan semua penumpangnya.

Perhatikanlah keadaan para sahabat assabiqunal awwalun bersama Nabi Shollallahu alaihi wassalam, agama telah menjadikan mereka bersatu dan bersaudara, sangat kontras dengan keadaan kaum Muslimin saat ini, justru orang yg dianggap paling beragama diantara mereka malah dia yg menjadi biang pemicu fitnah, perusak persatuan dan kesatuan, pemecah belah ummat, Wallahul musta’an.

Demikian nasehat ini saya sampaikan sebagai bentuk kasih sayang agar kaum Muslimin menyadari bahwa agama kita satu dan dibangun di atas persatuan dan kesatuan, diatas ALJAMAAH, dengan inilah kita kuat, dengan inilah Allah Subhanahu Wata’ala berkenan menurunkan pertolongan rahmat dan kasih sayangNya kepada umat ini, dan dengan ini pula kita akan mendapatkan kemenangan, kejayaan dan memimpin dunia, inilah target Allah dan RasulNya, marilah kita sama sama menyadari, mengamalkan dan memperjuangkannya.
Wallahul musta’an.

LOYAL KEPADA ORG KAFIR

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 10

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Al-Mā’idah : 51-53

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَىٰ أَوْلِيَاءَ ۘ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَنْ تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ ۚ فَعَسَى اللَّهُ أَنْ يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِنْ عِنْدِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا أَسَرُّوا فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ
وَيَقُولُ الَّذِينَ آمَنُوا أَهَٰؤُلَاءِ الَّذِينَ أَقْسَمُوا بِاللَّهِ جَهْدَ أَيْمَانِهِمْ ۙ إِنَّهُمْ لَمَعَكُمْ ۚ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَأَصْبَحُوا خَاسِرِينَ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai walimu (teman setia-mu). Sebagian mereka menjadi wali bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.

Maka, kamu akan melihat orang-orang yang hatinya berpenyakit segera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani) seraya berkata, “Kami takut akan tertimpa mara bahaya.” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya) atau suatu keputusan dari sisi-Nya sehingga mereka menyesali apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka.

Orang-orang yang beriman (pada hari Kiamat) akan berkata, “Inikah orang yang dahulu bersumpah dengan (nama) Allah secara sungguh-sungguh (bahwa mereka muslim) ternyata mereka beserta kamu (wahai yahudi dan nashrani)?” maka segala amal mereka menjadi sia-sia sehingga mereka menjadi orang-orang yang rugi.(almaidah 51-53)

Berwali atau berwala’ kepada orang-orang kafir maknanya cinta, loyal dan setia kepada mereka, atau mengangkat mereka pemimpin.

Kalimat “Termasuk golongan mereka” dalam ayat ini maknanya bahwa dihari qiamat nanti ia dikumpulkan bersama mereka lalu dihancurkan amalan mereka.

Maka diantara tanda-tanda berwali kepada orang-orang kafir adalah :

# Memanggil mereka dengan panggilan kehormatan seperti, “tuan pulan” , atau segala macam ungkapan yang mengandung penghormatan, persahabatan atau kasih sayang, Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, ”janganlah kamu memanggil sayyid (tuan) kepada orang-orang munafiq, sebab bila sampai mereka jadi tuan kamu maka kamu telah membuat Rabb- mu murka ” (Abu Daud 4325),

Dalam hadits ini, orang-orang munafiq saja tidak boleh dipanggil dengan panggilan kehormatan tentu terlebih lagi terhadap orang-orang kafir.

# Bermukim di wilayah mereka dalam keadaan mampu untuk pindah, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Ibrāhim : 44-45

وَأَنْذِرِ النَّاسَ يَوْمَ يَأْتِيهِمُ الْعَذَابُ فَيَقُولُ الَّذِينَ ظَلَمُوا رَبَّنَا أَخِّرْنَا إِلَىٰ أَجَلٍ قَرِيبٍ نُجِبْ دَعْوَتَكَ وَنَتَّبِعِ الرُّسُلَ ۗ أَوَلَمْ تَكُونُوا أَقْسَمْتُمْ مِنْ قَبْلُ مَا لَكُمْ مِنْ زَوَالٍ
وَسَكَنْتُمْ فِي مَسَاكِنِ الَّذِينَ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ وَتَبَيَّنَ لَكُمْ كَيْفَ فَعَلْنَا بِهِمْ وَضَرَبْنَا لَكُمُ الْأَمْثَالَ

Berikanlah (Nabi Muhammad) peringatan kepada manusia tentang hari (ketika) azab datang kepada mereka. Maka, (ketika itu) orang-orang yang zalim berkata, “Ya Tuhan kami, tangguhkanlah ajal kami walaupun sebentar, niscaya kami akan mematuhi seruan-Mu dan akan mengikuti rasul-rasul.” (Kepada mereka dikatakan,) “Bukankah dahulu (di dunia) kamu telah bersumpah bahwa sekali-kali kamu tidak akan bergeser pendirian ?!

Dan kamu pun dulu tinggal di kediaman orang-orang yang menzalimi diri sendiri padahal telah nyata bagimu bagaimana Kami memperlakukan mereka dan telah Kami berikan (pula) kepadamu beberapa contoh?” (44-45)

Nabi Shollallahu alaihi wasallam bersabda “aku berlepas diri dari seorang Muslim yang tinggal bersama orang dholim karena tidak dapat dibedakan api mereka”

# Mempercayai mereka, memberi kepercayaan memegang jabatan-jabatan penting dan penasehat. Abu Musa menceritakan kepada Umar bin Khattab Gafarahullah tentang sekertarisnya orang Nasrani, maka Umar membentaknya dengan mengatakan, “ada apa denganmu, Allah mencelakakan kamu, tidakkah kamu mendengar firman Allah : “Hai orang orang yang beriman jangan kalian jadikan orang yahudi dan nasrani sebagai wali, sebagian mereka adalah wali bagi sebagian yang lain.” Kenapa tidak mengangkat seorang hanif. Dia menjawab : “wahai amirul mu’minin, bagiku tulisannya dan baginya agamanya”. Umar berkata : “Aku tidak akan memuliakan mereka ketika Allah telah menghinakannya, aku tidak akan membela mereka ketika Allah telah mencampakkannya, dan aku tidak akan mendekatkan mereka ketika Allah telah menjauhkannya.”

# Menjadikan mereka teman dekat, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Āli ‘Imrān : 118-120

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لَا يَأْلُونَكُمْ خَبَالًا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ ۚ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ
هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ ۚ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا ۖ وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا ۗ إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. Mereka menginginkan apa yang menyusahkanmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka dan apa yang mereka sembunyikan dalam hati lebih besar. Sungguh, Kami telah menerangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu berpikir.

Begitulah kamu. Kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukaimu, dan kamu beriman pada semua kitab. Apabila mereka berjumpa denganmu, mereka berkata, “Kami beriman.” Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari karena murka kepadamu. Katakanlah, “Matilah kamu karena kemurkaanmu itu!” Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati.

Jika kamu memperoleh kebaikan, (niscaya) mereka bersedih hati. Adapun jika kamu tertimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka tipu daya mereka tidak akan membahayakan kamu sedikit pun. Sesungguhnya Allah Maha Meliputi segala yang mereka kerjakan. (118-120)

Nabi Shollallahu alaihi wasallam bersabda “seseorang itu berada diatas agama teman dekatnya, karena itu hendaknya setiap kalian memperhatikan siapa teman dekatnya”

# Ikut-ikutan pada hari raya mereka, ikut andil dalam pelaksanaanya, ikut mengucapkan selamat atas mereka, berdasarkan firman Allah, Al-Kāfirūn :

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ
وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُد
وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ

Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai orang-orang kafir,
aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah.
Kamu juga bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku juga tidak akan menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.
Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

# Condong kepada mereka, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Hūd : 112-113

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا ۚ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
وَلَا تَرْكَنُوا إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُوا فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ أَوْلِيَاءَ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Maka, tetaplah (di jalan yang benar), sebagaimana engkau (Nabi Muhammad) telah diperintahkan. Begitu pula orang yang bertobat bersamamu. Janganlah kamu melampaui batas! Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.

Janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga menyebabkan api neraka menyentuhmu, sedangkan kamu tidak mempunyai seorang penolong pun selain Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan.(112-113)

Termasuk prilaku yg menunjukkan adanya kecondongan hati pada mereka seperti Mengutamakan mereka dari kaum Muslimin, mendahulukan mereka dari kaum Muslimin dalam pelayanan, memperjuangkan kepentingan mereka, mengidolakan mereka, memuji, menyanjung dan mengagumi mereka. dan lain-lain sebagainya.

Adapun firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam surah al mumtahanah ayat 8, bahwa Allah tidak melarang kita berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang kafir yang tidak mengusir dan tidak memerangi kita karena agama, maka berbuat baik dalam hal ini tidak dicampuri dengan perasaan kasih sayang, wala’ dan kecondongan kepada mereka yaitu bahwa hati tetap mengingkari kesesatan mereka.
wallahul musta’an.

PANGGILAN JAHILIYAH

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 9
Dari sahabat Harist al’as’ary Nabi Shollallahu alaihi wassalam bersabda :

“Allah Subhanahu Wata’ala telah perintahkan kepada Yahya bin Zakaria lima kalimat untuk diamalkan dan diperintahkan kepada bani Israil mengamalkannya, hampir saja dia terlambat menyampaikannya sehingga berkatalah Isa “Allah telah perintahkan anda dg lima kalimat untuk diamalkan dan diperintahkan kepada bani Israil mengamalkannya, apakah anda yg akan menyampaikannya atau aku”

Yahya berkata “jika engkau mendahuluiku aku khawatir Aku akan dibenamkan atau diadzab”

Mulailah dia mengumpulkan manusia di Baitul Maqdis, mesjid pun penuh, duduklah ia diatas syarf (semacam panggung) lalu berkata : “sesungguhnya Allah memerintahkan aku lima kalimat agar aku amalkan dan memerintahkan kepada kalian untuk mengamalkannya yaitu :

PERTAMA sembahlah Allah dan jangan sekutukan dg sesuatu apapun, perumpamaan org yg sekutukan Allah adalah seperti seorang yg membeli budak murni dari hartanya berupa emas atau perak lalu berkata padanya “ini rumahku dan ini pekerjaanku, silahkan bekerja dan serahkan hasilnya kepadaku” Rupanya sang budak bekerja tapi hasilnya tidak diberikan pada tuannya, adakah dari kalian suka punya budak seperti ini ?!

KEDUA sesungguhnya Allah memerintahkan kalian sholat, jika sholat janganlah kalian menoleh, karena Allah menghadapkan wajahNya kewajah hamba dalam sholat selama tidak menoleh.

KETIGA dan memerintahkan kalian puasa, perumpamaannya adalah seperti seorang dalam rombongan yg membawa tas berisi parfum, semua terkesan dengan aromanya, sesungguhnya aroma orang yang berpuasa lebih harum disisi Allah dari aroma misk.

KEEMPAT dan memerintahkan kalian bersedekah, perumpamaannya adalah seperti seorang yg ditawan oleh musuh, tangannya diikat keleher dan siap dieksekusi lalu berkata “aku akan menebus diri dg harta sedikit ataupun banyak” maka dia menebus dirinya.

KELIMA dan memerintahkan kalian dzikrullah, perumpamaannya adalah seperti seorang yg dikejar oleh musuh dg cepat lalu tiba tiba dia mendapati benteng lalu berlindung padanya sehingga selamat, begitulah.., seorang hamba tak akan selamat dari syaitan kecuali dengan dzikrullah.

Lalu Nabi Shollallahu alaihi wassalam melanjutkan sabdanya mengatakan “Dan aku perintahkan kalian kepada lima sebagaimana yg Allah perintahkan padaku yaitu mendengar, taat, berjihad, berhijrah, dan berjamaah, barangsiapa terpisah dari aljamaah barang sejengkal maka terlepaslah ikatan Islam yg ada dilehernya kecuali bila kembali (tobat).

Barang siapa mengakui (membenarkan) panggilan jahiliyah maka akan terkumpul dalam NERAKA jahannam.

Seorang bertanya “wahai rasulullah, apakah meskipun dia sholat dan berpuasa ?
Dijawab “ya, walaupun dia sholat dan berpuasa”

Panggillah dg panggilan Allah yg Allah telah menamakan kalian dengannya yaitu Muslimin, Mu’minin dan Hamba Allah” (HR. Sunan Tirmidzy 2863)

Sahabat pembaca, tahukah kalian apa arti panggilan jahiliyah ?

Yaitu apa saja panggilan yg disematkan pd seseorang dari kaum Muslimin, menghasilkan kebanggaan tersendiri saat dipanggil dengannya selain dari panggilan yg Allah Subhanahu Wata’ala berikan, yaitu Muslimin, Mu’minin dan Hamba Allah Subhanahu Wata’ala.

Sekarang ini kita dapati kaum Muslimin terkondisikan dalam komunitas yg berbeda, komunitas dalam bentuk organisasi, partai, ikatan kesukuan, sekte, aliran, minhaj, dan lain lain, yg otomatis masing masing komunitas memiliki namanya sendiri, dan masing masing anggotanya membanggakan komunitasnya, dikenallah komunitas seperti salafiyyun, tablighy, ikhwany, HT, dan lain lain.

Sebagian mereka bangga menonjolkan jati dirinya dg berkata “ana salafy, ana ikhwany, ana nakhdy, ana tabligh, dan seterusnya, bangganya mereka dg nama-nama ini dan panggilan-panggilan ini, yg demikian inilah yang disebut DA’WAL JAHILIYAH atau panggilan jahiliyah, siapapun dari mereka tidak akan selamat selama masih suka dan ridho dg panggilan panggilan itu.

Karena itu maka berlepas diri dari semua kelompok-kelompok yang ada dg cara beruzlah adalah satu-satunya cara menghindarinya.
wallahul musta’an.

SYIRIK BESAR bagian 7

Bismillah
Assalamualaikum

SYIRIK BESAR bagian 7
ITTIBA’ YG SALAH TEMPAT

Mengikut dan diikuti sesungguhnya sudah menjadi tradisi manusia sejak dahulu, ditengah masyarakat manusia selalu saja ada orang yg tersohor dan diikuti banyak orang, tersohor karena kekayaan, kekuasaan, kepandaian, atau yg lainnya.

Dewasa ini bermunculan figur figur, bintang dan tokoh yg digandrungi banyak orang tak terkecuali dalam hal agama.

Mereka adalah para ustadz figuran yg memiliki cukup banyak pengikut setia, para pengikut ini senantiasa menantikan fatwa fatwa dan arahan mereka untuk didengar, ditaati dan diamalkan.

Kadang diantara para asatidz figuran itu terjadi perbedaan pandangan dalam satu atau beberapa permasalahan lalu terjadilah saling tahdzir dan saling menjatuhkan diantara mereka, para pengikut dan audiens mereka pun ikut ikutan membela mati matian sang ustadz idola dg penuh semangat jjihad hingga rela mati, dia mungkin juga akan nyinyir kepada lawan kubunya dg mengeluarkan tudingan dan kata kata yg tentu hisabnya amat berat, na’udzu billah.

Dalam Alquran Allah subhanahu wata’ala memberikan tuntunan siapa sesungguhnya yg pantas diikuti, Allah Subhanahu Wata’ala berfirman, Yāsin : 21

اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Artinya hendaknya kamu memperhatikan orang orang yg di ikuti itu, jangan sampai kamu menyesal dikemudian hari karena salah mengikut orang yg tdk berada diatas petunjuk Allah subhanahu wata’ala. Karena mengikut pada orang yg salah bisa menjerumuskan pelakunya pada syirik besar yaitu menjadikan bagi Allah tandingan, hal ini sebagaimana dijelaskan Allah subhanahu wata’ala dalam ayat berikut Al-Baqarah : 165-167

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ
وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا ۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ ۖ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cinta mereka kepada Allah. Sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu melihat, ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat), bahwa kekuatan itu semuanya milik Allah dan bahwa Allah sangat keras azab-Nya, (niscaya mereka menyesal).

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti berlepas tangan dari orang-orang yang mengikuti saat mereka (orang-orang yang diikuti) melihat azab, dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus.

Orang-orang yang mengikuti berkata, “Andaikan saja kami mendapat kesempatan kembali (ke dunia), tentu kami akan berlepas tangan dari mereka sebagaimana mereka berlepas tangan dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatan mereka sebagai penyesalan bagi mereka. Mereka sungguh tidak akan keluar dari neraka. (Al-Baqarah : 165-167)

Demikianlah diterangkan oleh Allah subhanahu wata’ala derita sang idola bersama pengikut, audiens dan penggemarnya, mereka semua bertemu dalam neraka sambil berbantahan dan saling menyesali satu sama lain.

Karena itulah wahai kaum muslimin perhatikanlah peringatan Allah subhanahu wata’ala yg satu ini dg baik mumpung nyawa masih dibadan.

Hendaknya difahami bahwa sesungguhnya yang direkomendasikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk diikuti dalam yasin 21 diatas hanya almuhtadun (orang yg diberikan petunjuk oleh Allah Subhanahu Wata’ala) dan mereka disebutkan sebagai almursalun (para Rasul) sebagaimana pada ayat sebelumnya.

Lebih lengkapnya ayat tersebut berbunyi Yāsin : 20-21

وَجَاءَ مِنْ أَقْصَى الْمَدِينَةِ رَجُلٌ يَسْعَىٰ قَالَ يَا قَوْمِ اتَّبِعُوا الْمُرْسَلِينَ
اتَّبِعُوا مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Datanglah dengan bergegas dari ujung kota, seorang laki-laki. Dia berkata, “Wahai kaumku, ikutilah para rasul itu!
Ikutilah orang yang tidak meminta imbalan (dalam berdakwah) kepadamu. Sedang mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Yasin 20-21)

Maka orang orang yg ditunjuki atau almuhtadun atau almahdy sesungguhnya adalah rasul rasul Allah Subhanahu Wata’ala, dan diantara mereka ada yg diutus setelah zaman kenabian, bukan sebagai nabi melainkan sebagai KHALIFAH.

Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Nabi Shollallahu alaihi wassalam “sesungguhnya bani Israil dipimpin oleh nabi nabi tiap mati seorang nabi Allah bangkitkan penggantinya, sedangkan aku tak ada lagi nabi setelah aku, yg ada hanya khalifah dan akan banyak jumlahnya” (muttafaq alaihi)

Ketaatan dan kepatuhan disertai loyalitas, cinta dan pengorbanan dalam aturan Islam sesungguhnya diberikan kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Rasul Shollallahu alaihi wassalam, dan ulil amri, sebagaimana firman Allah Subhanahu Wata’ala 4.An-Nisā : 59

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulul amri (pemegang kekuasaan) yg dari kalangan kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah dan Rasul jika kamu beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat).

Pemimpin yg dari kalangan kamu dalam ayat ini maksudnya adalah khalifah sebagaimana penegasan Nabi Shollallahu alaihi wasallam “wajib bagi kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah khulafa’ rasyidin mahdiyyin sepeninggalku, gigitlah dg gigi geraham” (Abu Daud 3991).

Wallahul musta’an.

Syirik besar bagian 6

Bismillah
Assalamualaikum

FANATISME YG SALAH TEMPAT

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman Gafir : 69-76

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ أَنَّىٰ يُصْرَفُونَ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِالْكِتَابِ وَبِمَا أَرْسَلْنَا بِهِ رُسُلَنَا ۖ فَسَوْفَ يَعْلَمُونَ إِذِ الْأَغْلَالُ فِي أَعْنَاقِهِمْ وَالسَّلَاسِلُ يُسْحَبُونَ فِي الْحَمِيمِ ثُمَّ فِي النَّارِ يُسْجَرُونَ
ثُمَّ قِيلَ لَهُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ تُشْرِكُونَ
مِنْ دُونِ اللَّهِ ۖ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا بَلْ لَمْ نَكُنْ نَدْعُو مِنْ قَبْلُ شَيْئًا ۚ كَذَٰلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ الْكَافِرِينَ
ذَٰلِكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَفْرَحُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَمْرَحُونَ ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا ۖ فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang (selalu) membantah ayat-ayat Allah, bagaimana mereka dapat dipalingkan?

(Mereka adalah) orang-orang yang mendustakan Kitab (Al-Qur’an) dan wahyu yang dengannya para rasul Kami utus. Kelak mereka akan mengetahui ketika belenggu dan rantai (dipasang) di leher mereka, seraya mereka diseret ke dalam air yang sangat panas. Mereka kemudian dibakar ke dalam api.

Lalu, dikatakan kepada mereka, “Manakah berhala-berhala yang selalu kamu persekutukan selain Allah?” Mereka menjawab, “Mereka telah lenyap dari (hadapan) kami. Sebenarnya kami dahulu tidak pernah menyembah sesuatu pun.” Demikianlah Allah membiarkan orang-orang kafir menjadi sesat.

(dikatakan pada mereka), “hal itu disebabkan oleh apa yang kalian banggakan secara tidak benar (fanatik yang salah tempat) dan apa (kebenaran) yang kalian lecehkan, masuklah ke pintu-pintu (neraka) Jahanam dan kamu kekal di dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat bagi orang-orang yang sombong.” (ghofir 69-76)

Membanggakan apa yang ada pada dirinya diiringi dengan kecintaan dan pembelaan terhadapnya, inilah yang disebut dengan fanatisme. Fanatisme adalah satu sikap dan prilaku yang fenomenal sebab ia ada dan dimiliki oleh setiap insan manusia, sehingga wajar bila sikap dan perilaku ini kadang menghiasi kala terjadi benturan dan persinggungan baik antar peribadi maupun kelompok.

Fanatisme adalah suatu sikap dan perilaku yang terpuji kala ditempatkan pada tempat yang benar, yaitu kepada Allah Subhanahu Wata’ala, rasulNya dan agamaNya, namun ia menjadi jelek dan tercela kala ditempatkan pada tempat yang salah.

Lihat misalnya kisah perjuangan para nabi dan rasul dimasa lampau, bagaimana besar dan beratnya derita-derita yang harus mereka tanggung karena berbenturan dengan sikap dan perilaku fanatisme yang ada pada kaumnya, fanatik terhadap ajaran nenek moyang menjadikan mereka begitu pongah terhadap kebenaran yang dibawa oleh para rasul, tak jarang nabi dan rasul-rasul Allah harus menjadi bulan-bulanan massa, atau lari dan bersembunyi untuk menyelamatkan diri.

Kaum Yahudi dan Nasrani dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam termasuk dalam deretan para penentang yang sangat getol, padahal mereka telah mengetahui dengan pasti kebenaran yang dibawa. Namun mereka lebih memilih jadi lawan dan penentang kebenaran, penyebabnya tiada lain hanyalah fanatisme yang merasuki relung hati mereka.

Abdullah bin Ubay bin salul dizaman Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam, dan Abdullah bin Saba’ dizaman para sahabat, mereka berdua lebih memilih jadi oposisi yang selalu menyuarakan pikiran, sikap dan pandangan yang berseberangan ketimbang menjadi pengikut setia yang selalu mendengar dan taat, perbuatan merekapun tidak lepas dari fanatisme yang ekstrem.

Sekarang inipun kita dengan mudah dapat melihat dan menyaksikan adegan dan berbagai peristiwa tragis yang dimotori oleh fanatisme ekstrem ini, tawuran antar pelajar, antar kampung dan gang, adalah bagian darinya, belum lagi berbagai peristiwa tragis yang diiringi penyerangan dan pembantaian yang konon dipicu oleh fanatisme suku, agama dan ras.

Tawuran antar pengikut partai politik atau tawuran antar maniak sepak bola dalam membela klub masing-masing, atau yang lainnya, semuanya merupakan adegan yang tidak lepas dari fanatisme.

Termasuk dalam Hal ini yaitu perpecahan dikalangan kaum muslimin dimana setiap kelompok merasa paling benar sehingga sulit menerima nasehat dari yg diluar kelompokmya.

Karena itu wajar bila pada kasus fanatisme extreme seperti ini Allah Subhanahu Wata’ala mensifati orang-orang yang terjangkit penyakit ini dengan “mereka itu tuli, bisu dan buta maka mereka tak dapat kembali” (albaqorah 18).

Fanatisme inilah yang dengan izin Allah menjadikan mereka tuli bisu dan buta, senyata apapun kebenaran dihadapannya mereka tak mampu melihat, mendengar, apalagi untuk menyatakannya sebagai perinsip yang dipegangi.

Lalu apakah orang yang terjangkit penyakit ini masih ada harapan untuk bertaubat..?. Inilah penyakit fanatisme yang salah tempat yang sepatutnya kita berlindung kepada Allah Subhanahu Wata’ala dari dijangkiti penyakit ini, wallahul musta’an.